Presiden Ini Serukan Setop Gunakan Dolar AS: Tak Ada Lagi Dominasi Satu Negara

Selasa, 08 Juli 2025 - 21:26 WIB
loading...
Presiden Ini Serukan...
Negara-negara di seluruh dunia harus menghentikan penggunaan dolar AS dan mulai mengandalkan mata uang nasional mereka sendiri dalam melakukan perdagangan antara satu sama lain. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Presiden Bolivia, Luis Arce mengatakan, negara-negara di seluruh dunia harus menghentikan penggunaan dolar AS dan mulai mengandalkan mata uang nasional mereka sendiri dalam melakukan perdagangan antara satu sama lain. Hal itu diungkapkan Luis Arce di sela-sela KTT BRICS ke-17 di Rio de Janeiro.

Seperti dilansir RT, negara anggota BRICS telah meningkatkan upaya untuk mengurangi ketergantungan mereka pada mata uang pihak ketiga dalam perdagangan bilateral setelah Barat membekukan aset Moskow, yang sebagian besar dipegang dalam dolar dan euro. Pembekuan aset sebagai bagian dari sanksi Barat menyusul eskalasi konflik Ukraina pada Februari 2022, lalu.

Dalam wawancaranya, Arce menegaskan bahwa ia mendukung kebijakan BRICS, dengan mengatakan bahwa sebagai bagian dari "pemutusan hubungan" dari AS, "kita perlu sebagai negara di dunia... untuk berhenti menggunakan dolar AS. Kami juga telah mengusulkannya."

Baca Juga: Membaca Kematian Dolar dan Tumpukan Utang AS Rp591.735 Triliun, Seberapa Gawat?

"Sebaiknya kita berdagang dan mempercayai mata uang kita sendiri atau setidaknya mencari mekanisme pembayaran alternatif," tegasnya.

Pemimpin Bolivia itu mengutarakan, bahwa saat ini ada "perjuangan yang sangat jelas antara blok lama yakni turunan dari AS dan Eropa versus blok baru yang muncul dari negara-negara BRICS."

“Kami tidak lagi percaya bahwa ada dominasi oleh satu negara di planet kita,” katanya merujuk pada AS.

Dengan mendapatkan status negara mitra BRICS tahun ini, Bolivia memperoleh kesempatan untuk "mengakses pasar besar dan menjadi bagian dari blok yang pasti akan menghasilkan manfaat ekonomi bagi semua orang," kata Arce.

BRICS yang menggelar KTT pertamanya pada tahun 2009, saat ini terdiri dari Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, Mesir, UEA, Ethiopia, Indonesia, dan Iran. Pada awal tahun 2025, Bolivia, Belarusia, Bolivia, Kazakhstan, Malaysia, Thailand, Uganda, dan Uzbekistan menjadi mitra blok tersebut. Selanjutnya pada bulan Juni, diikuti oleh Vietnam.

Pada awal pekan, Presiden AS Donald Trump mengancam akan memberlakukan tarif tambahan sebesar 10% terhadap negara manapun yang "berpihak" pada BRICS. Dimana Ia menuduh blok ekonomi tersebut mengadopsi "kebijakan anti-Amerika."

Pada bulan Februari, Trump menyatakan BRICS telah "mati" dan memperingatkan bahwa anggotanya akan menghadapi tarif 100% jika mereka "bermain-main dengan dolar."

Pada hari yang sama, Menteri Keuangan Rusia, Anton Siluanov mengatakan kepada RT bahwa perdagangan dalam mata uang nasional telah efektif membebaskan anggota BRICS dari tekanan Barat. Penyelesaian semacam itu "telah membuktikan keandalan dan independensinya dari lembaga peminjaman Barat yang kapan saja, ternyata, dapat menghentikan pembayaran," katanya.

Baca Juga: BRICS Bertekad Gulingkan Dolar AS dengan Mata Uang Baru, Nyata atau Sekadar Ilusi?

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov mengatakan, tahun lalu bahwa Rusia telah melakukan perdagangan dengan negara-negara BRICS lainnya, 65% menggunakan mata uang nasional.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rupiah Tergerus Sentimen...
Rupiah Tergerus Sentimen Eksternal, Hari Ini Berakhir Tembus Rp17.843 per USD
Janji Manis Investasi...
Janji Manis Investasi Rp5.323 Triliun di Balik Kesepakatan Damai AS-Iran
Runtuhkan Dolar AS,...
Runtuhkan Dolar AS, Putin Kumpulkan 11 Pemimpin ASEAN Termasuk Indonesia
Rupiah Menguat Tipis...
Rupiah Menguat Tipis dalam Sepekan, Simak Prediksi Pekan Depan
Rupiah Hari Ini Masih...
Rupiah Hari Ini Masih Terseok-seok ke Posisi Rp17.804 per Dolar AS
Rupiah Keok Meski BI...
Rupiah Keok Meski BI Rate Naik Lagi, Dolar AS Tembus Rp17.848
Iran Bisa Terima Rp894...
Iran Bisa Terima Rp894 Triliun dalam Bentuk Keringanan Sanksi sesuai Kesepakatan Akhir
AS Mediasi Perundingan...
AS Mediasi Perundingan Lebanon-Israel, Bahas Kemungkinan Penarikan Zionis dari Lebanon Selatan
Wanita Ini Dihujat karena...
Wanita Ini Dihujat karena Sebut Islam Organisasi Teroris, Sekarang Malah Dapat Donasi Rp2,5 Miliar
Rekomendasi
8 Fakta Kasus Penyekapan...
8 Fakta Kasus Penyekapan dan Penyiksaan Taufik Hidayat, Korban Hilang Sejak 3 Tahun Lalu
Motor Listrik Rp32 Juta...
Motor Listrik Rp32 Juta yang Tak Takut Jalan Rusak: Tyranno X Hadir di Jakarta Fair
Kemendikdasmen Terapkan...
Kemendikdasmen Terapkan MPLS Ramah 2026, Murid Baru Disambut Tanpa Perpeloncoan
Berita Terkini
IHSG Hari Ini Ditutup...
IHSG Hari Ini Ditutup Merosot 0,25% ke 6.101, Diwarnai Pelemahan 398 Saham
Wakil Kepala BPS RI:...
Wakil Kepala BPS RI: Sensus Ekonomi Akan Mampu Ukur Kontribusi Sektor Pendidikan terhadap Ekonomi DIY
Kekayaan RI Keluar Sebabkan...
Kekayaan RI Keluar Sebabkan Rupiah Melemah, Prabowo Analogikan seperti Tubuh Kehabisan Darah
Tips MotionTrade: Lindungi...
Tips MotionTrade: Lindungi Data Pribadi Anda dari Ancaman Sniffing di Era Investasi Digital
Sinyal Penarikan Dana...
Sinyal Penarikan Dana SAL dari Himbara Mencuat, Begini Pesan OJK
Dasco: InsyaAllah Pemadaman...
Dasco: InsyaAllah Pemadaman Listrik Tak Terjadi Lagi Pekan Ini
Infografis
Salah Satu Negara NATO...
Salah Satu Negara NATO Sebut AS Sudah Menjadi Pelayan Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved