Buka Motif Mafia Pangan Manipulasi Data Stok Beras, Mentan Amran: Jangan Dizalimi Petani
Sabtu, 07 Juni 2025 - 17:53 WIB
loading...
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkap motif mafia pangan memanipulasi data stok beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC). Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkap motif mafia pangan memanipulasi data stok beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC). Menurutnya, manipulasi tersebut tidak lain dan tidak bukan agar dilakukan impor.
"Ini tidak boleh dibiarkan. Seandainya stok kita kurang, pasti jawabannya impor. Padahal stok kita cukup, tidak kurang. Akhirnya kalau kita impor, yang terpukul adalah petani," kata Mentan Amran dalam keterangan resminya, Sabtu (7/6/2026).
Mentan Amran menyoroti bahaya dari manipulasi data pangan yang berdampak langsung terhadap nasib petani dan stabilitas harga di pasaran. Ia menyebut petani bisa tidak semangat berproduksi dan akhirnya produksi menjadi lemah.
Baca Juga: Stok Beras di Pasar Induk Cipinang Rata-rata 49.960 Ton, Badan Pangan: Cukup Aman
“Kami minta jangan mempermainkan nasib petani dan konsumen. Sekarang beras kita banyak, tapi ada yang mencoba-coba memainkan data sehingga kelihatannya beras kita kurang pasokannya. Ternyata setelah diperiksa, itu benar,” jelasnya.
Lebih lanjut, Amran menekankan, pentingnya melindungi sektor pertanian demi ketahanan pangan nasional. Ia menyampaikan bahwa Presiden telah memberikan berbagai kemudahan untuk mendukung petani, mulai dari subsidi pupuk hingga penetapan harga yang menguntungkan.
“Jadi jangan dizalimi petani. Kalau negara mau kuat, ingat petani. Petani kita, baik pangan, perkebunan, maupun peternakan, jumlahnya mencapai 150 sampai 160 juta. Nah, kalau ini diperkuat, pasti Republik ini kuat,” tutup Mentan Amran.
Baca Juga: Pemerintah Buka Opsi Impor 1 Juta Ton Beras, Begini Alasannya
Hal ini bermula dari munculnya ketidakwajaran di balik keluarnya 11.410 ton beras dalam satu hari yaitu pada 28 Mei 2025 lalu. Padahal arus masuk dan keluar beras di PIBC cenderung stabil dan berimbang dengan rata-rata sirkulasi masuk-keluar beras sebesar 2.000-3.000 ton per hari.
“Masuk akal gak? Ini 11.000 keluar satu hari. Satgas pangan sudah turun, alasannya katanya salah hitung, koreksi, macam-macam alasannya,” kata Mentan Amran dalam konferensi pers yang digelar di kantor Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan pada Selasa (3/6).
Sekarang tidak ada lagi alasan. Dulu ada alasannya, kalau stok Bulog kurang, impor. Apa mau minta impor dengan kondisi kita stok 4 juta ton? Dikeluarkan SPHP, apa jawabannya tadi? Untuk di blending, untuk dicampur dengan beras lokal, baru dijual mahal,” lanjutnya.
"Ini tidak boleh dibiarkan. Seandainya stok kita kurang, pasti jawabannya impor. Padahal stok kita cukup, tidak kurang. Akhirnya kalau kita impor, yang terpukul adalah petani," kata Mentan Amran dalam keterangan resminya, Sabtu (7/6/2026).
Mentan Amran menyoroti bahaya dari manipulasi data pangan yang berdampak langsung terhadap nasib petani dan stabilitas harga di pasaran. Ia menyebut petani bisa tidak semangat berproduksi dan akhirnya produksi menjadi lemah.
Baca Juga: Stok Beras di Pasar Induk Cipinang Rata-rata 49.960 Ton, Badan Pangan: Cukup Aman
“Kami minta jangan mempermainkan nasib petani dan konsumen. Sekarang beras kita banyak, tapi ada yang mencoba-coba memainkan data sehingga kelihatannya beras kita kurang pasokannya. Ternyata setelah diperiksa, itu benar,” jelasnya.
Lebih lanjut, Amran menekankan, pentingnya melindungi sektor pertanian demi ketahanan pangan nasional. Ia menyampaikan bahwa Presiden telah memberikan berbagai kemudahan untuk mendukung petani, mulai dari subsidi pupuk hingga penetapan harga yang menguntungkan.
“Jadi jangan dizalimi petani. Kalau negara mau kuat, ingat petani. Petani kita, baik pangan, perkebunan, maupun peternakan, jumlahnya mencapai 150 sampai 160 juta. Nah, kalau ini diperkuat, pasti Republik ini kuat,” tutup Mentan Amran.
Mafia Pangan
Mentan sebelumnya menduga adanya mafia pangan dalam distribusi beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC). Menurutnya, kelangkaan pasokan beras yang terjadi di PIBC tidak masuk akal, mengingat stok beras pemerintah sendiri dalam jumlahnya melimpah.Baca Juga: Pemerintah Buka Opsi Impor 1 Juta Ton Beras, Begini Alasannya
Hal ini bermula dari munculnya ketidakwajaran di balik keluarnya 11.410 ton beras dalam satu hari yaitu pada 28 Mei 2025 lalu. Padahal arus masuk dan keluar beras di PIBC cenderung stabil dan berimbang dengan rata-rata sirkulasi masuk-keluar beras sebesar 2.000-3.000 ton per hari.
“Masuk akal gak? Ini 11.000 keluar satu hari. Satgas pangan sudah turun, alasannya katanya salah hitung, koreksi, macam-macam alasannya,” kata Mentan Amran dalam konferensi pers yang digelar di kantor Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan pada Selasa (3/6).
Sekarang tidak ada lagi alasan. Dulu ada alasannya, kalau stok Bulog kurang, impor. Apa mau minta impor dengan kondisi kita stok 4 juta ton? Dikeluarkan SPHP, apa jawabannya tadi? Untuk di blending, untuk dicampur dengan beras lokal, baru dijual mahal,” lanjutnya.
(akr)
Lihat Juga :