Eagle High Plantations Akselerasi Ekonomi Hijau lewat Kolaborasi Multisektor
Jum'at, 17 Oktober 2025 - 22:50 WIB
loading...
PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) menggelar diskusi bertema Inovasi Hijau dari Indonesia untuk Dunia di Jakarta. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) menegaskan kembali komitmennya terhadap pembangunan berkelanjutan dengan menyerukan pentingnya kolaborasi pelaku industri, akademisi, dan komunitas lingkungan untuk memperkuat ekosistem inovasi hijau di tingkat nasional. Upaya ini dinilai krusial untuk melahirkan solusi aplikatif dari Indonesia yang mampu memberi dampak bagi dunia.
Para pemangku kepentingan dalam sektor perkebunan kelapa sawit sepakat bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi poros inovasi hijau global. Kekayaan sumber daya alam, dukungan lembaga riset yang mumpuni, serta talenta muda menjadi modal utama. Tantangan terbesarnya saat ini adalah bagaimana seluruh pihak dapat bersinergi secara sistemik untuk mengubah potensi besar tersebut menjadi kekuatan nyata yang mengakselerasi transformasi berkelanjutan.
CEO Eagle High Plantations, Henderi Djunaidi, menyampaikan bahwa sektor swasta memiliki tanggung jawab moral dan strategis dalam menghadirkan solusi berkelanjutan yang aplikatif. Ia menekankan bahwa inovasi hijau harus menjadi bagian integral dari strategi bisnis perseroan.
"Melalui riset, pemanfaatan teknologi, dan kolaborasi lintas generasi, kami yakin sektor swasta dapat menghadirkan perubahan signifikan bagi masyarakat dan lingkungan," ujar Henderi dalam pernyataannya, Jumat (17/10/2025).
Baca Juga: Integrasi Ekonomi Hijau Antarprovinsi, Sultan Najamudin Dorong Sumatera Green Invest
Sejalan dengan pandangan industri, pakar pengelolaan lingkungan, Mohamad Bijaksana Junerosano, menyoroti pentingnya perubahan paradigma dalam melihat sumber daya. Menurutnya, inovasi hijau tidak hanya berfokus pada upaya mengurangi emisi, tetapi juga tentang cara membangun nilai tambah dari hal yang sebelumnya dianggap limbah. “Kita harus mengubah cara pandang terhadap limbah. Dengan pendekatan inovatif, sisa produksi justru bisa menjadi sumber daya baru yang menggerakkan ekonomi hijau,” tegas Bijaksana.
Dari sisi akademisi, Prof. Bayu Krisnamurthi menilai bahwa inovasi hijau seharusnya menjadi bagian dari transformasi sistemik bangsa. Bayu menyebut, inovasi bukan semata urusan teknologi canggih, melainkan juga solusi sosial yang menumbuhkan kesadaran kolektif terhadap keberlanjutan.
"Inovasi hijau harus lahir dari akar masyarakat lokal dan mampu memberi dampak global. Sinergi nyata antara dunia usaha, akademisi, dan masyarakat, seperti yang diinisiasi EHP, patut diapresiasi," katanya.
Prof. Bayu dan Bijaksana sama-sama menekankan peran vital generasi muda dalam mengakselerasi inovasi berkelanjutan. Prof. Bayu berpendapat, perusahaan yang membuka ruang bagi anak muda untuk bereksperimen dan berinovasi sedang menanam benih masa depan hijau Indonesia. Sementara itu, Bijaksana menilai masa depan industri kelapa sawit akan ditentukan oleh kemampuan berinovasi dan keberanian melibatkan talenta baru yang membawa perspektif segar ke dalam rantai pasok.
Baca Juga: Inovasi Muda Perkuat Peran Pemuda Hadapi Tantangan Ekonomi Hijau
Untuk memperkuat sinergi ini, PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) menggelar diskusi bertema “Inovasi Hijau dari Indonesia untuk Dunia” di Jakarta, pada Kamis (16/10). Kegiatan ini menutup rangkaian acara dengan seruan agar keberhasilan inovasi diukur dari dampak sosial dan lingkungan yang dihasilkan, bukan hanya kecanggihan teknologi semata.
