Rupiah Terseret Perang Israel-Iran dan Ancaman Tarif Trump
Jum'at, 13 Juni 2025 - 16:55 WIB
loading...
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada akhir perdagangan Jumat (13/6). FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada akhir perdagangan Jumat (13/6), turun 61 poin atau sekitar 0,38% ke level Rp16.303 per dolar AS.
Menurut pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, dolar AS tertekan kekhawatiran atas meningkatnya ketegangan di Timur Tengah secara tiba-tiba menyusul serangan Israel terhadap Iran yang memicu sentimen risk-off yang meluas.
"Selain itu, investor juga khawatir tentang tekanan tarif lebih lanjut setelah Presiden Donald Trump mengatakan bahwa ia akan segera menaikkan tarif otomotif,” tulis Ibrahim dalam risetnya, Jumat (13/6).
Baca Juga: Iran Balas Dendam, Lebih dari 100 Pesawat Nirawak Serang Israel
Israel mengatakan pada Jumat pagi bahwa mereka menyerang Iran, dan media Iran mengatakan ledakan terdengar di Teheran saat ketegangan meningkat atas upaya AS untuk memenangkan persetujuan Iran guna menghentikan produksi bahan untuk bom atom.
Sirene berbunyi di seluruh Israel di tengah keadaan darurat yang dinyatakan saat ledakan mengguncang Teheran, dan Iran mengaktifkan pertahanan udaranya, demikian laporan media. Serangan Israel terhadap Iran ditujukan untuk merusak infrastruktur nuklirnya, pabrik rudal balistiknya, dan banyak kemampuan militernya, kata Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Kamis menyebut serangan Israel terhadap Iran sebagai "tindakan sepihak" dan mengatakan Washington tidak terlibat sementara juga mendesak Teheran untuk tidak menargetkan kepentingan atau personel AS di wilayah tersebut.
Pembicaraan tarif Trump menambah suasana hati yang negatif Trump memperingatkan pada hari Kamis bahwa ia dapat segera menaikkan tarif otomotif, memicu kecemasan baru atas perdagangan hanya sehari setelah mengklaim bahwa kesepakatan perdagangan AS-Tiongkok telah "selesai."
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) memprakirakan kinerja penjualan eceran meningkat pada Mei 2025, sebagaimana tecermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) yang diprakirakan mencapai level 234,0 atau tumbuh 2,6 persen year on year (yoy).
Baca Juga: Perang Israel-Iran Pecah, Harga Minyak Mentah Mendidih Naik Tembus 5 Persen
BI mencatat, prakiraan IPR Mei 2025 tersebut meningkat apabila dibandingkan bulan sebelumnya, yakni April 2025 yang kontraksi 0,3 persen yoy. Peningkatan kinerja penjualan tersebut didorong oleh kelompok barang budaya dan rekreasi, makanan, minuman, dan tembakau, serta subkelompok sandang.
Secara bulanan, penjualan eceran pada Mei 2025 diprakirakan mencatat kontraksi sebesar 0,6 persen month to month (mtm), tidak sedalam kontraksi pada bulan sebelumnya. Beberapa kelompok yang mengalami peningkatan penjualan adalah kelompok perlengkapan rumah tangga lainnya tumbuh 5,5 persen mtm serta barang budaya dan rekreasi tumbuh 0,2 persen mtm, sejalan dengan peningkatan permintaan pada periode libur dalam rangka Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Waisak dan Kenaikan Yesus Kristus.
Sementara dari sisi harga, tekanan inflasi tiga dan enam bulan yang akan datang, yaitu pada Juli dan Oktober 2025 diprakirakan menurun. Hal ini tecermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Juli dan Oktober 2025 yang masing-masing tercatat sebesar 141,9 dan 144,5, lebih rendah dibandingkan dengan periode sebelumnya yang masing-masing tercatat sebesar 146,4 dan 153,1.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp16.300 - Rp16.350 per dolar AS.
Menurut pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, dolar AS tertekan kekhawatiran atas meningkatnya ketegangan di Timur Tengah secara tiba-tiba menyusul serangan Israel terhadap Iran yang memicu sentimen risk-off yang meluas.
"Selain itu, investor juga khawatir tentang tekanan tarif lebih lanjut setelah Presiden Donald Trump mengatakan bahwa ia akan segera menaikkan tarif otomotif,” tulis Ibrahim dalam risetnya, Jumat (13/6).
Baca Juga: Iran Balas Dendam, Lebih dari 100 Pesawat Nirawak Serang Israel
Israel mengatakan pada Jumat pagi bahwa mereka menyerang Iran, dan media Iran mengatakan ledakan terdengar di Teheran saat ketegangan meningkat atas upaya AS untuk memenangkan persetujuan Iran guna menghentikan produksi bahan untuk bom atom.
Sirene berbunyi di seluruh Israel di tengah keadaan darurat yang dinyatakan saat ledakan mengguncang Teheran, dan Iran mengaktifkan pertahanan udaranya, demikian laporan media. Serangan Israel terhadap Iran ditujukan untuk merusak infrastruktur nuklirnya, pabrik rudal balistiknya, dan banyak kemampuan militernya, kata Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Kamis menyebut serangan Israel terhadap Iran sebagai "tindakan sepihak" dan mengatakan Washington tidak terlibat sementara juga mendesak Teheran untuk tidak menargetkan kepentingan atau personel AS di wilayah tersebut.
Pembicaraan tarif Trump menambah suasana hati yang negatif Trump memperingatkan pada hari Kamis bahwa ia dapat segera menaikkan tarif otomotif, memicu kecemasan baru atas perdagangan hanya sehari setelah mengklaim bahwa kesepakatan perdagangan AS-Tiongkok telah "selesai."
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) memprakirakan kinerja penjualan eceran meningkat pada Mei 2025, sebagaimana tecermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) yang diprakirakan mencapai level 234,0 atau tumbuh 2,6 persen year on year (yoy).
Baca Juga: Perang Israel-Iran Pecah, Harga Minyak Mentah Mendidih Naik Tembus 5 Persen
BI mencatat, prakiraan IPR Mei 2025 tersebut meningkat apabila dibandingkan bulan sebelumnya, yakni April 2025 yang kontraksi 0,3 persen yoy. Peningkatan kinerja penjualan tersebut didorong oleh kelompok barang budaya dan rekreasi, makanan, minuman, dan tembakau, serta subkelompok sandang.
Secara bulanan, penjualan eceran pada Mei 2025 diprakirakan mencatat kontraksi sebesar 0,6 persen month to month (mtm), tidak sedalam kontraksi pada bulan sebelumnya. Beberapa kelompok yang mengalami peningkatan penjualan adalah kelompok perlengkapan rumah tangga lainnya tumbuh 5,5 persen mtm serta barang budaya dan rekreasi tumbuh 0,2 persen mtm, sejalan dengan peningkatan permintaan pada periode libur dalam rangka Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Waisak dan Kenaikan Yesus Kristus.
Sementara dari sisi harga, tekanan inflasi tiga dan enam bulan yang akan datang, yaitu pada Juli dan Oktober 2025 diprakirakan menurun. Hal ini tecermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Juli dan Oktober 2025 yang masing-masing tercatat sebesar 141,9 dan 144,5, lebih rendah dibandingkan dengan periode sebelumnya yang masing-masing tercatat sebesar 146,4 dan 153,1.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp16.300 - Rp16.350 per dolar AS.
(nng)
Lihat Juga :