Langkah BI Jaga Inflasi melalui GNPIP dan Kelompok Tani
Selasa, 03 Juni 2025 - 09:41 WIB
loading...
A
A
A
Ketua KTT Mekar Nadi Sari, I Nyoman Sudiyasa mengatakan, keterlibatan Bank Indonesia telah berhasil membawa kelompok tani yang diketuainya tersebut menapaki era pertanian modern berbasis Internet of Things (IoT). Salah satunya, yakni inisiatif penyiraman tanaman menggunakan aplikasi. Tak hanya menghemat tenaga, sistem ini mampu memangkas waktu penyiraman secara masif.
“Sebelumnya semua penyiraman dilakukan secara manual, sekarang dioperasikan pakai aplikasi. Setelah ada (smart farming) ini, kita cuma pegang HP saja, tanaman sudah bisa teraliri air sangat cepat, dari yang tadinya memakan waktu 40 menit per 10 are, sekarang jadi 5 menit saja. Ini sangat memudahkan kami,” ujarnya.
Selain itu, Bank Indonesia juga membantu pembuatan Rumah Semai, yakni green house yang membantu KTT Mekar Nadi Sari untuk memproduksi bibit sendiri. Inisiatif ini merupakan solusi atas kebutuhan petani terhadap bibit yang selama ini dibeli dari luar wilayah mereka, tetapi terkendala oleh jarak, serta perbedaan cuaca yang menyulitkan bibit untuk bisa beradaptasi, sehingga memiliki risiko kegagalan yang tinggi.
“Rumah Semai dibuat harapannya supaya petani bisa mandiri bibit. Kalau kami sudah bisa produksi sendiri, bibit bisa langsung beradaptasi dan tidak stres. Di sini udara dingin, kalau (bibit) dibeli di daerah panas, ketika dibawa ke sini stres dan perlu adaptasi. Setelah ada Rumah Semai, kini tingkat keberhasilan tinggi sampai 95 persen, sebab cuaca dan situasi sudah mendukung,” tutur Nyoman Sudiyasa.
Deputi Kepala Perwakilan BI Bali Butet Linda H Panjaitan mengatakan, berbagai upaya yang dilakukan tersebut saat ini sudah membuahkan hasil, yakni inflasi terkendali dalam koridor yang ditetapkan pemerintah, yakni 2,30 persen YoY untuk Provinsi Bali, dan 2,06 persen YoY untuk wilayah Balinusra.
“Kami bersinergi dengan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dalam gerakan GNPIP ini, karena Bank Indonesia tentu tidak bisa berjalan sendiri. Kami bekerja sama dengan dinas-dinas terkait agar seluruh kebijakan pemerintah daerah bisa saling diselaraskan dengan kondisi di lapangan, termasuk dalam pemberian insentif dan kemudahan kepada para petani,” tuturnya.
“Sebelumnya semua penyiraman dilakukan secara manual, sekarang dioperasikan pakai aplikasi. Setelah ada (smart farming) ini, kita cuma pegang HP saja, tanaman sudah bisa teraliri air sangat cepat, dari yang tadinya memakan waktu 40 menit per 10 are, sekarang jadi 5 menit saja. Ini sangat memudahkan kami,” ujarnya.
Selain itu, Bank Indonesia juga membantu pembuatan Rumah Semai, yakni green house yang membantu KTT Mekar Nadi Sari untuk memproduksi bibit sendiri. Inisiatif ini merupakan solusi atas kebutuhan petani terhadap bibit yang selama ini dibeli dari luar wilayah mereka, tetapi terkendala oleh jarak, serta perbedaan cuaca yang menyulitkan bibit untuk bisa beradaptasi, sehingga memiliki risiko kegagalan yang tinggi.
“Rumah Semai dibuat harapannya supaya petani bisa mandiri bibit. Kalau kami sudah bisa produksi sendiri, bibit bisa langsung beradaptasi dan tidak stres. Di sini udara dingin, kalau (bibit) dibeli di daerah panas, ketika dibawa ke sini stres dan perlu adaptasi. Setelah ada Rumah Semai, kini tingkat keberhasilan tinggi sampai 95 persen, sebab cuaca dan situasi sudah mendukung,” tutur Nyoman Sudiyasa.
Deputi Kepala Perwakilan BI Bali Butet Linda H Panjaitan mengatakan, berbagai upaya yang dilakukan tersebut saat ini sudah membuahkan hasil, yakni inflasi terkendali dalam koridor yang ditetapkan pemerintah, yakni 2,30 persen YoY untuk Provinsi Bali, dan 2,06 persen YoY untuk wilayah Balinusra.
“Kami bersinergi dengan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dalam gerakan GNPIP ini, karena Bank Indonesia tentu tidak bisa berjalan sendiri. Kami bekerja sama dengan dinas-dinas terkait agar seluruh kebijakan pemerintah daerah bisa saling diselaraskan dengan kondisi di lapangan, termasuk dalam pemberian insentif dan kemudahan kepada para petani,” tuturnya.
(unt)
Lihat Juga :