Kinerja Pertanian Melesat, Sumbang 13,83% ke PDB RI
Rabu, 22 Oktober 2025 - 13:57 WIB
loading...
Sektor pertanian kembali menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Sektor pertanian kembali menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia. Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkapkan, kontribusi sektor ini terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional mencapai 13,83 persen, tertinggi di antara sektor lainnya.
“PDB kita penyumbang terbesar berasal dari sektor pertanian, yaitu 13,83 persen. Data ini disampaikan langsung oleh Menteri Keuangan saat rapat terakhir di DPR,” ujar Amran dalam konferensi pers Satu Tahun Kinerja Pembangunan Pertanian di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu (22/10).
Baca Juga: Harga Pupuk Turun 20%, Mentan Amran: Pertama Kali Sepanjang Sejarah
Amran menegaskan, capaian tersebut menjadi bukti nyata bahwa pertanian tetap menjadi penopang utama ekonomi nasional di tengah dinamika global. Menurutnya, kinerja positif itu tidak hanya terlihat dari sumbangan terhadap PDB, tetapi juga peningkatan kesejahteraan petani yang tercermin dari kenaikan Nilai Tukar Petani (NTP) hingga menyentuh angka 124,36—tertinggi sepanjang sejarah.
“Kenaikan NTP ini dipicu oleh naiknya Harga Pembelian Pemerintah (HPP) dari Rp5.000 menjadi Rp6.500 per kilogram, sesuai instruksi langsung Presiden. Alhamdulillah, petani benar-benar menikmati hasil kebijakan ini,” ujarnya.
Capaian positif juga tampak pada kinerja Bulog yang berhasil menyerap gabah petani hingga 4,2 juta ton—angka tertinggi dalam sejarah. Sementara ekspor hasil pertanian tumbuh signifikan sebesar 42,19 persen dibanding tahun 2024. Peningkatan ini turut memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu negara agraris yang mampu menjaga stabilitas pangan dan devisa ekspor.
Baca Juga: Harga Pupuk Subsidi Turun 20%, Berlaku Mulai Hari Ini
Amran menambahkan, produksi beras nasional juga mengalami lonjakan. Hingga Oktober 2025, produksi telah mencapai 33,19 juta ton, naik dari 30 juta ton pada tahun sebelumnya. Ia memperkirakan total produksi beras tahun ini akan menembus 34,3 juta ton, atau meningkat sekitar 4 juta ton dibanding 2024.
“Ini merupakan lompatan tertinggi sepanjang sejarah. Kesejahteraan petani meningkat, dan data ini bukan hanya dari Kementerian Pertanian, tapi juga diakui oleh BPS, FAO, hingga Kementerian Pertanian Amerika Serikat,” tegas Amran.
“PDB kita penyumbang terbesar berasal dari sektor pertanian, yaitu 13,83 persen. Data ini disampaikan langsung oleh Menteri Keuangan saat rapat terakhir di DPR,” ujar Amran dalam konferensi pers Satu Tahun Kinerja Pembangunan Pertanian di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu (22/10).
Baca Juga: Harga Pupuk Turun 20%, Mentan Amran: Pertama Kali Sepanjang Sejarah
Amran menegaskan, capaian tersebut menjadi bukti nyata bahwa pertanian tetap menjadi penopang utama ekonomi nasional di tengah dinamika global. Menurutnya, kinerja positif itu tidak hanya terlihat dari sumbangan terhadap PDB, tetapi juga peningkatan kesejahteraan petani yang tercermin dari kenaikan Nilai Tukar Petani (NTP) hingga menyentuh angka 124,36—tertinggi sepanjang sejarah.
“Kenaikan NTP ini dipicu oleh naiknya Harga Pembelian Pemerintah (HPP) dari Rp5.000 menjadi Rp6.500 per kilogram, sesuai instruksi langsung Presiden. Alhamdulillah, petani benar-benar menikmati hasil kebijakan ini,” ujarnya.
Capaian positif juga tampak pada kinerja Bulog yang berhasil menyerap gabah petani hingga 4,2 juta ton—angka tertinggi dalam sejarah. Sementara ekspor hasil pertanian tumbuh signifikan sebesar 42,19 persen dibanding tahun 2024. Peningkatan ini turut memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu negara agraris yang mampu menjaga stabilitas pangan dan devisa ekspor.
Baca Juga: Harga Pupuk Subsidi Turun 20%, Berlaku Mulai Hari Ini
Amran menambahkan, produksi beras nasional juga mengalami lonjakan. Hingga Oktober 2025, produksi telah mencapai 33,19 juta ton, naik dari 30 juta ton pada tahun sebelumnya. Ia memperkirakan total produksi beras tahun ini akan menembus 34,3 juta ton, atau meningkat sekitar 4 juta ton dibanding 2024.
“Ini merupakan lompatan tertinggi sepanjang sejarah. Kesejahteraan petani meningkat, dan data ini bukan hanya dari Kementerian Pertanian, tapi juga diakui oleh BPS, FAO, hingga Kementerian Pertanian Amerika Serikat,” tegas Amran.
(nng)
Lihat Juga :