Trump Jegal Negara-negara Pembeli Minyak Rusia, Risiko Perang Makin Besar?
Jum'at, 08 Agustus 2025 - 16:46 WIB
loading...
A
A
A
Kenaikan harga minyak sebagai dampak kebijakan bisa membebani ekonomi domestik AS. Selain itu, kebijakan ini dikhawatirkan memperumit negosiasi dagang AS dengan India dan China, dua negara yang kini memiliki posisi tawar tinggi sebagai pembeli energi utama dunia.
Baca Juga: Pertarungan BRICS vs AS Dimulai: Rusia, China hingga India Jadi Target Utama
Eugene Rumer, mantan analis intelijen AS untuk Rusia, menyatakan kecil kemungkinan Putin akan tunduk pada tekanan tarif ini. "Secara teori, menghentikan pembelian minyak oleh India dan China bisa memukul ekonomi Rusia. Tapi itu tidak akan terjadi," ujarnya dikutip dari Reuters, Jumat (8/8).
Rumer menambahkan, China telah memberikan sinyal akan terus membeli minyak dari Rusia meski ada tekanan tarif dari AS. Sejak akhir 2022, Rusia memang terpaksa mengalihkan ekspor minyaknya dari Eropa ke Asia dengan harga diskon menyusul kebijakan batas harga yang diberlakukan negara-negara Barat.
Langkah tersebut membuat Rusia tetap bisa menyalurkan minyak ke pasar global, meski dengan pendapatan yang menurun. Namun, tarif tambahan dari AS kini mengancam strategi tersebut.
Baca Juga: Pertarungan BRICS vs AS Dimulai: Rusia, China hingga India Jadi Target Utama
Eugene Rumer, mantan analis intelijen AS untuk Rusia, menyatakan kecil kemungkinan Putin akan tunduk pada tekanan tarif ini. "Secara teori, menghentikan pembelian minyak oleh India dan China bisa memukul ekonomi Rusia. Tapi itu tidak akan terjadi," ujarnya dikutip dari Reuters, Jumat (8/8).
Rumer menambahkan, China telah memberikan sinyal akan terus membeli minyak dari Rusia meski ada tekanan tarif dari AS. Sejak akhir 2022, Rusia memang terpaksa mengalihkan ekspor minyaknya dari Eropa ke Asia dengan harga diskon menyusul kebijakan batas harga yang diberlakukan negara-negara Barat.
Langkah tersebut membuat Rusia tetap bisa menyalurkan minyak ke pasar global, meski dengan pendapatan yang menurun. Namun, tarif tambahan dari AS kini mengancam strategi tersebut.
Lihat Juga :