Trump Ancam Tambah Tarif 10% ke Negara Sekutu BRICS, Berlaku Mulai 9 Juli

Senin, 07 Juli 2025 - 15:55 WIB
loading...
Trump Ancam Tambah Tarif...
Para pemimpin mengambil bagian dalam sesi foto untuk KTT BRICS 2025 di Rio de Janeiro, Brasil, pada 6 Juli 2025. FOTO/Kyodo News
A A A
JAKARTA - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan memberlakukan tarif tambahan sebesar 10% terhadap negara-negara yang dinilai mendukung kebijakan anti-Amerika dari kelompok BRICS. Kebijakan tersebut akan mulai diberlakukan pada 9 Juli 2025, menjelang berakhirnya masa jeda tarif selama 90 hari.

Dalam unggahan di platform Truth Social, Minggu (7/7), Trump menegaskan bahwa surat pemberitahuan tarif akan mulai dikirim kepada puluhan negara pada Senin (8/7) pukul 12.00 siang waktu Washington. Ia menyebut tidak akan ada pengecualian bagi negara yang dianggap bersekutu dengan kebijakan BRICS.

Baca Juga: Trump Ancam Mitra BRICS karena Anti-Amerika, Indonesia Jadi Target?

Kelompok BRICS, yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan, telah berkembang dengan bergabungnya negara-negara seperti Iran, Mesir, Indonesia, dan Uni Emirat Arab (UEA). Dalam KTT terbaru yang digelar di Brasil, BRICS menyerukan pembentukan sistem ekonomi dunia yang lebih multipolar serta mengkritik kebijakan tarif dan proteksionisme AS.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengungkapkan bahwa tarif bisa mencapai hingga 70 persen bagi negara-negara yang tidak menjalin kesepakatan dengan AS. Meski demikian, ia memastikan mitra dagang utama kemungkinan tidak akan terkena tarif setinggi itu.

Trump menyebut sekitar 12 hingga 15 negara akan menerima surat resmi pada awal pekan ini, dan beberapa kesepakatan dagang telah dicapai sebelumnya. Ia menambahkan bahwa pemerintah AS menargetkan penyelesaian negosiasi dengan sebagian besar negara paling lambat 9 Juli.

Menteri Perdagangan AS, Howard Lutnick, menyatakan bahwa tarif baru akan mulai diberlakukan efektif pada 1 Agustus. Ia juga menegaskan bahwa pemerintah saat ini sedang aktif melakukan pembicaraan bilateral dengan berbagai negara.

Sejauh ini, hanya tiga kesepakatan dagang yang diumumkan secara publik, yakni dengan Inggris yang tetap mempertahankan tarif 10 %, dengan China yang menurunkan tarif dari 145% menjadi 30%, serta Vietnam yang disepakati dikenakan tarif minimum 20%.

Bessent memastikan bahwa surat-surat yang dikirim pekan ini akan memuat besaran tarif akhir yang akan dikenakan kepada masing-masing negara. Ia menyebut banyak negara belum merespons undangan negosiasi dari pemerintah AS.

Ketegangan ini semakin memperuncing hubungan AS dengan BRICS, yang dalam deklarasi terakhirnya mendukung inisiatif sistem pembayaran lintas batas antaranggota dan mengutuk serangan terhadap infrastruktur sipil serta fasilitas nuklir damai di Iran.

Baca Juga: Uang Kertas BRICS Pecahan 200 Beredar Luas, Simbol atau Realita Ekonomi Baru?

China menanggapi kebijakan AS tersebut dengan kecaman. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menyebut bahwa perang tarif hanya akan merugikan semua pihak dan bertentangan dengan semangat kerja sama internasional.

Ekonom senior AS, Larry Summers, memperingatkan bahwa tarif tinggi dapat memicu lonjakan inflasi. Namun, Gedung Putih menegaskan bahwa pendapatan dari tarif justru meningkat dan penciptaan lapangan kerja tetap tumbuh di bawah kepemimpinan Trump.

Ancaman Trump untuk mengenakan tarif tambahan juga terkait rencana BRICS membentuk mata uang bersama. Awal tahun ini, Trump mengisyaratkan tarif hingga 100% bagi negara yang mendukung gagasan tersebut, meski belum menjadi agenda resmi BRICS.

(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Menkeu Purbaya di Nankai...
Menkeu Purbaya di Nankai University: Mesin Ekonomi Indonesia Melaju Kencang, Fiskal Sehat dan Tangguh
Lanjutkan Dedolarisasi,...
Lanjutkan Dedolarisasi, China dan Indonesia Buang Dolar Rp229,6 Triliun dalam 4 Bulan
Tantang Dominasi Dolar...
Tantang Dominasi Dolar AS, China Perluas Penggunaan Yuan secara Global
Terbitkan Panda Bond,...
Terbitkan Panda Bond, Menkeu Purbaya Kantongi Dukungan China
Indonesia Raih Komitmen...
Indonesia Raih Komitmen Pendanaan AIIB USD17 Miliar, Bukti Kepercayaan pada Fiskal RI
Utang Pemerintah Bengkak...
Utang Pemerintah Bengkak saat Swasta Lesu, Alarm bagi Fiskal Negara
Demi Wujudkan Perdamaian...
Demi Wujudkan Perdamaian dengan Iran, AS Terus Tekan Israel
Wabah Flu Serang Pangkalan...
Wabah Flu Serang Pangkalan AS, 159 Tentara Jatuh Sakit
Pilot Australia Terbangkan...
Pilot Australia Terbangkan 2 Buronan Paling Dicari ke Indonesia via Penerbangan Gelap
Rekomendasi
Festival Anak Pancasila...
Festival Anak Pancasila 2026 Perkuat Karakter Kebangsaan Generasi Muda
Meriah! Road To Kilau...
Meriah! Road To Kilau Raya MNCTV Guncang Mojokerto dengan Penampilan Inul Daratista dan Happy Asmara
Deretan Pasal Menjerat...
Deretan Pasal Menjerat Roy Suryo dan Dokter Tifa di Kasus Ijazah Jokowi
Berita Terkini
Pertamina NRE dan Koperasi...
Pertamina NRE dan Koperasi Kemenkop Bangun PLTS KDKMP Pulau Sembur, Progres Capai 80%
Imbas BI Rate Naik,...
Imbas BI Rate Naik, Pasar Rumah Kelas Menengah Mulai Ngerem
Vasanta Kembangkan Hunian...
Vasanta Kembangkan Hunian Suburban Berkonsep Alam
PWN 2026 Resmi Digelar...
PWN 2026 Resmi Digelar di JICC, Diikuti 15 Ribu Peserta dari Seluruh Indonesia
BI Rate Diprediksi Naik...
BI Rate Diprediksi Naik sampai 6%, Waspadai Risiko Kredit dan Daya Beli
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Dorong Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Pengelolaan Eceng Gondok
Infografis
Nambah Kekuatan, 9 Negara...
Nambah Kekuatan, 9 Negara Bakal Jadi Mitra BRICS di 2025
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved