Leadership Jelek, Presiden Prabowo Diminta Evaluasi Kinerja Bahlil
Minggu, 12 Oktober 2025 - 19:35 WIB
loading...
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia saat menyampaikan keterangan saat konferensi pers soal kelangkaan BBM SPBU swasta di Gedung Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (19/9/2025). FOTO/Arif Julianto
A
A
A
JAKARTA - Pengamat energi sekaligus Direktur Eksekutif Institute for Essential Service Reform (IESR), Fabby Tumiwa, memberikan rapor merah terhadap kinerja Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia pada tahun pertama pemerintahan Prabowo–Gibran. Ia menilai performa kementerian di bawah kepemimpinan Bahlil belum menunjukkan perbaikan di sektor ini.
Fabby menyebut, ada tiga indikator utama yang mencerminkan lemahnya kinerja tersebut, yakni pencapaian target produksi minyak, bauran energi terbarukan, dan efisiensi subsidi energi. Ketiganya, kata dia, justru memperlihatkan tren memburuk karena masih buruknya iklim investasi di sektor energi Indonesia.
"Karena leadership-nya jelek dianggap (investor). Jadi menurut saya ini harus sekali Presiden Prabowo mengevaluasi kinerja Menteri ESDM," ujarnya saat dihubungi SindoNews, Minggu (12/10/2025).
Baca Juga: Nyiksa Rakyat, Prabowo Didesak Copot Bahlil Ganti Menteri ESDM
Menurut dia lifting minyak menunjukkan penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Pada Juni 2025, lifting minyak tercatat sebesar 608.000 barel per hari hanya sedikit di atas target APBN sebesar 605.000 barel per hari. Namun, capaian tersebut tidak mencerminkan keberhasilan karena target tersebut sudah diturunkan dari tahun ke tahun.
Target lifting minyak sempat ditetapkan 703.000 barel per hari pada 2022, lalu turun menjadi 660.000 barel per hari pada 2023, kemudian 635.000 barel per hari pada 2024, dan kini kembali terkoreksi menjadi 605.000 barel per hari.
"Kalau kemudian targetnya tinggi, sesuai dengan target yang dicanangkan pemerintah, lalu kemudian bisa dicapai, nah itu baru kita angkat topi. Lifting capai target APBN karena target yang ditetapkan rendah, kalau mencapai target rendah bukan prestasi," katanya.
Dia mengatakan menurunnya lifting minyak tidak semata soal teknis, tetapi menggambarkan mandeknya investasi di sektor hulu migas. Ia menilai sejumlah kebijakan Menteri ESDM justru memperburuk iklim investasi, termasuk kebijakan pembatasan kuota impor BBM oleh operator SPBU swasta yang menambah beban biaya pelaku usaha.
"Akhirnya kan lebih baik mereka keluar dari Indonesia, dan itu akan terjadi. Shell sudah bilang mereka hengkang dari Indonesia awal tahun depan," ujar dia.
Fabby juga menyoroti meningkatnya proyeksi anggaran subsidi energi pada 2026 yang mencapai lebih dari Rp210 triliun. Ia menilai lonjakan subsidi itu menunjukkan belum tercapainya kemandirian energi nasional karena produksi dalam negeri masih belum mampu memenuhi kebutuhan nasional.
"Kalau subsidi minyak tahun depan naik dibanding 2025, itu artinya produksi dalam negeri belum mencukupi kebutuhan nasional. Impor masih tinggi, terutama untuk BBM dan LPG," jelasnya.
Baca Juga: Canda Presiden Prabowo ke Bahlil: Nasib Kau Baik Jadi Menteri
Selain migas, sektor energi terbarukan juga belum menunjukkan kemajuan signifikan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2025, pemerintah menargetkan bauran energi terbarukan sebesar 23 persen pada 2025, namun hingga semester I-2025 baru terealisasi sekitar 16 persen.
"Produksi minyak tidak naik, target bauran energi terbarukan tidak tercapai, subsidinya naik. Artinya kinerja sektor ESDM itu nggak terlalu bagus di bawah menteri sekarang," pungkas Fabby.
Fabby menyebut, ada tiga indikator utama yang mencerminkan lemahnya kinerja tersebut, yakni pencapaian target produksi minyak, bauran energi terbarukan, dan efisiensi subsidi energi. Ketiganya, kata dia, justru memperlihatkan tren memburuk karena masih buruknya iklim investasi di sektor energi Indonesia.
"Karena leadership-nya jelek dianggap (investor). Jadi menurut saya ini harus sekali Presiden Prabowo mengevaluasi kinerja Menteri ESDM," ujarnya saat dihubungi SindoNews, Minggu (12/10/2025).
Baca Juga: Nyiksa Rakyat, Prabowo Didesak Copot Bahlil Ganti Menteri ESDM
Menurut dia lifting minyak menunjukkan penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Pada Juni 2025, lifting minyak tercatat sebesar 608.000 barel per hari hanya sedikit di atas target APBN sebesar 605.000 barel per hari. Namun, capaian tersebut tidak mencerminkan keberhasilan karena target tersebut sudah diturunkan dari tahun ke tahun.
Target lifting minyak sempat ditetapkan 703.000 barel per hari pada 2022, lalu turun menjadi 660.000 barel per hari pada 2023, kemudian 635.000 barel per hari pada 2024, dan kini kembali terkoreksi menjadi 605.000 barel per hari.
"Kalau kemudian targetnya tinggi, sesuai dengan target yang dicanangkan pemerintah, lalu kemudian bisa dicapai, nah itu baru kita angkat topi. Lifting capai target APBN karena target yang ditetapkan rendah, kalau mencapai target rendah bukan prestasi," katanya.
Dia mengatakan menurunnya lifting minyak tidak semata soal teknis, tetapi menggambarkan mandeknya investasi di sektor hulu migas. Ia menilai sejumlah kebijakan Menteri ESDM justru memperburuk iklim investasi, termasuk kebijakan pembatasan kuota impor BBM oleh operator SPBU swasta yang menambah beban biaya pelaku usaha.
"Akhirnya kan lebih baik mereka keluar dari Indonesia, dan itu akan terjadi. Shell sudah bilang mereka hengkang dari Indonesia awal tahun depan," ujar dia.
Fabby juga menyoroti meningkatnya proyeksi anggaran subsidi energi pada 2026 yang mencapai lebih dari Rp210 triliun. Ia menilai lonjakan subsidi itu menunjukkan belum tercapainya kemandirian energi nasional karena produksi dalam negeri masih belum mampu memenuhi kebutuhan nasional.
"Kalau subsidi minyak tahun depan naik dibanding 2025, itu artinya produksi dalam negeri belum mencukupi kebutuhan nasional. Impor masih tinggi, terutama untuk BBM dan LPG," jelasnya.
Baca Juga: Canda Presiden Prabowo ke Bahlil: Nasib Kau Baik Jadi Menteri
Selain migas, sektor energi terbarukan juga belum menunjukkan kemajuan signifikan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2025, pemerintah menargetkan bauran energi terbarukan sebesar 23 persen pada 2025, namun hingga semester I-2025 baru terealisasi sekitar 16 persen.
"Produksi minyak tidak naik, target bauran energi terbarukan tidak tercapai, subsidinya naik. Artinya kinerja sektor ESDM itu nggak terlalu bagus di bawah menteri sekarang," pungkas Fabby.
(nng)
Lihat Juga :