Kualitas Air dan Lingkungan, Kunci Tekan Beban Ekonomi Akibat Stunting
Sabtu, 26 Juli 2025 - 14:47 WIB
loading...
A
A
A
Lebih lanjut, dr. Lucy menyoroti bahwa banyak masyarakat masih salah kaprah dalam menilai kelayakan air minum.
"Air bening belum tentu sehat. Jika terasa aneh atau berbau, besar kemungkinan air tersebut telah terkontaminasi dan tidak layak dikonsumsi," katanya.
Surya Putra menambahkan bahwa air minum isi ulang, yang menjadi sumber utama konsumsi rumah tangga di wilayah perkotaan, belum sepenuhnya memenuhi standar kesehatan.
"Banyak yang mengira air di kota besar pasti bersih, padahal hasil uji laboratorium kami menunjukkan masih banyak depot air yang terkontaminasi E. coli dan coliform," ungkap Surya.
Menurut dia kerja sama dengan Dinas Kesehatan dan Puskesmas di sejumlah kota menunjukkan bahwa kadar pH air isi ulang kerap tidak sesuai standar dan memiliki tingkat cemaran mikrobiologi yang tinggi.
"Ini sangat berisiko, terutama bagi balita dan ibu hamil. Bila mereka sakit, pengobatan bisa menggerus penghasilan rumah tangga dan memperbesar beban anggaran negara," ujarnya.
"Air bening belum tentu sehat. Jika terasa aneh atau berbau, besar kemungkinan air tersebut telah terkontaminasi dan tidak layak dikonsumsi," katanya.
Surya Putra menambahkan bahwa air minum isi ulang, yang menjadi sumber utama konsumsi rumah tangga di wilayah perkotaan, belum sepenuhnya memenuhi standar kesehatan.
"Banyak yang mengira air di kota besar pasti bersih, padahal hasil uji laboratorium kami menunjukkan masih banyak depot air yang terkontaminasi E. coli dan coliform," ungkap Surya.
Menurut dia kerja sama dengan Dinas Kesehatan dan Puskesmas di sejumlah kota menunjukkan bahwa kadar pH air isi ulang kerap tidak sesuai standar dan memiliki tingkat cemaran mikrobiologi yang tinggi.
"Ini sangat berisiko, terutama bagi balita dan ibu hamil. Bila mereka sakit, pengobatan bisa menggerus penghasilan rumah tangga dan memperbesar beban anggaran negara," ujarnya.
Lihat Juga :