Produksi Beras RI Melesat, Mentan Ungkap Banyak Negara Lain Kepo
Sabtu, 25 Oktober 2025 - 19:18 WIB
loading...
Selain dari negara tetangga, Mentan Amran juga mengungkapkan, bahwa Menteri Pertanian Jepang yang sebelumnya belum pernah ke Tanah Air, belum lama ini datang ke Indonesia. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Produksi beras Indonesia pada tahun 2025 menunjukkan tren lonjakan signifikan, yang membuat banyak negara lain penasaran ingin tahu atau knowing every particular object (kepo). Bahkan beberapa negara menyambangi Indonesia untuk pertama kali sepanjang sejarah, lantaran tertarik dengan produksi beras nasional.
"Malaysia, menterinya datang setelah statement. Menanyakan bagaimana meningkatkan produksi dengan cepat. Bukan Malaysia saja, beberapa menteri di dunia baru pertama kali datang ke Indonesia selama merdeka," ungkap Menteri Pertanian ( Mentan ) Amran Sulaiman dalam podcast "8 Jam Nonstop Bicara Bangsa: Rapor Satu Tahun Asta Cita Prabowo–Gibran " yang disiarkan langsung di kanal YouTube SindoNews, Jumat (24/10/2025).
Selain dari negara tetangga, Mentan Amran juga mengungkapkan, bahwa Menteri Pertanian Jepang yang sebelumnya belum pernah ke Tanah Air, belum lama ini datang ke Indonesia. Selain itu disebutkan juga ada menteri dari Chili, Kanada, Australia, Belarusia, hingga Selandia Baru tertarik dengan pertanian Indonesia, khususnya produksi beras.
Baca Juga: Mentan Amran Buka-bukan Soal Produksi Beras Indonesia, Bakal Nomor 2 Terbesar Dunia
"Pertama dalam sejarah, dan mereka bertanya apa dilakukan Indonesia? Kemudian, Chili. Tidak pernah ke Indonesia, baru sekarang. Ada juga Menteri Pertanian Brazil dan Palestina," bebernya.
Sementara itu peningkatan produksi beras Indonesia bukan tanpa tantangan. Mentan menjabarkan beberapa masalah di sektor pertanian secara khusus dalam kesempatan podcast "8 Jam Nonstop Bicara Bangsa: Rapor Satu Tahun Asta Cita Prabowo–Gibran" yang disiarkan langsung di kanal YouTube SindoNews.
"Jadi tantangan pertama adalah sumber daya manusia. Selanjutnya kita hadapi climate change, perubahan iklim yang begitu dahsyat. Elnino itu sangat dahsyat," terangnya.
Baca Juga: Produksi Beras Bisa Tembus 33,19 Juta Ton, Dekati Prediksi FAO dan USDA
Selanjutnya Mentan juga menyoroti birokrasi dan regulasi yang menjadi hambatan. "Sistemnya terus iklimnya sudah bermasalah, kemudian birokasi dan regulasinya dibongkat. Ini butuh ketegasan, butuh keberpihakan pada petani kecil karena ini tidak ringan. Kemudian ada lagi mafia, koruptor, jadi ini semua menjadi tantangan," ungkap Mentan.
"Malaysia, menterinya datang setelah statement. Menanyakan bagaimana meningkatkan produksi dengan cepat. Bukan Malaysia saja, beberapa menteri di dunia baru pertama kali datang ke Indonesia selama merdeka," ungkap Menteri Pertanian ( Mentan ) Amran Sulaiman dalam podcast "8 Jam Nonstop Bicara Bangsa: Rapor Satu Tahun Asta Cita Prabowo–Gibran " yang disiarkan langsung di kanal YouTube SindoNews, Jumat (24/10/2025).
Selain dari negara tetangga, Mentan Amran juga mengungkapkan, bahwa Menteri Pertanian Jepang yang sebelumnya belum pernah ke Tanah Air, belum lama ini datang ke Indonesia. Selain itu disebutkan juga ada menteri dari Chili, Kanada, Australia, Belarusia, hingga Selandia Baru tertarik dengan pertanian Indonesia, khususnya produksi beras.
Baca Juga: Mentan Amran Buka-bukan Soal Produksi Beras Indonesia, Bakal Nomor 2 Terbesar Dunia
"Pertama dalam sejarah, dan mereka bertanya apa dilakukan Indonesia? Kemudian, Chili. Tidak pernah ke Indonesia, baru sekarang. Ada juga Menteri Pertanian Brazil dan Palestina," bebernya.
Sementara itu peningkatan produksi beras Indonesia bukan tanpa tantangan. Mentan menjabarkan beberapa masalah di sektor pertanian secara khusus dalam kesempatan podcast "8 Jam Nonstop Bicara Bangsa: Rapor Satu Tahun Asta Cita Prabowo–Gibran" yang disiarkan langsung di kanal YouTube SindoNews.
"Jadi tantangan pertama adalah sumber daya manusia. Selanjutnya kita hadapi climate change, perubahan iklim yang begitu dahsyat. Elnino itu sangat dahsyat," terangnya.
Baca Juga: Produksi Beras Bisa Tembus 33,19 Juta Ton, Dekati Prediksi FAO dan USDA
Selanjutnya Mentan juga menyoroti birokrasi dan regulasi yang menjadi hambatan. "Sistemnya terus iklimnya sudah bermasalah, kemudian birokasi dan regulasinya dibongkat. Ini butuh ketegasan, butuh keberpihakan pada petani kecil karena ini tidak ringan. Kemudian ada lagi mafia, koruptor, jadi ini semua menjadi tantangan," ungkap Mentan.
(akr)
Lihat Juga :