BRI Peduli Tingkatkan Minat Baca Siswa dengan Pendekatan Berbasis Sains
Jum'at, 15 Agustus 2025 - 10:16 WIB
loading...
A
A
A
Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022 mencatat, masih ada 7,6 juta penduduk Indonesia berusia 15 tahun ke atas yang buta huruf. NTB menjadi provinsi dengan tingkat literasi terendah ketiga di Indonesia, di mana satu dari sembilan penduduknya mengalami buta huruf. Kondisi ini juga berdampak pada siswa sekolah dasar yang masih tertinggal dalam kemampuan membaca dasar.
BRI Peduli turut melakukan perbaikan infrastruktur di SDN 1 Malaka, termasuk pembenahan perpustakaan sekolah dan penambahan koleksi buku berbasis ilmu pengetahuan yang menarik, guna menumbuhkan minat baca.
Selain itu, pembelajaran dikemas lebih menyenangkan melalui permainan kreatif berbasis tantangan literasi yang disesuaikan dengan tingkat kemampuan siswa dan dapat diakses seluruh murid.
Hendy berharap, program ini bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para siswa dan guru, serta menjadi model yang dapat direplikasi di wilayah lain. "Kami ingin lebih banyak anak Indonesia mendapatkan akses pendidikan berkualitas sehingga mampu membangun masa depan yang lebih baik," katanya.
Kepala Sekolah SDN 1 Malaka, Laili Muniroh, menyebut program ini sangat efektif bagi siswa di sekolahnya yang memiliki keterbatasan akses buku, bahan bacaan berkualitas, dan fasilitas pendidikan. "Program ini menjadi jembatan untuk menghadirkan sumber bacaan yang layak sehingga anak-anak tidak tertinggal dalam keterampilan membaca, menulis, dan memahami informasi," tuturnya.
BRI Peduli turut melakukan perbaikan infrastruktur di SDN 1 Malaka, termasuk pembenahan perpustakaan sekolah dan penambahan koleksi buku berbasis ilmu pengetahuan yang menarik, guna menumbuhkan minat baca.
Selain itu, pembelajaran dikemas lebih menyenangkan melalui permainan kreatif berbasis tantangan literasi yang disesuaikan dengan tingkat kemampuan siswa dan dapat diakses seluruh murid.
Hendy berharap, program ini bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para siswa dan guru, serta menjadi model yang dapat direplikasi di wilayah lain. "Kami ingin lebih banyak anak Indonesia mendapatkan akses pendidikan berkualitas sehingga mampu membangun masa depan yang lebih baik," katanya.
Kepala Sekolah SDN 1 Malaka, Laili Muniroh, menyebut program ini sangat efektif bagi siswa di sekolahnya yang memiliki keterbatasan akses buku, bahan bacaan berkualitas, dan fasilitas pendidikan. "Program ini menjadi jembatan untuk menghadirkan sumber bacaan yang layak sehingga anak-anak tidak tertinggal dalam keterampilan membaca, menulis, dan memahami informasi," tuturnya.
Lihat Juga :