Menkeu Purbaya Blak-blakan Soal Strategi Capai Target Ekonomi 8 Persen dari Prabowo
Senin, 08 September 2025 - 19:51 WIB
loading...
Menteri Keuangan yang baru menjabat, Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto menargetkan kinerja 100 hari pertama dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 8% dalam waktu dekat. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Menteri Keuangan yang baru menjabat, Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto menargetkan kinerja 100 hari pertama dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 8% dalam waktu dekat. Target tersebut disampaikan Prabowo langsung setelah Purbaya dilantik menjadi Menteri Keuangan.
Meski mengakui target ini berat, Purbaya menyatakan optimismenya. "Tiga bulan 100 hari itu ya? Wah dia (Prabowo) kasih angka tinggi banget, gede juga saya bilang, betapa kita leverage... Dia bilang jangan lama-lama, cepat. Ya kita cobalah," ujar Purbaya di Istana Kepresidenan sebelum ke kantor Kemenkeu, Senin (8/9/2025).
Menurutnya, sebagai seorang ekonom, target 8% pada tahun ini mungkin sulit dicapai. Namun Purbaya menilai angka tersebut rasional untuk dicapai dalam dua hingga tiga tahun ke depan.
Baca Juga: Sri Mulyani Mundur atau Dicopot? Istana Buka Suara
Strategi yang akan dilakukan adalah mengembalikan arah ekonomi yang melambat menjadi lebih cepat dengan menghidupkan sektor swasta dan pemerintah secara bersamaan.
Purbaya menyatakan, dirinya tidak khawatir dengan tantangan yang ada, sebab Ia memiliki pengalaman panjang di bidang ekonomi. Ia telah berkecimpung selama 25 tahun sebagai ekonom, termasuk 15 tahun di pasar keuangan.
Ia juga pernah menjabat sebagai Komite Ekonomi Nasional selama 5 tahun dan membantu Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatasi krisis Covid-19 pada 2020. "Kalau Anda tanya pengalaman saya, saya cukup tahu, saya amat tahu, dan jangan khawatir," tegasnya.
Purbaya melihat masa depan ekonomi Indonesia sangat cerah, terutama dengan besarnya permintaan domestik. Ia menyebut bahwa pertumbuhan 8% bukanlah hal yang mustahil jika dirancang dengan baik. Mantan Ketua DK LPS ini membandingkan dengan Jepang, Korea, dan China yang pernah mengalami pertumbuhan dua digit dalam waktu yang lama.
Ia juga menjelaskan, selama 20 tahun terakhir, mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak seimbang. Pada masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), sektor swasta tumbuh pesat, sementara pada masa Presiden Jokowi, pemerintah gencar membangun infrastruktur, namun pertumbuhan kredit sektor swasta cenderung stagnan di angka 7%.
"Ke depan kita akan hidupkan dua-duanya, jadi dengan itu 6-7 persen tidak terlalu susah. Dua-duanya itu swasta dan pemerintah," ungkap Purbaya.
Baca Juga: Purbaya Gantikan Sri Mulyani, Berikut 5 Tugas Mendesak Menkeu
Terkait upaya peningkatan pendapatan negara, Purbaya menegaskan tidak ada rencana untuk menerapkan pajak baru. Ia meyakini, dengan pertumbuhan ekonomi yang baik, penerimaan pajak akan meningkat secara otomatis, bahkan dengan sistem yang sudah ada.
"Menurut saya pribadi selama ini enggak usah, yang penting dengan sistem yang ada pun kalau pertumbuhannya bagus, misal anggap tax ratio tax GDP-nya konstan, income kenceng juga kan," pungkasnya.
Meski mengakui target ini berat, Purbaya menyatakan optimismenya. "Tiga bulan 100 hari itu ya? Wah dia (Prabowo) kasih angka tinggi banget, gede juga saya bilang, betapa kita leverage... Dia bilang jangan lama-lama, cepat. Ya kita cobalah," ujar Purbaya di Istana Kepresidenan sebelum ke kantor Kemenkeu, Senin (8/9/2025).
Menurutnya, sebagai seorang ekonom, target 8% pada tahun ini mungkin sulit dicapai. Namun Purbaya menilai angka tersebut rasional untuk dicapai dalam dua hingga tiga tahun ke depan.
Baca Juga: Sri Mulyani Mundur atau Dicopot? Istana Buka Suara
Strategi yang akan dilakukan adalah mengembalikan arah ekonomi yang melambat menjadi lebih cepat dengan menghidupkan sektor swasta dan pemerintah secara bersamaan.
Purbaya menyatakan, dirinya tidak khawatir dengan tantangan yang ada, sebab Ia memiliki pengalaman panjang di bidang ekonomi. Ia telah berkecimpung selama 25 tahun sebagai ekonom, termasuk 15 tahun di pasar keuangan.
Ia juga pernah menjabat sebagai Komite Ekonomi Nasional selama 5 tahun dan membantu Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatasi krisis Covid-19 pada 2020. "Kalau Anda tanya pengalaman saya, saya cukup tahu, saya amat tahu, dan jangan khawatir," tegasnya.
Purbaya melihat masa depan ekonomi Indonesia sangat cerah, terutama dengan besarnya permintaan domestik. Ia menyebut bahwa pertumbuhan 8% bukanlah hal yang mustahil jika dirancang dengan baik. Mantan Ketua DK LPS ini membandingkan dengan Jepang, Korea, dan China yang pernah mengalami pertumbuhan dua digit dalam waktu yang lama.
Ia juga menjelaskan, selama 20 tahun terakhir, mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak seimbang. Pada masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), sektor swasta tumbuh pesat, sementara pada masa Presiden Jokowi, pemerintah gencar membangun infrastruktur, namun pertumbuhan kredit sektor swasta cenderung stagnan di angka 7%.
"Ke depan kita akan hidupkan dua-duanya, jadi dengan itu 6-7 persen tidak terlalu susah. Dua-duanya itu swasta dan pemerintah," ungkap Purbaya.
Baca Juga: Purbaya Gantikan Sri Mulyani, Berikut 5 Tugas Mendesak Menkeu
Terkait upaya peningkatan pendapatan negara, Purbaya menegaskan tidak ada rencana untuk menerapkan pajak baru. Ia meyakini, dengan pertumbuhan ekonomi yang baik, penerimaan pajak akan meningkat secara otomatis, bahkan dengan sistem yang sudah ada.
"Menurut saya pribadi selama ini enggak usah, yang penting dengan sistem yang ada pun kalau pertumbuhannya bagus, misal anggap tax ratio tax GDP-nya konstan, income kenceng juga kan," pungkasnya.
(akr)
Lihat Juga :