TPST Kertamukti Ubah Sampah Jadi Bahan Bakar Lewat Program ISWMP
Kamis, 10 Juli 2025 - 21:37 WIB
loading...
Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Kertamukti di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Kertamukti di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, menjadi bukti keberhasilan program Improvement of Solid Waste Management to Support Regional and Metropolitan Cities Project (ISWMP). Program ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara Pemerintah Kabupaten Bekasi, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), serta dukungan Bank Dunia dalam mengatasi persoalan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Burangkeng.
Program ISWMP tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga mengedepankan lima pilar utama sebagai fondasi pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Kelima pilar tersebut meliputi penyusunan Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah (RISPS) dan penguatan regulasi daerah, peningkatan peran aktif masyarakat dan pemerintah, penguatan kelembagaan pengelola sampah, pengembangan mekanisme pendanaan dan retribusi, serta pembangunan fasilitas pengolahan sampah berteknologi modern.
Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian PUPR, Dewi Chomistriana, menjelaskan bahwa pendekatan holistik ini dirancang untuk mengubah paradigma lama dari sistem “kumpul-angkut-buang” menjadi pengurangan, pengolahan, dan pemanfaatan sampah secara optimal.
“TPST Kertamukti adalah contoh nyata bagaimana kelima pilar ini bekerja secara sinergis. Dari RISPS sebagai peta jalan hingga pendanaan yang berkelanjutan, semuanya terintegrasi untuk menciptakan sistem pengelolaan sampah yang efisien dan ramah lingkungan,” ujar Dewi dalam pernyataannya, Kamis (10/7).
Baca Juga: TPA Bisa Pensiun? Terungkap Teknologi Sakti yang Sulap Sampah Mal Jakarta Jadi Bahan Bakar
TPST Kertamukti yang berlokasi di Desa Kertamukti, Kecamatan Cibitung, dibangun di atas lahan seluas 6.000 meter persegi dan mampu mengolah hingga 50 ton sampah per hari. Fasilitas ini telah berhasil mengurangi residu sampah yang dibuang ke TPA Burangkeng hanya sekitar 11 persen, mendekati target Key Performance Indicator (KPI) sebesar 12 persen.
Salah satu inovasi unggulan TPST Kertamukti adalah produksi Refuse Derived Fuel (RDF), bahan bakar alternatif pengganti batu bara, serta Material Daur Ulang (MDU) yang memiliki nilai ekonomi tinggi. "Dengan teknologi ini, sampah yang sebelumnya dianggap tidak berguna kini dapat diubah menjadi sumber energi dan bahan bernilai ekonomis," tambah Dewi.
Untuk memastikan keberlanjutan program, Pemerintah Kabupaten Bekasi telah menjalin kerja sama dengan PT Indocement melalui Nota Kesepahaman (MoU) terkait pemanfaatan RDF sebagai bahan bakar alternatif dalam proses produksi pabrik semen.
Baca Juga: Kampanye Jaga Bumi Hasilkan Daur Ulang Lebih dari 1.900 Gawai Bekas
Meski demikian, kualitas pemilahan sampah dari sumber tetap menjadi kunci utama dalam meningkatkan efisiensi pengolahan di TPST Kertamukti. Pemilahan yang baik membantu menjaga performa mesin dan menekan biaya operasional.
Sebagai daerah penyangga Jakarta dengan populasi lebih dari 3 juta jiwa, Kabupaten Bekasi menghasilkan sekitar 1.680 ton sampah per hari berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) 2024. Keterbatasan lahan TPA dan ketimpangan layanan pengangkutan sampah menjadi tantangan utama yang mendorong perlunya solusi inovatif seperti ISWMP.
Ke depan, model pengelolaan sampah berbasis lima pilar ISWMP yang telah diterapkan di Kabupaten Bekasi ini diharapkan dapat direplikasi di daerah lain di Indonesia. Pendekatan ini tidak hanya menjawab persoalan sampah, tetapi juga mendorong pengembangan ekonomi sirkular yang berkelanjutan.
Program ISWMP tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga mengedepankan lima pilar utama sebagai fondasi pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Kelima pilar tersebut meliputi penyusunan Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah (RISPS) dan penguatan regulasi daerah, peningkatan peran aktif masyarakat dan pemerintah, penguatan kelembagaan pengelola sampah, pengembangan mekanisme pendanaan dan retribusi, serta pembangunan fasilitas pengolahan sampah berteknologi modern.
Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian PUPR, Dewi Chomistriana, menjelaskan bahwa pendekatan holistik ini dirancang untuk mengubah paradigma lama dari sistem “kumpul-angkut-buang” menjadi pengurangan, pengolahan, dan pemanfaatan sampah secara optimal.
“TPST Kertamukti adalah contoh nyata bagaimana kelima pilar ini bekerja secara sinergis. Dari RISPS sebagai peta jalan hingga pendanaan yang berkelanjutan, semuanya terintegrasi untuk menciptakan sistem pengelolaan sampah yang efisien dan ramah lingkungan,” ujar Dewi dalam pernyataannya, Kamis (10/7).
Baca Juga: TPA Bisa Pensiun? Terungkap Teknologi Sakti yang Sulap Sampah Mal Jakarta Jadi Bahan Bakar
TPST Kertamukti yang berlokasi di Desa Kertamukti, Kecamatan Cibitung, dibangun di atas lahan seluas 6.000 meter persegi dan mampu mengolah hingga 50 ton sampah per hari. Fasilitas ini telah berhasil mengurangi residu sampah yang dibuang ke TPA Burangkeng hanya sekitar 11 persen, mendekati target Key Performance Indicator (KPI) sebesar 12 persen.
Salah satu inovasi unggulan TPST Kertamukti adalah produksi Refuse Derived Fuel (RDF), bahan bakar alternatif pengganti batu bara, serta Material Daur Ulang (MDU) yang memiliki nilai ekonomi tinggi. "Dengan teknologi ini, sampah yang sebelumnya dianggap tidak berguna kini dapat diubah menjadi sumber energi dan bahan bernilai ekonomis," tambah Dewi.
Untuk memastikan keberlanjutan program, Pemerintah Kabupaten Bekasi telah menjalin kerja sama dengan PT Indocement melalui Nota Kesepahaman (MoU) terkait pemanfaatan RDF sebagai bahan bakar alternatif dalam proses produksi pabrik semen.
Baca Juga: Kampanye Jaga Bumi Hasilkan Daur Ulang Lebih dari 1.900 Gawai Bekas
Meski demikian, kualitas pemilahan sampah dari sumber tetap menjadi kunci utama dalam meningkatkan efisiensi pengolahan di TPST Kertamukti. Pemilahan yang baik membantu menjaga performa mesin dan menekan biaya operasional.
Sebagai daerah penyangga Jakarta dengan populasi lebih dari 3 juta jiwa, Kabupaten Bekasi menghasilkan sekitar 1.680 ton sampah per hari berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) 2024. Keterbatasan lahan TPA dan ketimpangan layanan pengangkutan sampah menjadi tantangan utama yang mendorong perlunya solusi inovatif seperti ISWMP.
Ke depan, model pengelolaan sampah berbasis lima pilar ISWMP yang telah diterapkan di Kabupaten Bekasi ini diharapkan dapat direplikasi di daerah lain di Indonesia. Pendekatan ini tidak hanya menjawab persoalan sampah, tetapi juga mendorong pengembangan ekonomi sirkular yang berkelanjutan.
(nng)
Lihat Juga :