China Cabut Larangan Ekspor Mineral Langka kepada 28 Perusahaan AS

Senin, 19 Mei 2025 - 22:45 WIB
loading...
China Cabut Larangan...
China untuk sementara telah menghentikan larangan ekspor mineral langka logam tanah jarang kepada 28 perusahaan Amerika Serikat (AS). Foto/Dok
A A A
JAKARTA - China untuk sementara telah menghentikan larangan ekspor mineral langka logam tanah jarang kepada 28 perusahaan Amerika Serikat (AS) . Menurut laporan Bloomberh, kebijakan ini menjadi bagian pelonggaran hambatan perdagangan dengan AS.

Hal ini menandai peluang meredanya perang dagang antara kedua raksasa ekonomi dunia. Kementerian Perdagangan China mengumumkan penghentian sementara selama 90 hari terhadap pembatasan ekspor mineral kritis yang awalnya ditetapkan pada 4 April dan 9 April, yang menargetkan ekspor barang penggunaan ganda kepada entitas-entitas AS tertentu.

China menambahkan 16 entitas AS ke dalam daftar pengawasan ekspornya pada tanggal 4 April, yang kemudian diperluas menjadi 12 perusahaan lagi pada tanggal 9 April. Baca Juga: 5 Negara Penguasa Harta Karun Logam Tanah Jarang di Dunia

Kontrol ekspor tersebut diterapkan pada beberapa unsur logam tanah jarang menengah dan berat termasuk disprosium, gadolinium, lutetium, samarium, skandium, terbidium dan yttrium, yang sangat penting untuk berbagai industri termasuk pertahanan dan teknologi.

Meskipun pernyataan terbaru kementerian tidak merinci komoditas apa saja yang dapat keringanan. Namun dipahami bahwa tujuh kategori unsur tanah jarang, yang sebelumnya diidentifikasi sebagai penggunaan ganda, kini terbuka untuk ekspor berlisensi.

Penangguhan ini sejalan dengan perjanjian bilateral terbaru antara China dan AS untuk mengurangi tarif sementara pada produk masing-masing negara. Langkah besar pertama dalam sejarah panjang perang dagang AS-China disambut baik oleh Presiden AS Donald Trump.

Penundaan selama 90 hari memungkinkan pengeskpor barang dengan aplikasi militer potensial untuk meminta lisensi ekspor dari Kementerian Perdagangan. Dalam langkah terkait, Kementerian Perdagangan juga mencabut larangan perdagangan dan investasi pada 17 perusahaan AS, yang lebih lanjut menandakan mencairnya perang dagang yang telah mempengaruhi stabilitas ekonomi global dalam beberapa tahun terakhir.

Perang tarif sebelumnya diperparah setelah Presiden Donald Trump di masa jabatan keduanya, memberlakukan tarif tinggi terhadap hampir semua mitra dagang AS, tidak terkecuali dengan China. Namun belakangan, Trump melunak usai membuka negosiasi tarif.

Perusahaan China Teriak Minta Kepastian

Sebelumnya eksportir rare-earth atau logam tanah jarang China meminta pemerintah untuk memberikan kejelasan, apakah mereka diizinkan untuk menjual mineral langka tersebut ke AS. Tuntutan ini terungkap setelah Beijing dan Washington mengumumkan gencatan senjata dalam perang dagang .

Selain pemotongan tarif yang dramatis oleh kedua negara, China mengatakan akan menangguhkan atau membatalkan langkah-langkah kontra tarif yang diterapkan pada AS sejak 2 April. Contohnya larangan ekspor tujuh bahan baku mineral langka tanah jarang per 4 April, lalu.

Baca Juga: AS Menemukan Cara Mengalahkan China dalam Dominasi Logam Tanah Jarang

Secara keseluruhan terdapat 17 unsur rare-earth yang sangat penting bagi industri manufaktur, khususnya teknologi tinggi dan pertahanan. Disebutkan menghapus pembatasan tanah jarang menjadi prioritas bagi negosiator AS. Namun tidak ada pihak yang secara eksplisit menyatakan bahwa pembatasan ekspor bahan baku langka tersebut telah dicabut.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Perkuat Rupiah, BI dan...
Perkuat Rupiah, BI dan Bank Sentral China Perdalam Penguatan Transaksi Tanpa Dolar AS
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan...
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan China, Ekspor Minyak Iran Merosot 80%
Krisis Energi Global,...
Krisis Energi Global, China dan Saudi Aramco Gelar Pertemuan Darurat
Bank Sentral China Borong...
Bank Sentral China Borong Emas 19 Bulan Berturut-turut, Ada Apa?
Energi Menjadi Medan...
Energi Menjadi Medan Perang AS-China di Abad Ini
10 Negara Produsen Pertanian...
10 Negara Produsen Pertanian Terbesar di Dunia, Indonesia Urutan Berapa?
Militerisasi Jepang...
Militerisasi Jepang dan Bahaya Radiasi Radio Aktif
Tiru Israel, Taiwan...
Tiru Israel, Taiwan Gunakan AI untuk Rekrut Informan dan Whistleblower China
Beijing: Asing Mata-matai...
Beijing: Asing Mata-matai China, Gunakan Kura-kura dan Ikan yang Dipasang Sensor
Rekomendasi
Ratusan Kepsek di Sulsel...
Ratusan Kepsek di Sulsel Mundur Buntut Temuan BPK Terkait Dana BOS, DPR Dorong Evaluasi
Ini Gaun Emas Termahal...
Ini Gaun Emas Termahal di Dunia! Beratnya 10 Kg, Harganya Rp24 Miliar
PKB Jabar Fest, Gus...
PKB Jabar Fest, Gus Muhaimin: Kita Tak Butuh Pemimpin Pencitraan
Berita Terkini
Siap-siap! Harga Rumah...
Siap-siap! Harga Rumah Subsidi Bakal Naik, Ini Penyebabnya
Dorong Penguatan Pendidikan...
Dorong Penguatan Pendidikan Vokasi Ganda, Endress+Hauser Gelar Education Forum 2026
IHSG Besok Berpeluang...
IHSG Besok Berpeluang Lanjut Reli ke Level 6.100, Intip Faktor Pendongkraknya
Sambut Libur Sekolah,...
Sambut Libur Sekolah, ASDP Perkuat Layanan dan Keselamatan Penyeberangan
Mengulik Alasan di Balik...
Mengulik Alasan di Balik Kenaikan Harga Pertamax: Demi Jaga Investor dan Keuangan
Tren Paylater Makin...
Tren Paylater Makin Menjangkit, Literasi Keuangan Dinilai Jadi Faktor Penting
Infografis
Elon Musk: Drone Murah...
Elon Musk: Drone Murah China Bisa Hancurkan Jet Tempur F-35 AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved