Pertamina hingga Juli 2025 Bukukan Pendapatan Rp672 Triliun, Ini Sebabnya
Kamis, 11 September 2025 - 21:22 WIB
loading...
Pertamina bukukan pendapatan Rp672 triliun per Juli 2025. Dimana total volume total produksi migas mencapai lebih dari 1 juta barel oil ekuivalen per day (BOEPD), atau satu juta barel setara minyak per hari. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - PT Pertamina (Persero) membukukan pendapatan sebesar Rp672 triliun per Juli 2025. Adapun dari sisi produksi capaian produksi migas (minyak dan gas bumi), pada periode yang sama tercatat tembus 1 juta barel oil ekuivalen per day (BOEPD).
Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri mengatakan, hal ini diraih pasca Pertamina menerapkan dua strategi pertumbuhan, melalui maksimalisasi bisnis eksisting, dan pengembangan bisnis rendah emisi.
"Hasilnya hingga bulan Juli 2025 Pertamina telah mencatat pendapatan sebesar Rp672 triliun, dimana total volume total produksi migas mencapai lebih dari 1 juta barel oil ekuivalen per day (BOEPD), atau satu juta barel setara minyak per hari," ujarnya dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VI DPR RI, Kamis (11/9/2025).
Baca Juga: Pertamina Akhirnya Buka Suara Soal Stok BBM Kosong di SPBU Swasta
Simon mengaku masih terdapat beberapa tantangan yang hingga bulan Juli 2025, terutama penurunan parameter dari sisi harga minyak mentah, solar, hingga kurs dolar yang melemah jika dibandingkan kondisi Juli 2024.
Dalam paparannya, Pertamina menyampaikan bahwa harga minyak mentah Indonesia (ICP) turun 14% menjadi USD69,74 per barel dibanding periode Juli 2024 yang mencapai USD81,38 per barel. Harga MOPS Solar juga terkoreksi 14% menjadi USD85,77 per barel, sementara kurs rupiah melemah dari Rp16.294/USD menjadi Rp16.459/USD.
Kondisi tersebut berdampak pada pendapatan usaha sebesar USD40,9 miliar yang setara Rp672 triliun atau turun 6% dari Juli 2024 sebesar USD43,52 miliar atau setara Rp716 triliun (kurs Rp16.460 per USD).
Namun demikian dari sisi laba bersih atau Net Profit After Tax (NPAT), Pertamina berhasil membukukan sebesar USD1,59 miliar dengan EBITDA relatif stabil di kisaran USD6,27 miliar, sedikit meningkat dibanding USD6,10 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sedangkan dari sisi operasional, Pertamina mencatat beberapa capaian seperti temuan cadangan migas baru sebesar 724 juta MMBOE di Wilayah Kerja (WK) Rokan. Selain itu Produksi Sustainable Aviation Fuel (SAF) pertama di Asia Tenggara dengan kapasitas 9.000 barel per hari.
"Pada tanggal 20 Agustus 2025 kemarin, Pertamina telah memproduksi Sustainable Aviation Fuel, yang digunakan pada komersial flight pelita air rute Jakarta - Bali," tambahnya.
Baca Juga: HUT ke-80 RI, Pertamina Berkontribusi Besar pada Upaya Swasembada Energi
Selain itu proyek revitalisasi Tank LNG Arun berkapasitas 127.200 m³ yang ditargetkan rampung Desember 2025. Peningkatan kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lumut Balai dengan tambahan 800 GWh per tahun.
Kemudian juga peluncuran Pertamax Green 95 berbahan dasar bioetanol yang kini tersedia di 160 outlet, dengan volume penjualan mencapai 4,83 ribu kiloliter hingga Juli 2025."Tentunya target untuk penyelesaian RDMP Balikpapan, kami usahakan akan mulai start 10 November 2025 dan diharapkan tanggal 17 November 2025 sudah beroperasi dengan kapasitas yang minimal," pungkas Simon.
Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri mengatakan, hal ini diraih pasca Pertamina menerapkan dua strategi pertumbuhan, melalui maksimalisasi bisnis eksisting, dan pengembangan bisnis rendah emisi.
"Hasilnya hingga bulan Juli 2025 Pertamina telah mencatat pendapatan sebesar Rp672 triliun, dimana total volume total produksi migas mencapai lebih dari 1 juta barel oil ekuivalen per day (BOEPD), atau satu juta barel setara minyak per hari," ujarnya dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VI DPR RI, Kamis (11/9/2025).
Baca Juga: Pertamina Akhirnya Buka Suara Soal Stok BBM Kosong di SPBU Swasta
Simon mengaku masih terdapat beberapa tantangan yang hingga bulan Juli 2025, terutama penurunan parameter dari sisi harga minyak mentah, solar, hingga kurs dolar yang melemah jika dibandingkan kondisi Juli 2024.
Dalam paparannya, Pertamina menyampaikan bahwa harga minyak mentah Indonesia (ICP) turun 14% menjadi USD69,74 per barel dibanding periode Juli 2024 yang mencapai USD81,38 per barel. Harga MOPS Solar juga terkoreksi 14% menjadi USD85,77 per barel, sementara kurs rupiah melemah dari Rp16.294/USD menjadi Rp16.459/USD.
Kondisi tersebut berdampak pada pendapatan usaha sebesar USD40,9 miliar yang setara Rp672 triliun atau turun 6% dari Juli 2024 sebesar USD43,52 miliar atau setara Rp716 triliun (kurs Rp16.460 per USD).
Namun demikian dari sisi laba bersih atau Net Profit After Tax (NPAT), Pertamina berhasil membukukan sebesar USD1,59 miliar dengan EBITDA relatif stabil di kisaran USD6,27 miliar, sedikit meningkat dibanding USD6,10 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sedangkan dari sisi operasional, Pertamina mencatat beberapa capaian seperti temuan cadangan migas baru sebesar 724 juta MMBOE di Wilayah Kerja (WK) Rokan. Selain itu Produksi Sustainable Aviation Fuel (SAF) pertama di Asia Tenggara dengan kapasitas 9.000 barel per hari.
"Pada tanggal 20 Agustus 2025 kemarin, Pertamina telah memproduksi Sustainable Aviation Fuel, yang digunakan pada komersial flight pelita air rute Jakarta - Bali," tambahnya.
Baca Juga: HUT ke-80 RI, Pertamina Berkontribusi Besar pada Upaya Swasembada Energi
Selain itu proyek revitalisasi Tank LNG Arun berkapasitas 127.200 m³ yang ditargetkan rampung Desember 2025. Peningkatan kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lumut Balai dengan tambahan 800 GWh per tahun.
Kemudian juga peluncuran Pertamax Green 95 berbahan dasar bioetanol yang kini tersedia di 160 outlet, dengan volume penjualan mencapai 4,83 ribu kiloliter hingga Juli 2025."Tentunya target untuk penyelesaian RDMP Balikpapan, kami usahakan akan mulai start 10 November 2025 dan diharapkan tanggal 17 November 2025 sudah beroperasi dengan kapasitas yang minimal," pungkas Simon.
(akr)
Lihat Juga :