Freeport Ajak Peneliti Lakukan Riset Biodiversitas di Papua

Senin, 25 Agustus 2025 - 18:37 WIB
loading...
Freeport Ajak Peneliti...
Green Collabs dengan tema Dari Kota, Kembali ke Alam: Kolaborasi Merawat Keanekaragaman Hayati. FOTO/dok.SindoNews
A A A
JAKARTA - Koordinator Fauna Biodiversity PT Freeport Indonesia (PTFI) Kukuh Indra Kusuma menegaskan komitmen perusahaan dalam riset biodiversitas di Papua, yang menghasilkan penemuan ilmiah penting. Salah satunya adalah berhasil mendokumentasikan 130 spesies baru.

Kukuh menjelaskan, sejak 1997 Freeport menjalankan studi dasar biodiversitas di wilayah operasi PTFI di Mimika, yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Lorentz, salah satu kawasan dengan tingkat keanekaragaman hayati tertinggi di dunia.

"Hasilnya, lebih dari 130 spesies baru berhasil terdokumentasi, dan riset itu telah melahirkan buku serta artikel ilmiah yang bisa diakses publik secara gratis. PTFI juga, membuka ruang lebih besar bagi para peneliti mengingat akses ke kawasan ini sebelumnya terbatas," ungkap Kukuh di acara Green Collabs dengan tema "Dari Kota, Kembali ke Alam: Kolaborasi Merawat Keanekaragaman Hayati" akhir pekan lalu di Taman Literasi Martha Tiahahu, Jakarta.

Baca Juga: MERC 2025 Resmi Ditutup, Freeport Indonesia Jadi Overall Winner

Kukuh menambahkan, keberadaan Freeport di Mimika membuat penelitian biodiversitas di Papua bisa dilakukan lebih intensif. Capaian lainnya yang paling menonjol adalah mengungkap bahwa hewan yang sempat diduga punah, yaitu New Guinea Singing Dog, ditemukan kembali di area dekat operasi Freeport.

"Pada 2018, fase kedua riset membuktikan bahwa gen Singing Dog yang kami temui itu ternyata masih murni. Lalu pada 2022, kajian ekologi kami lakukan untuk memahami habitatnya. Kini fokusnya adalah bagaimana konservasinya bisa berjalan berkelanjutan," kata Kukuh.

Ia menambahkan, transisi Freeport dari tambang terbuka menuju tambang bawah tanah juga memberi dampak positif pada konservasi habitat satwa langka tersebut. Kukuh juga menekankan bahwa semua rencana pengembangan Freeport harus melalui kajian ekologis. Misalnya, bila pembangunan fasilitas baru berpotensi mengganggu spesies tumbuhan atau satwa terancam punah, perusahaan mencari alternatif lain.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
China Temukan Harta...
China Temukan Harta Karun Emas Terbesar di Dunia, Nilainya Lebih Rp1.300 Triliun
6 Penemuan Tak Biasa...
6 Penemuan Tak Biasa yang Bikin Sang Penemu Kaya Mendadak
Konferensi Internasional...
Konferensi Internasional Garcombs Paparkan Bisnis Era Pandemik hingga Omnibus Law
Spesies Hewan Abadi...
Spesies Hewan Abadi Ditemukan di Dasar Laut
Reservoir Air Kuno Misterius...
Reservoir Air Kuno Misterius Ditemukan di bawah Samudra Atlantik
Guru Besar Universitas...
Guru Besar Universitas Jayabaya Tekankan Pentingnya Pergeseran Paradigma dalam Hukum Kepailitan
Rekomendasi
MNC University Bersama...
MNC University Bersama MNC Peduli Salurkan 2 Ton Beras untuk Warga Kelurahan Kebon Sirih
AS Ingin Pindahkan Pangkalan-Pangkalan...
AS Ingin Pindahkan Pangkalan-Pangkalan di Teluk yang Rusak Akibat Serangan Iran ke Israel
6 Petani Diculik Tentara...
6 Petani Diculik Tentara Israel di Lebanon Selatan
Berita Terkini
IHSG Ambruk 4,55% dalam...
IHSG Ambruk 4,55% dalam Sepekan, Ini Saham-saham yang Cuan dan Boncos
Investor Saham Meningkat,...
Investor Saham Meningkat, Stockbit Andalkan Keamanan Berlapis
Harga Emas Antam Hari...
Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp5.000, Buyback Melesat Rp38.000 per Gram
Cegah Kebocoran Devisa...
Cegah Kebocoran Devisa Hasil Ekspor, DSI Fokus Dongkrak Penerimaan Negara
Salah Pilih Rekening...
Salah Pilih Rekening Tujuan? Cara Batalkan Pencairan Pinjaman Kredivo
Daya Saing Indonesia...
Daya Saing Indonesia Turun ke Peringkat 48 Dunia, Kalah dari Malaysia dan Vietnam
Infografis
10 Pemain Bintang yang...
10 Pemain Bintang yang Absen di Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved