Imigran Terkaya Amerika di 2025, Hartanya Tembus Rp21.287 Triliun
Senin, 08 September 2025 - 06:07 WIB
loading...
A
A
A
Jumlah tersebut cukup untuk menyamakan Taiwan dengan Israel sebagai negara dengan imigran miliarder terbanyak kedua dalam daftar Forbes 2025, dan Taiwan juga mengalami lonjakan terbesar sebagai sebuah negara apabila melihat jumlah imigran terkayanya. Di antara wajah-wajah baru dari Taiwan, ada juga sepupu Huang dan pesaing pembuat chip, CEO AMD Lisa Su.
Berusia 55 tahun, Su adalah salah satu dari hanya 17 imigran miliarder wanita, meski jumlahnya meningkat dari 10 pada tahun 2022. Wanita imigran miliarder lainnya dalam jajaran ini adalah Maky Zanaganeh yang lahir di Iran.
"Menjadi seorang imigran adalah tentang mencari peluang terbaik dan belajar beradaptasi dengan lingkungan baru sambil tetap memegang nilai-nilai inti Anda," kata Zanganeh, (54 tahun) yang pertama kali pindah ke AS untuk bekerja di perusahaan bedah robotik pada tahun 2002 setelah mengelola perusahaan di Eropa.
Dia sekarang adalah co-CEO perusahaan bioteknologi Summit Therapeutics, yang sahamnya melonjak hampir 200% dalam setahun terakhir. Hal itu membawa Zanganeh ke jajaran miliarder, berkat kandidat obat kanker paru-paru yang menjanjikan.
"Dalam bisnis, itu sama—Anda harus tetap tajam, terus berkembang, dan cukup tangguh untuk berkembang terlepas dari tantangannya. Pola pikir itu telah membentuk kesuksesan saya," paparnya.
Sementara itu India menambah jumlah miliarder imigran terbanyak kedua ke dalam daftar Forbes dan mengalahkan Israel sebagai tempat kelahiran imigran miliarder terbanyak. Pendatang baru dari India termasuk CEO Alphabet berusia 53 tahun yakni Sundar Pichai, lalu ada Chief Microsoft, Satya Nadella yang berusia 57 tahun, dan Nikesh Arora (57 tahun) yang telah memimpin perusahaan cybersecurity Palo Alto Networks sejak 2018.
Tercatat 93% imigran yang menjadi miliarder, mendapatkan harta kekayaan mereka dari hasil jerih payahnya sendiri. Hampir dua pertiga dari mereka menjadi kaya di sektor teknologi (di mana 53 imigran menjadi miliarder) atau di bidang keuangan (28 orang).
Oren Zeev, 60, seorang investor ventura yang lahir di Israel, termasuk di antara para miliarder ini. "Apa yang membantu saya berhasil, saya percaya berkat latar belakang saya yang berbeda, saya dapat berpikir dan bergerak secara berbeda daripada sebagian besar VC yang pergi ke sekolah yang sama, bergaul satu sama lain dan mempengaruhi satu sama lain," kata Zeev.
Ia berimigrasi ke AS pada tahun 2002 dan telah berinvestasi di banyak perusahaan seperti audiobook Audible, perusahaan teknologi pendidikan Chegg, dan anak perusahaan pengiriman Uber. "Saya percaya saya menemukan lebih mudah untuk bersikap kontrarian, yang tentu saja bisa menjadi hal positif yang besar dalam modal ventura."
Tidak mengherankan, banyak yang datang ke Amerika untuk kuliah dan tidak pernah pergi lagi, termasuk Musk dan raja keamanan siber berusia 65 tahun Jay Chaudhry, yang belum pernah naik pesawat sebelumnya ketika ia terbang dari tanah airnya India untuk menjalani sekolah pascasarjana di Universitas Cincinnati pada tahun 1980.
