Pasar Kripto Bergairah, Harga Bitcoin Pecah Rekor Tembus Rp2,1 Miliar
Rabu, 08 Oktober 2025 - 12:44 WIB
loading...
Bitcoin kembali mencatatkan tonggak bersejarah setelah menembus rekor harga tertinggi sepanjang masa. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Bitcoin kembali mencatatkan tonggak bersejarah setelah menembus rekor harga tertinggi sepanjang masa di level USD126.000 per koin atau setara Rp2,1 miliar. Kenaikan tersebut memperkuat posisi Bitcoin sebagai aset digital utama dunia sekaligus menegaskan perannya sebagai instrumen lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Nilai Bitcoin dalam setahun terakhir melonjak hampir dua kali lipat. Berdasarkan data pasar, harga sempat menyentuh puncak di USD126.080 sebelum terkoreksi ringan dan stabil di kisaran USD124.700. Lonjakan ini turut mendorong reli aset kripto lain seperti Ethereum yang naik ke USD4.600, serta XRP yang menembus USD2,9.
Baca Juga: 4 Fakta Ketidakpastian Geopolitik Picu Lonjakan Emas dan Bitcoin
Kenaikan tajam harga Bitcoin dipicu oleh meningkatnya arus dana dari investor institusional dan pelemahan dolar Amerika Serikat (AS). Produk Exchange-Traded Fund (ETF) berbasis Bitcoin yang diterbitkan manajer investasi global seperti BlackRock dan Fidelity juga mencatat arus masuk miliaran dolar dalam sepekan terakhir, memperketat pasokan di pasar spot.
Penurunan cadangan Bitcoin di bursa global ke titik terendah dalam enam tahun turut memperkuat sentimen bullish. Kondisi ini menunjukkan semakin banyak investor memilih menyimpan Bitcoin di dompet pribadi untuk jangka panjang, menandakan keyakinan terhadap potensi kenaikan harga di masa mendatang.
Vice President Indodax, Antony Kusuma, menilai pencapaian ini tidak hanya euforia pasar, melainkan bukti kematangan industri aset digital global. "Kenaikan hingga USD126.000 menunjukkan Bitcoin telah memasuki fase yang lebih matang. Kini, Bitcoin bukan lagi sekadar instrumen spekulatif, tetapi sudah menjadi bagian dari strategi diversifikasi aset di lembaga keuangan besar," ujarnya di Jakarta, Rabu (8/10).
Antony menjelaskan, reli harga kali ini berbeda dengan siklus sebelumnya. Jika pada 2021 kenaikan lebih banyak digerakkan oleh investor ritel dan faktor emosional, maka kini fondasinya lebih kuat. "Penurunan cadangan di bursa, arus dana institusional yang stabil, serta adopsi korporasi menjadi pendorong utama tren ini," kata dia.
Dari sisi domestik, Indodax mencatat lonjakan signifikan aktivitas perdagangan. "Dalam tujuh hari terakhir, volume transaksi naik hampir 50% dibandingkan periode sebelumnya. Pada hari Bitcoin menembus rekor, volume perdagangan di Indodax mencapai sekitar Rp1 triliun," ungkap Antony.
Baca Juga: The Fed Pangkas Suku Bunga, Harga Bitcoin Melejit Tembus Rp1,94 Miliar
Menurutnya, peningkatan tersebut menunjukkan semakin kuatnya kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap investasi kripto. "Banyak investor mulai memandang aset digital sebagai bagian dari strategi keuangan jangka panjang," ucapnya.
Antony menilai momentum ini menjadi peluang bagi Indonesia untuk memperkuat posisi di ekosistem kripto Asia Tenggara. "Dengan regulasi yang makin jelas dan dukungan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), industri aset digital nasional berpotensi tumbuh pesat," tuturnya.