Sebagai informasi, BWPT merupakan perusahaan perkebunan kelapa sawit yang mengelola total luas lahan 87.000 hektare di Sumatera, Kalimantan, dan Papua, dengan seluruh produk minyak kelapa sawitnya telah tersertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) sebagai wujud komitmen terhadap praktik berkelanjutan.
Para pemangku kepentingan dalam sektor perkebunan kelapa sawit sepakat bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi poros inovasi hijau global. Kekayaan sumber daya alam, dukungan lembaga riset yang mumpuni, serta talenta muda menjadi modal utama. Tantangan terbesarnya saat ini adalah bagaimana seluruh pihak dapat bersinergi secara sistemik untuk mengubah potensi besar tersebut menjadi kekuatan nyata yang mengakselerasi transformasi berkelanjutan.
CEO Eagle High Plantations, Henderi Djunaidi, menyampaikan bahwa sektor swasta memiliki tanggung jawab moral dan strategis dalam menghadirkan solusi berkelanjutan yang aplikatif. Ia menekankan bahwa inovasi hijau harus menjadi bagian integral dari strategi bisnis perseroan.
"Melalui riset, pemanfaatan teknologi, dan kolaborasi lintas generasi, kami yakin sektor swasta dapat menghadirkan perubahan signifikan bagi masyarakat dan lingkungan," ujar Henderi dalam pernyataannya, Jumat (17/10/2025).
Baca Juga: Integrasi Ekonomi Hijau Antarprovinsi, Sultan Najamudin Dorong Sumatera Green Invest
Sejalan dengan pandangan industri, pakar pengelolaan lingkungan, Mohamad Bijaksana Junerosano, menyoroti pentingnya perubahan paradigma dalam melihat sumber daya. Menurutnya, inovasi hijau tidak hanya berfokus pada upaya mengurangi emisi, tetapi juga tentang cara membangun nilai tambah dari hal yang sebelumnya dianggap limbah. “Kita harus mengubah cara pandang terhadap limbah. Dengan pendekatan inovatif, sisa produksi justru bisa menjadi sumber daya baru yang menggerakkan ekonomi hijau,” tegas Bijaksana.
Dari sisi akademisi, Prof. Bayu Krisnamurthi menilai bahwa inovasi hijau seharusnya menjadi bagian dari transformasi sistemik bangsa. Bayu menyebut, inovasi bukan semata urusan teknologi canggih, melainkan juga solusi sosial yang menumbuhkan kesadaran kolektif terhadap keberlanjutan.
"Inovasi hijau harus lahir dari akar masyarakat lokal dan mampu memberi dampak global. Sinergi nyata antara dunia usaha, akademisi, dan masyarakat, seperti yang diinisiasi EHP, patut diapresiasi," katanya.
Prof. Bayu dan Bijaksana sama-sama menekankan peran vital generasi muda dalam mengakselerasi inovasi berkelanjutan. Prof. Bayu berpendapat, perusahaan yang membuka ruang bagi anak muda untuk bereksperimen dan berinovasi sedang menanam benih masa depan hijau Indonesia. Sementara itu, Bijaksana menilai masa depan industri kelapa sawit akan ditentukan oleh kemampuan berinovasi dan keberanian melibatkan talenta baru yang membawa perspektif segar ke dalam rantai pasok.
Baca Juga: Inovasi Muda Perkuat Peran Pemuda Hadapi Tantangan Ekonomi Hijau
Untuk memperkuat sinergi ini, PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) menggelar diskusi bertema “Inovasi Hijau dari Indonesia untuk Dunia” di Jakarta, pada Kamis (16/10). Kegiatan ini menutup rangkaian acara dengan seruan agar keberhasilan inovasi diukur dari dampak sosial dan lingkungan yang dihasilkan, bukan hanya kecanggihan teknologi semata.
Sebagai informasi, BWPT merupakan perusahaan perkebunan kelapa sawit yang mengelola total luas lahan 87.000 hektare di Sumatera, Kalimantan, dan Papua, dengan seluruh produk minyak kelapa sawitnya telah tersertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) sebagai wujud komitmen terhadap praktik berkelanjutan.
(nng)
Lihat Juga :