Pemilik Jacksonville Jaguars, Shahid Khan (74 tahun) tiba di AS pada usia 16 tahun, menghabiskan sebagian besar tabungan keluarganya untuk perjalanan satu arah ke Universitas Illinois di Urbana-Champaign. Dalam 24 jam, dia sudah membangun impian Amerika, mendapatkan pekerjaan mencuci piring dengan bayaran USD1,20 per jam.
Berusia 55 tahun, Su adalah salah satu dari hanya 17 imigran miliarder wanita, meski jumlahnya meningkat dari 10 pada tahun 2022. Wanita imigran miliarder lainnya dalam jajaran ini adalah Maky Zanaganeh yang lahir di Iran.
"Menjadi seorang imigran adalah tentang mencari peluang terbaik dan belajar beradaptasi dengan lingkungan baru sambil tetap memegang nilai-nilai inti Anda," kata Zanganeh, (54 tahun) yang pertama kali pindah ke AS untuk bekerja di perusahaan bedah robotik pada tahun 2002 setelah mengelola perusahaan di Eropa.
Dia sekarang adalah co-CEO perusahaan bioteknologi Summit Therapeutics, yang sahamnya melonjak hampir 200% dalam setahun terakhir. Hal itu membawa Zanganeh ke jajaran miliarder, berkat kandidat obat kanker paru-paru yang menjanjikan.
"Dalam bisnis, itu sama—Anda harus tetap tajam, terus berkembang, dan cukup tangguh untuk berkembang terlepas dari tantangannya. Pola pikir itu telah membentuk kesuksesan saya," paparnya.
Sementara itu India menambah jumlah miliarder imigran terbanyak kedua ke dalam daftar Forbes dan mengalahkan Israel sebagai tempat kelahiran imigran miliarder terbanyak. Pendatang baru dari India termasuk CEO Alphabet berusia 53 tahun yakni Sundar Pichai, lalu ada Chief Microsoft, Satya Nadella yang berusia 57 tahun, dan Nikesh Arora (57 tahun) yang telah memimpin perusahaan cybersecurity Palo Alto Networks sejak 2018.
Tercatat 93% imigran yang menjadi miliarder, mendapatkan harta kekayaan mereka dari hasil jerih payahnya sendiri. Hampir dua pertiga dari mereka menjadi kaya di sektor teknologi (di mana 53 imigran menjadi miliarder) atau di bidang keuangan (28 orang).
Oren Zeev, 60, seorang investor ventura yang lahir di Israel, termasuk di antara para miliarder ini. "Apa yang membantu saya berhasil, saya percaya berkat latar belakang saya yang berbeda, saya dapat berpikir dan bergerak secara berbeda daripada sebagian besar VC yang pergi ke sekolah yang sama, bergaul satu sama lain dan mempengaruhi satu sama lain," kata Zeev.
Ia berimigrasi ke AS pada tahun 2002 dan telah berinvestasi di banyak perusahaan seperti audiobook Audible, perusahaan teknologi pendidikan Chegg, dan anak perusahaan pengiriman Uber. "Saya percaya saya menemukan lebih mudah untuk bersikap kontrarian, yang tentu saja bisa menjadi hal positif yang besar dalam modal ventura."
Tidak mengherankan, banyak yang datang ke Amerika untuk kuliah dan tidak pernah pergi lagi, termasuk Musk dan raja keamanan siber berusia 65 tahun Jay Chaudhry, yang belum pernah naik pesawat sebelumnya ketika ia terbang dari tanah airnya India untuk menjalani sekolah pascasarjana di Universitas Cincinnati pada tahun 1980.
Pemilik Jacksonville Jaguars, Shahid Khan (74 tahun) tiba di AS pada usia 16 tahun, menghabiskan sebagian besar tabungan keluarganya untuk perjalanan satu arah ke Universitas Illinois di Urbana-Champaign. Dalam 24 jam, dia sudah membangun impian Amerika, mendapatkan pekerjaan mencuci piring dengan bayaran USD1,20 per jam.
Lihat Juga :