Ia menambahkan, selama Bitcoin mampu bertahan di atas level psikologis USD120.000, tren kenaikan diperkirakan masih berlanjut. "Investor sebaiknya tetap disiplin dan tidak terjebak euforia jangka pendek. Strategi pembelian bertahap atau Dollar-Cost Averaging (DCA) menjadi cara yang efektif menghadapi volatilitas pasar," pungkas Antony.
Nilai Bitcoin dalam setahun terakhir melonjak hampir dua kali lipat. Berdasarkan data pasar, harga sempat menyentuh puncak di USD126.080 sebelum terkoreksi ringan dan stabil di kisaran USD124.700. Lonjakan ini turut mendorong reli aset kripto lain seperti Ethereum yang naik ke USD4.600, serta XRP yang menembus USD2,9.
Baca Juga: 4 Fakta Ketidakpastian Geopolitik Picu Lonjakan Emas dan Bitcoin
Kenaikan tajam harga Bitcoin dipicu oleh meningkatnya arus dana dari investor institusional dan pelemahan dolar Amerika Serikat (AS). Produk Exchange-Traded Fund (ETF) berbasis Bitcoin yang diterbitkan manajer investasi global seperti BlackRock dan Fidelity juga mencatat arus masuk miliaran dolar dalam sepekan terakhir, memperketat pasokan di pasar spot.
Penurunan cadangan Bitcoin di bursa global ke titik terendah dalam enam tahun turut memperkuat sentimen bullish. Kondisi ini menunjukkan semakin banyak investor memilih menyimpan Bitcoin di dompet pribadi untuk jangka panjang, menandakan keyakinan terhadap potensi kenaikan harga di masa mendatang.
Vice President Indodax, Antony Kusuma, menilai pencapaian ini tidak hanya euforia pasar, melainkan bukti kematangan industri aset digital global. "Kenaikan hingga USD126.000 menunjukkan Bitcoin telah memasuki fase yang lebih matang. Kini, Bitcoin bukan lagi sekadar instrumen spekulatif, tetapi sudah menjadi bagian dari strategi diversifikasi aset di lembaga keuangan besar," ujarnya di Jakarta, Rabu (8/10).
Antony menjelaskan, reli harga kali ini berbeda dengan siklus sebelumnya. Jika pada 2021 kenaikan lebih banyak digerakkan oleh investor ritel dan faktor emosional, maka kini fondasinya lebih kuat. "Penurunan cadangan di bursa, arus dana institusional yang stabil, serta adopsi korporasi menjadi pendorong utama tren ini," kata dia.
Dari sisi domestik, Indodax mencatat lonjakan signifikan aktivitas perdagangan. "Dalam tujuh hari terakhir, volume transaksi naik hampir 50% dibandingkan periode sebelumnya. Pada hari Bitcoin menembus rekor, volume perdagangan di Indodax mencapai sekitar Rp1 triliun," ungkap Antony.
Baca Juga: The Fed Pangkas Suku Bunga, Harga Bitcoin Melejit Tembus Rp1,94 Miliar
Menurutnya, peningkatan tersebut menunjukkan semakin kuatnya kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap investasi kripto. "Banyak investor mulai memandang aset digital sebagai bagian dari strategi keuangan jangka panjang," ucapnya.
Antony menilai momentum ini menjadi peluang bagi Indonesia untuk memperkuat posisi di ekosistem kripto Asia Tenggara. "Dengan regulasi yang makin jelas dan dukungan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), industri aset digital nasional berpotensi tumbuh pesat," tuturnya.
Ia menambahkan, selama Bitcoin mampu bertahan di atas level psikologis USD120.000, tren kenaikan diperkirakan masih berlanjut. "Investor sebaiknya tetap disiplin dan tidak terjebak euforia jangka pendek. Strategi pembelian bertahap atau Dollar-Cost Averaging (DCA) menjadi cara yang efektif menghadapi volatilitas pasar," pungkas Antony.
(nng)
Lihat Juga :