China-AS Baikan Soal Tarif, Perusahaan Logam Tanah Jarang Minta Kepastian

Sabtu, 17 Mei 2025 - 13:01 WIB
loading...
China-AS Baikan Soal...
Eksportir rare-earth atau logam tanah jarang China meminta pemerintah untuk memberikan kejelasan, apakah mereka diizinkan untuk menjual mineral langka ini ke Amerika Serikat (AS). Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Eksportir rare-earth atau logam tanah jarang China meminta pemerintah untuk memberikan kejelasan, apakah mereka diizinkan untuk menjual mineral langka tersebut ke Amerika Serikat (AS). Tuntutan ini terungkap setelah Beijing dan Washington mengumumkan gencatan senjata dalam perang dagang .

Selain pemotongan tarif yang dramatis oleh kedua negara, China mengatakan akan menangguhkan atau membatalkan langkah-langkah kontra tarif yang diterapkan pada AS sejak 2 April. Contohnya larangan ekspor tujuh bahan baku mineral langka tanah jarang per 4 April, lalu.

Baca Juga: China Jago Lobi Trump, Apa Peran Harta Karun Tanah Jarang di Baliknya?

Secara keseluruhan terdapat 17 unsur rare-earth yang sangat penting bagi industri manufaktur, khususnnya teknologi tinggi dan pertahanan. Disebutkan menghapus pembatasan tanah jarang menjadi prioritas bagi negosiator AS.

Namun tidak ada pihak yang secara eksplisit menyatakan bahwa pembatasan ekspor bahan baku langka tersebut telah dicabut. Salah satu kemungkinan penjelasannya adalah bahwa pembatasan tersebut berlaku untuk ekspor kepada semua negara -yang ingin dipertahankan oleh China- dan sebaliknya berniat mempermudah perizinan bagi pembeli AS.

Kondisi ini membuat para eksportir menunggu arahan kementerian perdagangan, menurut orang-orang yang akrab dengan masalah tersebut, yang menolak untuk disebutkan namanya dalam membahas isu sensitif ini.

Langkah-langkah yang disepakati dalam ketentuan de-eskalasi 90 hari tarif seharusnya mulai berlaku dari hari Rabu. Pernyataan terpisah dari pemerintah berjanji untuk menindak penyelundupan mineral kritis, termasuk tanah jarang.

Hal ini dianggap sebagai sinyal bahwa Beijing berniat untuk mempertahankan kontrol ekspornya, kata salah satu sumber terkait. Sebuah akun yang terkait dengan televisi China juga memposting di media sosial bahwa kontrol tersebut akan tetap berlaku.

Kementerian perdagangan tidak segera menanggapi faks yang meminta komentar terkait hal itu seperti dilansir Bloomberg. "Di bawah kesepakatan 12 Mei, era lisensi ini kemungkinan akan tetap berlaku, tetapi Beijing kemungkinan akan mempercepat waktu aplikasi dan mengurangi tingkat penolakan lisensi," menurut catatan dari Stratfor.

Perintah mengatur pasokan unsur tanah jarang hanyalah langkah terbaru dari Beijing untuk membatasi pasokan bahan strategis yang didominasi Negeri Tirai Bambu. Baca Juga: AS Menemukan Cara Mengalahkan China dalam Dominasi Logam Tanah Jarang

Larangan total Pemerintah menggunakan kombinasi pembatasan ekspor dan larangan total selama dua tahun terakhir terhadap kategori mineral kritis, yang aplikasinya mencakup berbagai industri, mulai dari laser dan radar hingga magnet, perangkat medis, dan amunisi. Selain itu ekspor bahan termasuk germanium, gallium, dan antimon ke AS dihentikan pada bulan Desember, dan larangan tersebut tetap berlaku.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Menkeu Purbaya: Panda...
Menkeu Purbaya: Panda Bond Indonesia Dapat Dukungan Penuh Bank Sentral China
Lanjutkan Dedolarisasi,...
Lanjutkan Dedolarisasi, China dan Indonesia Buang Dolar Rp229,6 Triliun dalam 4 Bulan
Tantang Dominasi Dolar...
Tantang Dominasi Dolar AS, China Perluas Penggunaan Yuan secara Global
Terbitkan Panda Bond,...
Terbitkan Panda Bond, Menkeu Purbaya Kantongi Dukungan China
Indonesia Raih Komitmen...
Indonesia Raih Komitmen Pendanaan AIIB USD17 Miliar, Bukti Kepercayaan pada Fiskal RI
Maskapai China Spring...
Maskapai China Spring Airlines Resmi Mengudara di Indonesia, Buka Rute Seminggu 3 Kali
AS Berencana Bangun...
AS Berencana Bangun Persediaan Senjata Siap Tempur di Australia
Taiwan, Identitas, dan...
Taiwan, Identitas, dan Politik Pengakuan: Membaca Ulang Perdebatan Lintas Selat
China Tangkap 2 Pemimpin...
China Tangkap 2 Pemimpin Gereja Bawah Tanah yang Berpengaruh, Apa Pemicunya?
Rekomendasi
TMCR 2026 Ajak Warga...
TMCR 2026 Ajak Warga Jelajahi Jakarta Jelang Usia 500 Tahun
Davina Karamoy Dicecar...
Davina Karamoy Dicecar 30 Pertanyaan Terkait Kasus Hanania Travel
75 Gol dalam 24 Laga,...
75 Gol dalam 24 Laga, Piala Dunia 2026 Penuh Drama
Berita Terkini
Menkeu Purbaya: Panda...
Menkeu Purbaya: Panda Bond Indonesia Dapat Dukungan Penuh Bank Sentral China
Cetak Sejarah, Hanasui...
Cetak Sejarah, Hanasui Jadi Serum Indonesia Pertama yang Diekspor ke Jepang
Lanjutkan Dedolarisasi,...
Lanjutkan Dedolarisasi, China dan Indonesia Buang Dolar Rp229,6 Triliun dalam 4 Bulan
OJK Rilis Daftar Direksi...
OJK Rilis Daftar Direksi BEI Baru, Ada 7 Direktur Terpilih
APKB Dorong Penyempurnaan...
APKB Dorong Penyempurnaan Regulasi Kawasan Berikat: Menjaga Daya Saing Industri dan Investasi
PLN EPI Tuntaskan Hot...
PLN EPI Tuntaskan Hot Tap WNTS-Pemping, Gas Natuna Siap Mengalir ke Dalam Negeri
Infografis
J-36 China Diklaim Bisa...
J-36 China Diklaim Bisa Pecundangi Pesawat Pengebom B-21 AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved