Bank Dunia Kerek Proyeksi Ekonomi Indonesia Jadi 4,8%, Ada Peran Purbaya?
Kamis, 09 Oktober 2025 - 07:48 WIB
loading...
Suasana gedung pencakar langit tampak dari ketinggian di Jakarta. FOTO/dok.Sindonews
A
A
A
JAKARTA - Bank Dunia menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 menjadi 4,8%, naik tipis dari prediksi sebelumnya sebesar 4,7% yang dirilis pada April. Revisi ini tercantum dalam laporan East Asia and Pacific Economic Update edisi Oktober 2025.
Meski menunjukkan perbaikan, Bank Dunia tetap mengingatkan bahwa prospek ekonomi kawasan Asia Timur dan Pasifik (EAP) secara keseluruhan cenderung melambat pada 2025 dan kembali melemah pada 2026. Perlambatan ini dipicu meningkatnya ketidakpastian global, pembatasan perdagangan, serta melemahnya momentum ekonomi dunia.
Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik, Aaditya Mattoo, menjelaskan pertumbuhan agregat di kawasan EAP diproyeksikan sebesar 4,8% pada 2025 dan turun menjadi 4,3% pada 2026.
"Banyak perusahaan di kawasan ini menunda ekspansi karena masih bersikap wait and see terhadap ketidakpastian global dan kebijakan perdagangan," ujar dia dikutip dari laporan Bank Dunia, Kamis (8/10).
Baca Juga: Diprotes Gubernur se-Indonesia, Purbaya: TKD Bisa Naik Lagi Kalau Ekonomi Pulih
Bank Dunia memproyeksikan, penurunan pertumbuhan sebesar satu poin persentase di negara-negara G7 dapat memangkas laju pertumbuhan ekonomi negara berkembang Asia Timur dan Pasifik hingga 0,6 poin pada tahun berikutnya. Meski demikian, Indonesia dan China dinilai masih mampu menjaga pertumbuhan relatif stabil di kisaran 5% berkat peran kuat pemerintah.
Laporan tersebut mencatat, komposisi belanja pemerintah Indonesia yang masih dominan pada subsidi pangan, energi, dan transportasi, serta investasi yang diarahkan negara, perlu dioptimalkan agar lebih berdampak pada peningkatan produktivitas dan kesejahteraan jangka panjang. Namun, Indonesia tetap diapresiasi karena mampu menjaga defisit fiskal dalam batas aman sesuai aturan.
Sementara, pasar tenaga kerja di kawasan EAP disebut tetap tangguh, meski tantangan pengangguran muda masih membayangi. Sekitar satu dari tujuh pemuda di China dan Indonesia belum memiliki pekerjaan. Perubahan teknologi, digitalisasi, dan adopsi kecerdasan buatan (AI) juga menciptakan pergeseran besar dalam struktur ketenagakerjaan.
Baca Juga: Dapat Duit Rp10 Triliun dari Purbaya, Dirut BSI: Sebentar Lagi Juga Habis
Di Indonesia, penduduk usia muda 15–24 tahun mencapai hampir 15% dari total populasi, sedangkan tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan tertinggal sekitar 15 poin persentase dibanding laki-laki. Kondisi ini dinilai mirip dengan Malaysia dan Filipina, dan menjadi tantangan tersendiri bagi inklusi ekonomi nasional.
Bank Dunia menilai, kontras demografis antara populasi menua di China dan Malaysia, serta ledakan populasi muda di Indonesia dan Kamboja, akan menentukan arah ketenagakerjaan di kawasan dalam dekade mendatang. Lembaga tersebut menekankan pentingnya penciptaan pekerjaan yang lebih produktif, terutama bagi pemuda dan perempuan untuk menjaga daya saing ekonomi kawasan.
Meski menunjukkan perbaikan, Bank Dunia tetap mengingatkan bahwa prospek ekonomi kawasan Asia Timur dan Pasifik (EAP) secara keseluruhan cenderung melambat pada 2025 dan kembali melemah pada 2026. Perlambatan ini dipicu meningkatnya ketidakpastian global, pembatasan perdagangan, serta melemahnya momentum ekonomi dunia.
Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik, Aaditya Mattoo, menjelaskan pertumbuhan agregat di kawasan EAP diproyeksikan sebesar 4,8% pada 2025 dan turun menjadi 4,3% pada 2026.
"Banyak perusahaan di kawasan ini menunda ekspansi karena masih bersikap wait and see terhadap ketidakpastian global dan kebijakan perdagangan," ujar dia dikutip dari laporan Bank Dunia, Kamis (8/10).
Baca Juga: Diprotes Gubernur se-Indonesia, Purbaya: TKD Bisa Naik Lagi Kalau Ekonomi Pulih
Bank Dunia memproyeksikan, penurunan pertumbuhan sebesar satu poin persentase di negara-negara G7 dapat memangkas laju pertumbuhan ekonomi negara berkembang Asia Timur dan Pasifik hingga 0,6 poin pada tahun berikutnya. Meski demikian, Indonesia dan China dinilai masih mampu menjaga pertumbuhan relatif stabil di kisaran 5% berkat peran kuat pemerintah.
Laporan tersebut mencatat, komposisi belanja pemerintah Indonesia yang masih dominan pada subsidi pangan, energi, dan transportasi, serta investasi yang diarahkan negara, perlu dioptimalkan agar lebih berdampak pada peningkatan produktivitas dan kesejahteraan jangka panjang. Namun, Indonesia tetap diapresiasi karena mampu menjaga defisit fiskal dalam batas aman sesuai aturan.
Sementara, pasar tenaga kerja di kawasan EAP disebut tetap tangguh, meski tantangan pengangguran muda masih membayangi. Sekitar satu dari tujuh pemuda di China dan Indonesia belum memiliki pekerjaan. Perubahan teknologi, digitalisasi, dan adopsi kecerdasan buatan (AI) juga menciptakan pergeseran besar dalam struktur ketenagakerjaan.
Baca Juga: Dapat Duit Rp10 Triliun dari Purbaya, Dirut BSI: Sebentar Lagi Juga Habis
Di Indonesia, penduduk usia muda 15–24 tahun mencapai hampir 15% dari total populasi, sedangkan tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan tertinggal sekitar 15 poin persentase dibanding laki-laki. Kondisi ini dinilai mirip dengan Malaysia dan Filipina, dan menjadi tantangan tersendiri bagi inklusi ekonomi nasional.
Bank Dunia menilai, kontras demografis antara populasi menua di China dan Malaysia, serta ledakan populasi muda di Indonesia dan Kamboja, akan menentukan arah ketenagakerjaan di kawasan dalam dekade mendatang. Lembaga tersebut menekankan pentingnya penciptaan pekerjaan yang lebih produktif, terutama bagi pemuda dan perempuan untuk menjaga daya saing ekonomi kawasan.
(nng)
Lihat Juga :