Kebiasaan Baru Tak Efektif Dorong Daya Beli
Kamis, 10 September 2020 - 10:15 WIB
loading...
A
A
A
Berbagai kondisi itu membuat Ketua Umum DPD Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (Hippi) DKI Jakarta Sarman Simanjorang mendukung keputusan Kepala Negara yang mengutamakan kesehatan warganya di atas kepentingan ekonomi. Sebab, bila wabah itu tak juga menurun, pemulihan ekonomi pun akan tetap bergerak lamban. "Kami dukung upaya pemerintah menurunkan kasus baru Covid-19 di Indonesia," kata Sarman.
Menurut dia, kini geliat dunia usaha belum menunjukkan adanya perbaikan. Pasalnya, menilik jumlah kasus yang terus meningkat membuat aktivitas tetap terbatas. "Saat ini aktivitas ekonomi mulai berjalan, tapi masih terlihat lesu," ujarnya.
Dia menyebut dampak tingginya kasus baru Covid-19 di Indonesia membuat daya beli menurun dan para investor takut untuk menanamkan modalnya. (Baca juga: Ternyata Tidur Bisa Cegah Alzheimer)
Direktur Eksekutif INDEF Tauhid Ahmad mengatakan, saat ini akses informasi sangat mudah sehingga orang semakin paham tingkat penyebaran Covid-19 dan kasus kematiannya juga masih tinggi. Covid-19 saat ini masih menjadi ancaman sehingga persepsi masyarakat kondisi masih belum aman dan menghambat aktivitas ekonomi. Bahkan data BI menunjukkan keyakinan konsumen dalam enam bulan negatif.
"Meskipun ada pergerakan di bulan Agustus, tapi umumnya indeks keyakinan menunjukkan arah pesimis," ujar Tauhid di Jakarta.
Dia menilai, relasi kasus Covid-19 yang relatif tinggi membuat ketidaknyamanan di kelompok ekonomi menengah atas. Dampak langsungnya adalah nafsu belanja atau permintaan menjadi rendah. Walaupun pemerintah sudah berusaha keras memberi stimulus, tapi hanya habis tidak bersisa karena nilai bantuan yang kecil. Menurutnya, untuk menggerakkan permintaan masyarakat berarti butuh prasyarat minimal sekitar 55-60% kebutuhan pokok sudah terpenuhi.
Menurut dia, kini geliat dunia usaha belum menunjukkan adanya perbaikan. Pasalnya, menilik jumlah kasus yang terus meningkat membuat aktivitas tetap terbatas. "Saat ini aktivitas ekonomi mulai berjalan, tapi masih terlihat lesu," ujarnya.
Dia menyebut dampak tingginya kasus baru Covid-19 di Indonesia membuat daya beli menurun dan para investor takut untuk menanamkan modalnya. (Baca juga: Ternyata Tidur Bisa Cegah Alzheimer)
Direktur Eksekutif INDEF Tauhid Ahmad mengatakan, saat ini akses informasi sangat mudah sehingga orang semakin paham tingkat penyebaran Covid-19 dan kasus kematiannya juga masih tinggi. Covid-19 saat ini masih menjadi ancaman sehingga persepsi masyarakat kondisi masih belum aman dan menghambat aktivitas ekonomi. Bahkan data BI menunjukkan keyakinan konsumen dalam enam bulan negatif.
"Meskipun ada pergerakan di bulan Agustus, tapi umumnya indeks keyakinan menunjukkan arah pesimis," ujar Tauhid di Jakarta.
Dia menilai, relasi kasus Covid-19 yang relatif tinggi membuat ketidaknyamanan di kelompok ekonomi menengah atas. Dampak langsungnya adalah nafsu belanja atau permintaan menjadi rendah. Walaupun pemerintah sudah berusaha keras memberi stimulus, tapi hanya habis tidak bersisa karena nilai bantuan yang kecil. Menurutnya, untuk menggerakkan permintaan masyarakat berarti butuh prasyarat minimal sekitar 55-60% kebutuhan pokok sudah terpenuhi.
Lihat Juga :