Kebiasaan Baru Tak Efektif Dorong Daya Beli

Kamis, 10 September 2020 - 10:15 WIB
loading...
Kebiasaan Baru Tak Efektif...
Penerapan new normal atau kebiasaan baru untuk mendukung aktivitas ekonomi ternyata tidak efektif mendorong daya beli masyarakat. Foto/Koran SINDO/Eko Purwanto
A A A
JAKARTA - Penerapan new normal atau kebiasaan baru untuk mendukung aktivitas ekonomi ternyata tidak efektif mendorong daya beli masyarakat. Bahkan, kasus penularan Covid-19 makin merajalela dengan penambahan lebih dari 3.000 kasus positif setiap hari.

Sejak kebiasaan baru diterapkan pada awal Juni, aktivitas ekonomi memang mulai bergeliat, tetapi pada sektor tertentu saja. Aktivitas yang terasa pada sektor perkantoran dan usaha kuliner. (Baca: Mengenalkan Ketauhidan Sejak Dini Pada Anak)

Sementara aktivitas ekonomi lainnya terlihat masih stagnan, Hal ini dibuktikan dengan dua kali berturut-turut terjadi deflasi pada bulan Juli dan Agustus 2020. Upaya pemerintah untuk menggenjot kredit melalui penempatan dana di perbankan juga belum terasa dampaknya. Apalagi, faktor permintaan barang yang mendorong terciptanya produksi masih sangat rendah.

Melihat kondisi tersebut wajar jika Presiden Jokowi akhirnya menilai kesehatan lebih penting dibandingkan aktivitas ekonomi. Pasalnya, jika wabah Covid-19 tidak juga menunjukkan angka penurunan, pemulihan ekonomi akan bergerak lamban.

Bahkan, seperti yang terjadi dalam beberapa hari ini, adanya capital outflow dari pasar keuangan. Hal ini menunjukkan kekhawatiran investor akan tingginya kasus Covid-19 di Indonesia. (Baca juga: Pandemi, UI Tetap Berlakukan PJJ Pada Tahun Ajaran Baru)

Hasilnya, pada perdagangan saham kemarin, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,81% ke level 5.149. Padahal, pada awal September lalu IHSG masih bertengger di level 5.310.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Mengulik Pemicu Fenomena...
Mengulik Pemicu Fenomena Financial Anxiety dan Lipstick Effect di Tengah Tekanan Ekonomi
INDEF: Pemerintah Perlu...
INDEF: Pemerintah Perlu Evaluasi Kebijakan Ekonomi dan Perkuat Kolaborasi
Stimulus Jumbo Lintas...
Stimulus Jumbo Lintas Sektor Rp26,34 Triliun Resmi Meluncur, Berikut Rincian Alokasinya
BI Rate Diprediksi Naik...
BI Rate Diprediksi Naik sampai 6%, Waspadai Risiko Kredit dan Daya Beli
Indeks Keyakinan Konsumen...
Indeks Keyakinan Konsumen Mei 2026 Menurun, Ini Penjelasan BI
Harga Pertamax Naik,...
Harga Pertamax Naik, Komisi XII Ingatkan Dampaknya terhadap Daya Beli
DPRD Optimistis Ekonomi...
DPRD Optimistis Ekonomi Jabar hingga Akhir Tahun 2025 Melonjak
Redenominasi Rupiah:...
Redenominasi Rupiah: Perlukah Sekarang?
Mensesneg Minta Istilah...
Mensesneg Minta Istilah Rojali dan Rohana Tidak Dijadikan Joke
Rekomendasi
Kapolri Bertemu Direktur...
Kapolri Bertemu Direktur FBI, Bahas Penguatan Kerja Sama Kejahatan Transnasional
Hyundai IONIQ 6 N Mencatat...
Hyundai IONIQ 6 N Mencatat Waktu 7 Menit 35,42 Detik di Nurburgring
Dinkes Apresiasi Operasi...
Dinkes Apresiasi Operasi Bibir Sumbing Gratis MNC Peduli dan RS Azra Bogor
Berita Terkini
Hari Anak Nasional,...
Hari Anak Nasional, Jasa Raharja Ajak Generasi Muda Jadi Pelopor Keselamatan
Gonjang-ganjing Sektor...
Gonjang-ganjing Sektor Energi, Singapura Rombak Kabinet Besar-besaran
Di Balik Penghargaan...
Di Balik Penghargaan CCEPC Indonesia, Gao Hai Komitmen Bangun Kemitraan Jangka Panjang
Pertamina Trans Kontinental...
Pertamina Trans Kontinental Ajak Siswa Lestarikan Ekosistem Laut
PLN EPI Tawarkan Kontrak...
PLN EPI Tawarkan Kontrak hingga 5 Tahun untuk Pemasok Biomassa
Ancaman Blokade Laut...
Ancaman Blokade Laut Merah, Asia Nego Arab Saudi Alihkan Rute Tanker Minyak ke Afrika
Infografis
Cara Efektif Mencegah...
Cara Efektif Mencegah Kolesterol Naik setelah Pesta Tahun Baru
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved