Gelontorkan Dana Rp200 Triliun ke Bank BUMN, Ini Efeknya ke Rupiah
Minggu, 14 September 2025 - 13:00 WIB
loading...
Nilai tukar rupiah menunjukkan penguatan sepanjang pekan ini. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah menunjukkan penguatan sepanjang pekan ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup di posisi Rp16.375 per dolar AS pada perdagangan Jumat, menguat 0,53 persen dari hari sebelumnya.
Secara mingguan, rupiah menguat 0,35 persen dari posisi Rp16.433 pekan lalu. Sementara itu, berdasarkan kurs tengah Jisdor BI, rupiah ditutup di level Rp16.391 per dolar AS, menguat 0,47 persen dari hari sebelumnya dan 0,29 persen dalam sepekan.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa penguatan rupiah didukung oleh sejumlah faktor eksternal dan internal. Dari sisi eksternal, rupiah menguat meskipun data harga konsumen Amerika Serikat naik 0,4 persen pada Agustus 2025, mendorong inflasi tahunan ke 2,9 persen.
Namun, pelemahan pasar tenaga kerja AS, dengan klaim pengangguran mingguan yang naik ke level tertinggi, memperkuat keyakinan pasar akan adanya pelonggaran kebijakan moneter.
"Pasar semakin yakin akan pelonggaran kebijakan yang akan segera terjadi setelah data harga produsen AS yang lebih lemah dari perkiraan dan revisi besar-besaran terhadap angka ketenagakerjaan resmi memperkuat tanda-tanda pasar tenaga kerja yang mendingin," ujar Ibrahim, dikutip Minggu (14/9).
Baca Juga: Utang Jatuh Tempo Indonesia Rp800 Triliun, DPR Desak Menkeu Purbaya Susun Strategi
Dari sisi internal, penguatan rupiah juga didorong oleh langkah pemerintah yang secara resmi menyalurkan dana simpanan sebesar Rp200 triliun dari Bank Indonesia (BI) ke 5 bank milik negara, yaitu Bank Mandiri, BNI, BRI, BTN dan BSI.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyatakan dana tersebut efektif masuk ke sistem perbankan dengan harapan dapat disalurkan ke sektor riil.
"Jadi saya pastikan dana Rp200 triliun masuk ke sistem perbankan hari ini," ucapnya. "Mungkin bank akan bingung untuk menyalurkan kemana. Pasti pelan-pelan akan disalurkan lewat kredit sehingga ekonomi bisa bergerak," imbuh Purbaya.
Baca Juga: Purbaya Tetapkan 5 Bank BUMN Ditransfer Rp200 Triliun Hari Ini
Ibrahim juga menyoroti bahwa langkah BI menerbitkan instrumen utang seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), yang sempat mendorong perbankan menaruh dananya pada instrumen tersebut, berdampak pada lambatnya penyaluran kredit ke sektor riil.
Untuk perdagangan awal pekan depan, Ibrahim memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif namun berpotensi menguat di rentang Rp16.320-Rp16.380. Rupiah juga tetap perkasa meskipun ketegangan perdagangan global meningkat.
Secara mingguan, rupiah menguat 0,35 persen dari posisi Rp16.433 pekan lalu. Sementara itu, berdasarkan kurs tengah Jisdor BI, rupiah ditutup di level Rp16.391 per dolar AS, menguat 0,47 persen dari hari sebelumnya dan 0,29 persen dalam sepekan.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa penguatan rupiah didukung oleh sejumlah faktor eksternal dan internal. Dari sisi eksternal, rupiah menguat meskipun data harga konsumen Amerika Serikat naik 0,4 persen pada Agustus 2025, mendorong inflasi tahunan ke 2,9 persen.
Namun, pelemahan pasar tenaga kerja AS, dengan klaim pengangguran mingguan yang naik ke level tertinggi, memperkuat keyakinan pasar akan adanya pelonggaran kebijakan moneter.
"Pasar semakin yakin akan pelonggaran kebijakan yang akan segera terjadi setelah data harga produsen AS yang lebih lemah dari perkiraan dan revisi besar-besaran terhadap angka ketenagakerjaan resmi memperkuat tanda-tanda pasar tenaga kerja yang mendingin," ujar Ibrahim, dikutip Minggu (14/9).
Baca Juga: Utang Jatuh Tempo Indonesia Rp800 Triliun, DPR Desak Menkeu Purbaya Susun Strategi
Dari sisi internal, penguatan rupiah juga didorong oleh langkah pemerintah yang secara resmi menyalurkan dana simpanan sebesar Rp200 triliun dari Bank Indonesia (BI) ke 5 bank milik negara, yaitu Bank Mandiri, BNI, BRI, BTN dan BSI.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyatakan dana tersebut efektif masuk ke sistem perbankan dengan harapan dapat disalurkan ke sektor riil.
"Jadi saya pastikan dana Rp200 triliun masuk ke sistem perbankan hari ini," ucapnya. "Mungkin bank akan bingung untuk menyalurkan kemana. Pasti pelan-pelan akan disalurkan lewat kredit sehingga ekonomi bisa bergerak," imbuh Purbaya.
Baca Juga: Purbaya Tetapkan 5 Bank BUMN Ditransfer Rp200 Triliun Hari Ini
Ibrahim juga menyoroti bahwa langkah BI menerbitkan instrumen utang seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), yang sempat mendorong perbankan menaruh dananya pada instrumen tersebut, berdampak pada lambatnya penyaluran kredit ke sektor riil.
Untuk perdagangan awal pekan depan, Ibrahim memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif namun berpotensi menguat di rentang Rp16.320-Rp16.380. Rupiah juga tetap perkasa meskipun ketegangan perdagangan global meningkat.
(nng)
Lihat Juga :