Kontribusi AI Diprediksi Capai Rp262.798 Triliun bagi Ekonomi Global
Jum'at, 26 September 2025 - 16:16 WIB
loading...
Dyna Day 2025 di Jakarta. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) diperkirakan memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian global. Teknologi ini berpotensi menambah nilai hingga USD15,7 triliun atau setara Rp262.798 triliun terhadap ekonomi dunia.
"World Bank memperkirakan kontribusi AI bisa mencapai 10 persen dari PDB nasional. Meski sebelumnya kita tertinggal dalam revolusi industri, kini Indonesia memiliki peluang besar untuk memimpin revolusi nasional AI berbekal populasi besar dan percepatan adopsi digital," ujar AI National Roadmap Advisor, Andreas Tjendra dalam keterangannya, Jumat (26/9).
Baca Juga: Pakar IPB Ungkap Dampak Buruk Remaja yang Lebih Nyaman Curhat ke AI
Menurut dia Indonesia berada dalam posisi strategis untuk memanfaatkan momentum revolusi AI. Wakil Sekretaris Jenderal II Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech), Saat Prihartono, menambahkan bahwa sektor fintech tanah air siap mengadopsi AI. Namun, ia mengakui masih ada tantangan seperti keterbatasan talenta, infrastruktur, serta keterampilan.
"AI berpotensi meningkatkan produktivitas, menyederhanakan proses operasional, dan memperkuat keterlibatan pelanggan, sehingga mendorong ekosistem keuangan yang lebih dinamis," kata dia.
Sementara itu, Kepala Departemen Klaim dan Manfaat Asuransi Jiwa Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), dr. Dian Budiani, menekankan manfaat AI bagi industri asuransi. Menurutnya, agentic AI mampu menyederhanakan proses klaim, meningkatkan efektivitas deteksi kecurangan, sekaligus menghadirkan pengalaman pelanggan yang lebih baik.
"Peningkatan klaim kesehatan, proses bisnis kompleks, serta rendahnya kepercayaan konsumen dapat diatasi dengan penerapan AI," jelasnya.
Menanggapi kebutuhan pasar lokal, perusahaan AI-as-a-Service berbasis di Singapura, Dyna.Ai, resmi meluncurkan operasinya di Tanah Air, menegaskan komitmennya dalam mempercepat transformasi digital Indonesia. Managing Director dan Head of Southeast Asia Dyna.Ai, Lawrence Lu, menjelaskan bahwa agentic AI dapat menghubungkan praktik global dengan kebutuhan lokal.
"AI ini mampu beradaptasi dengan konteks budaya dan realitas bisnis Indonesia, sehingga mendukung personalisasi layanan, otomatisasi, dan pembangunan kepercayaan jangka panjang dengan pelanggan," jelasnya.
Dyna.Ai, perusahaan berbasis di Singapura, juga memperkenalkan berbagai produk seperti Agent Studio, Agent Store, TextGPT, VoiceGPT, hingga AvatarGPT. Teknologi tersebut dirancang untuk memudahkan perusahaan mengimplementasikan AI lintas platform dan bahasa dengan cepat serta efektif.
Baca Juga: Cara Edit Foto di Gemini AI, Bisa Tanpa Photoshop!
Komitmen Dyna.Ai terhadap pasar Indonesia ditunjukkan melalui ajang Dyna Day 2025 di Jakarta. Acara tersebut mempertemukan pemimpin industri teknologi finansial dan asuransi untuk membahas pemanfaatan agentic AI sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara.
Perusahaan juga meresmikan kantor cabang di Jakarta pada Juli 2025 yang difokuskan sebagai pusat inovasi dan kolaborasi. Kehadiran kantor ini diharapkan memperkuat kerja sama dengan pelaku bisnis serta asosiasi di Indonesia guna mendorong produktivitas dan menciptakan pengalaman digital yang lebih bermakna.
