AS Gabung Israel Serang Iran, Siap-siap Harga Minyak Mendidih Tembus USD100 per Barel

Minggu, 22 Juni 2025 - 11:48 WIB
loading...
AS Gabung Israel Serang...
Sebuah Suar Gas di Anjungan Produksi Minyak Terlihat di Samping Bendera Iran. FOTO/Reuters
A A A
JAKARTA - Amerika Serikat (AS) resmi melancarkan serangan terhadap tiga fasilitas nuklir utama milik Iran pada Minggu (22/6), yakni di Fordow, Natanz, dan Esfahan. Serangan ini mengakhiri spekulasi selama beberapa hari mengenai kemungkinan keterlibatan pemerintahan Donald Trump dalam konflik yang telah berlangsung selama 10 hari antara Israel dan Iran.

Langkah agresif ini diperkirakan akan kembali mengguncang pasar minyak dunia. Iran, yang menyumbang sepertiga dari total produksi minyak global dan merupakan anggota ketiga terbesar dalam Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC+), memiliki pengaruh besar terhadap dinamika harga minyak internasional.

Baca Juga: Breaking News: AS Resmi Serang Iran, Bombardir 3 Situs Nuklir

Sepanjang pekan lalu, harga minyak mentah Brent melonjak hingga 11 persen, sempat menyentuh USD 80 per barel, sebelum kembali mendingin seiring munculnya harapan gencatan senjata. Namun, dengan eskalasi terbaru ini, analis memperkirakan harga minyak berpotensi melambung lagi mulai awal pekan ini.

Pasar sempat teredam oleh ekspektasi bahwa lonjakan harga tidak akan bertahan lama, mengingat permintaan global yang belum sepenuhnya pulih dan pasokan minyak dari OPEC+ masih melimpah. Kartel minyak tersebut bahkan dijadwalkan akan kembali menggelar pertemuan pada 5 Juli untuk membahas rencana kenaikan produksi pada Agustus mendatang, setelah menaikkan pasokan 4,11 juta barel per hari pada Juni dan Juli.

"Banyak yang bergantung pada bagaimana Iran merespons dalam beberapa jam dan hari ke depan. Jika Iran bertindak sesuai ancaman mereka sebelumnya, bukan tidak mungkin harga minyak bisa menyentuh USD 100 per barel," ujar analis energi MST Marquee, Saul Kavonic, dikutip dari CNBC TV, Minggu (22/6).

Lonjakan harga minyak mentah menjadi ancaman serius bagi sektor industri di berbagai negara, termasuk India. Perusahaan pemasaran minyak seperti HPCL, BPCL, Indian Oil, serta industri cat, ban, dan penerbangan, yang sangat bergantung pada minyak mentah sebagai bahan baku diperkirakan akan terkena dampak langsung.

Menurut Santanu Sengupta dari Goldman Sachs, jika harga minyak mencapai USD 75 per barel, hal ini akan memberi tekanan besar pada ekonomi makro. Kenaikan harga sebesar USD 10 per barel disebut-sebut bisa menambah beban biaya hingga 30-40 basis poin.

Selain itu, beban fiskal India juga berisiko meningkat. Meski demikian, menurut Samiran Chakraborty, Kepala Ekonom India di Citi, dampaknya masih bisa dikelola. Ia menambahkan, dibandingkan Rusia, ekspor minyak Iran ke dunia masih tergolong kecil, sehingga India memiliki ruang untuk menyerap tekanan harga.

Baca Juga: AS Dilaporkan Gunakan 6 Bom Bunker Buster dan 30 Rudal Tomahawk Gempur 3 Situs Nuklir Iran

Di sisi lain, bila muncul sinyal deeskalasi atau penurunan ketegangan, harga minyak bisa kembali turun. Sejarah mencatat bahwa gangguan pasokan semacam ini biasanya tidak bertahan lama. Contohnya, serangan terhadap fasilitas Saudi Aramco di Abqaiq pada 2019 yang sempat memotong 7 persen pasokan minyak dunia, hanya berdampak sementara karena pasokan berhasil dipulihkan dalam waktu singkat.

"Ini situasi besar," kata John Kilduff, mitra di Again Capital. Ia memperkirakan munculnya premi risiko sebesar USD 8 per barel.

"Respons pasar saat ini adalah menaikkan harga. Namun, seberapa tinggi tergantung pada respons Iran, atau kemungkinan respons signifikan yang mungkin saja tidak terjadi."

(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Janji Manis Investasi...
Janji Manis Investasi Rp5.323 Triliun di Balik Kesepakatan Damai AS-Iran
Iran Tutup Lagi Selat...
Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, Harga Minyak Global Kembali Melonjak
Harga BBM Naik 37%,...
Harga BBM Naik 37%, Saatnya Percepat Adopsi Kendaraan Listrik
Tantang Dominasi Dolar...
Tantang Dominasi Dolar AS, China Perluas Penggunaan Yuan secara Global
Harga Minyak Dunia Anjlok,...
Harga Minyak Dunia Anjlok, Kapan Pertamax Ikut Turun?
AS-Iran Berdamai, Harga...
AS-Iran Berdamai, Harga Minyak Terjun Bebas ke Bawah USD80 per Barel
Iran dan AS Berdamai,...
Iran dan AS Berdamai, Upacara Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei Digelar selama 6 Hari
Iran Menang Banyak!...
Iran Menang Banyak! Sanksi Dicabut dan Diizinkan Ekspor Minyak
Iran dan AS Sepakati...
Iran dan AS Sepakati Peta Jalan untuk Mengakhiri Perang
Rekomendasi
Megawati Gelar Silaturahmi...
Megawati Gelar Silaturahmi dengan Tokoh Gerakan Nurani Bangsa, Ada Istri Gus Dur hingga Romo Magnis
Argentina di Ambang...
Argentina di Ambang Lolos ke Fase Gugur Piala Dunia 2026
Prabowo Teken UU Polri,...
Prabowo Teken UU Polri, Atur Jabatan Sipil, Usia Pensiun, hingga Rekrutmen Disabilitas
Berita Terkini
Tips MotionTrade: Modus...
Tips MotionTrade: Modus Penipuan Berkedok Customer Service, Investor Wajib Waspada!
IHSG Hari Ini Berakhir...
IHSG Hari Ini Berakhir Ambles ke 6.116, Transaksi Cetak Rp13,4 Triliun
Penerbangan Umrah Dipindah...
Penerbangan Umrah Dipindah Mulai 1 Juli 2026, Terpusat di Terminal 2F Bandara Soetta
Purbaya Pede Harga BBM...
Purbaya Pede Harga BBM Pertamax Bakal Turun Efek Damai AS-Iran
Dipanggil Prabowo Gara-gara...
Dipanggil Prabowo Gara-gara Mati Lampu, Dirut PLN: Kami Mohon Doa
2 Pembangkit Besar Jadi...
2 Pembangkit Besar Jadi Penyebab Pemadaman Listrik di Jawa, Dirut PLN: Satu Berhasil Pulih
Infografis
6 Strategi Iran Memperpanjang...
6 Strategi Iran Memperpanjang Durasi Perang dengan AS dan Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved