Ketum Kadin: Program KUR Perumahan Berpotensi Serap 9 Juta Tenaga Kerja
Kamis, 18 September 2025 - 12:51 WIB
loading...
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Anindya Novyan Bakrie mengungkapkan, program Kredit Usaha Rakyat (KUR) Perumahan berpotensi menyerap 9 juta tenaga kerja. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) Perumahan berpotensi menyerap 9 juta tenaga kerja . Hal ini seperti diungkap Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Anindya Novyan Bakrie.
Ia memaparkan bahwa setiap pembangunan satu unit rumah dapat menyerap 5 hingga 6 tenaga kerja langsung, dan mendorong lebih dari 140 sektor industri turunan, mulai dari semen, baja, kayu, hingga jasa transportasi.
Menurutnya, sektor konstruksi termasuk perumahan bukan sekadar pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, tetapi juga penggerak utama ekonomi nasional, menjadi sektor terbesar setelah pertanian, perdagangan, dan industri pengolahan.
Baca Juga: KUR Rumah Subsidi Dimulai Oktober, Pemerintah Siapkan Anggaran Rp130 Triliun
"Dengan anggaran Rp130 triliun tahun ini, program KUR perumahan berpotensi menyerap 4 sampai 5 juta tenaga kerja konstruksi," kata Anindya saat dijumpai di Balai Sarbini, Lippo Mall Nusantara, Jakarta, pada Rabu (17/9) malam.
"Jika ditambah efek backward linkage ke industri pendukung seperti semen, baja, keramik, furnitur, dan logistik, jumlahnya bisa mencapai 9 juta tenaga kerja,” tambahnya.
Namun demikian, Anindya juga menyoroti tantangan besar dalam pembiayaan sektor ini, khususnya terkait tingginya biaya modal dan bunga kredit yang dinilai masih memberatkan.
“Ketika bunga kredit terlalu mahal, pengembang enggan membangun rumah. Kontraktor kesulitan membiayai proyek, dan pelaku usaha bahan bangunan tidak dapat meningkatkan pasokan mereka,” katanya.
Untuk itu, Kadin lanjut Anin menyambut baik skema subsidi suku bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk sektor perumahan, yang menurutnya sangat strategis. Selain dukungan pembiayaan, Anindya juga mengungkapkan tantangannya lain adalah rendahnya literasi keuangan dan kurangnya sosialisasi program.
Anindya mengatakan, bahwa Kadin telah menggandeng Kementerian PKP dan BPI Danantara dalam menyosialisasikan solusi KUR perumahan, khususnya bagi pelaku UMKM dalam ekosistem perumahan rakyat.
“Kami menyerukan bahwa dari sektor pembangunan, kontraktor, pedagang bahan bangunan, dan KUR siap mengikuti program ini,” ujar Anindya.
Anin juga menyebut konsep besar ini sebagai cerminan visi Indonesia Incorporated yang diusung Presiden Prabowo Subianto, di mana seluruh komponen bangsa, termasuk dunia usaha, harus bergotong royong dan naik kelas bersama.
Baca Juga: Presiden Prabowo Tambah Kuota Rumah Subsidi Jadi 350.000 Unit
“Marilah kita wujudkan gotong royong dunia usaha dan pemerintah dalam memperluas akses kredit perumahan, mendukung UMKM, dan bersama-sama memenuhi kebutuhan rumah yang layak dan terjangkau untuk rakyat,” tandasnya.
Ia memaparkan bahwa setiap pembangunan satu unit rumah dapat menyerap 5 hingga 6 tenaga kerja langsung, dan mendorong lebih dari 140 sektor industri turunan, mulai dari semen, baja, kayu, hingga jasa transportasi.
Menurutnya, sektor konstruksi termasuk perumahan bukan sekadar pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, tetapi juga penggerak utama ekonomi nasional, menjadi sektor terbesar setelah pertanian, perdagangan, dan industri pengolahan.
Baca Juga: KUR Rumah Subsidi Dimulai Oktober, Pemerintah Siapkan Anggaran Rp130 Triliun
"Dengan anggaran Rp130 triliun tahun ini, program KUR perumahan berpotensi menyerap 4 sampai 5 juta tenaga kerja konstruksi," kata Anindya saat dijumpai di Balai Sarbini, Lippo Mall Nusantara, Jakarta, pada Rabu (17/9) malam.
"Jika ditambah efek backward linkage ke industri pendukung seperti semen, baja, keramik, furnitur, dan logistik, jumlahnya bisa mencapai 9 juta tenaga kerja,” tambahnya.
Namun demikian, Anindya juga menyoroti tantangan besar dalam pembiayaan sektor ini, khususnya terkait tingginya biaya modal dan bunga kredit yang dinilai masih memberatkan.
“Ketika bunga kredit terlalu mahal, pengembang enggan membangun rumah. Kontraktor kesulitan membiayai proyek, dan pelaku usaha bahan bangunan tidak dapat meningkatkan pasokan mereka,” katanya.
Untuk itu, Kadin lanjut Anin menyambut baik skema subsidi suku bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk sektor perumahan, yang menurutnya sangat strategis. Selain dukungan pembiayaan, Anindya juga mengungkapkan tantangannya lain adalah rendahnya literasi keuangan dan kurangnya sosialisasi program.
Anindya mengatakan, bahwa Kadin telah menggandeng Kementerian PKP dan BPI Danantara dalam menyosialisasikan solusi KUR perumahan, khususnya bagi pelaku UMKM dalam ekosistem perumahan rakyat.
“Kami menyerukan bahwa dari sektor pembangunan, kontraktor, pedagang bahan bangunan, dan KUR siap mengikuti program ini,” ujar Anindya.
Anin juga menyebut konsep besar ini sebagai cerminan visi Indonesia Incorporated yang diusung Presiden Prabowo Subianto, di mana seluruh komponen bangsa, termasuk dunia usaha, harus bergotong royong dan naik kelas bersama.
Baca Juga: Presiden Prabowo Tambah Kuota Rumah Subsidi Jadi 350.000 Unit
“Marilah kita wujudkan gotong royong dunia usaha dan pemerintah dalam memperluas akses kredit perumahan, mendukung UMKM, dan bersama-sama memenuhi kebutuhan rumah yang layak dan terjangkau untuk rakyat,” tandasnya.
(akr)
Lihat Juga :