"Transformasi digital bukan hanya soal teknologi, tetapi juga manusia yang dilayani. AI memungkinkan respons yang tepat, adaptasi budaya, serta penciptaan nilai yang memperkuat kepercayaan dan kemitraan jangka panjang," pungkas Lawrence Lu.
"World Bank memperkirakan kontribusi AI bisa mencapai 10 persen dari PDB nasional. Meski sebelumnya kita tertinggal dalam revolusi industri, kini Indonesia memiliki peluang besar untuk memimpin revolusi nasional AI berbekal populasi besar dan percepatan adopsi digital," ujar AI National Roadmap Advisor, Andreas Tjendra dalam keterangannya, Jumat (26/9).
Baca Juga: Pakar IPB Ungkap Dampak Buruk Remaja yang Lebih Nyaman Curhat ke AI
Menurut dia Indonesia berada dalam posisi strategis untuk memanfaatkan momentum revolusi AI. Wakil Sekretaris Jenderal II Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech), Saat Prihartono, menambahkan bahwa sektor fintech tanah air siap mengadopsi AI. Namun, ia mengakui masih ada tantangan seperti keterbatasan talenta, infrastruktur, serta keterampilan.
"AI berpotensi meningkatkan produktivitas, menyederhanakan proses operasional, dan memperkuat keterlibatan pelanggan, sehingga mendorong ekosistem keuangan yang lebih dinamis," kata dia.
Sementara itu, Kepala Departemen Klaim dan Manfaat Asuransi Jiwa Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), dr. Dian Budiani, menekankan manfaat AI bagi industri asuransi. Menurutnya, agentic AI mampu menyederhanakan proses klaim, meningkatkan efektivitas deteksi kecurangan, sekaligus menghadirkan pengalaman pelanggan yang lebih baik.
"Peningkatan klaim kesehatan, proses bisnis kompleks, serta rendahnya kepercayaan konsumen dapat diatasi dengan penerapan AI," jelasnya.
Menanggapi kebutuhan pasar lokal, perusahaan AI-as-a-Service berbasis di Singapura, Dyna.Ai, resmi meluncurkan operasinya di Tanah Air, menegaskan komitmennya dalam mempercepat transformasi digital Indonesia. Managing Director dan Head of Southeast Asia Dyna.Ai, Lawrence Lu, menjelaskan bahwa agentic AI dapat menghubungkan praktik global dengan kebutuhan lokal.
"AI ini mampu beradaptasi dengan konteks budaya dan realitas bisnis Indonesia, sehingga mendukung personalisasi layanan, otomatisasi, dan pembangunan kepercayaan jangka panjang dengan pelanggan," jelasnya.
Dyna.Ai, perusahaan berbasis di Singapura, juga memperkenalkan berbagai produk seperti Agent Studio, Agent Store, TextGPT, VoiceGPT, hingga AvatarGPT. Teknologi tersebut dirancang untuk memudahkan perusahaan mengimplementasikan AI lintas platform dan bahasa dengan cepat serta efektif.
Baca Juga: Cara Edit Foto di Gemini AI, Bisa Tanpa Photoshop!
Komitmen Dyna.Ai terhadap pasar Indonesia ditunjukkan melalui ajang Dyna Day 2025 di Jakarta. Acara tersebut mempertemukan pemimpin industri teknologi finansial dan asuransi untuk membahas pemanfaatan agentic AI sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara.
Perusahaan juga meresmikan kantor cabang di Jakarta pada Juli 2025 yang difokuskan sebagai pusat inovasi dan kolaborasi. Kehadiran kantor ini diharapkan memperkuat kerja sama dengan pelaku bisnis serta asosiasi di Indonesia guna mendorong produktivitas dan menciptakan pengalaman digital yang lebih bermakna.
"Transformasi digital bukan hanya soal teknologi, tetapi juga manusia yang dilayani. AI memungkinkan respons yang tepat, adaptasi budaya, serta penciptaan nilai yang memperkuat kepercayaan dan kemitraan jangka panjang," pungkas Lawrence Lu.
(nng)
Lihat Juga :