Harga Terus Bersinar, Tak Ada Tanda Kilau Emas Meredup
Minggu, 26 Oktober 2025 - 13:15 WIB
loading...
Kilau logam mulia terus bersinar terang di tengah ketidakpastian pasar global. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Kilau logam mulia terus bersinar terang di tengah ketidakpastian pasar global. Harga emas dunia ditutup menguat pada perdagangan Sabtu (25/10/2025), mencapai level USD4.112 per troy ounce, mengawali pekan dengan sentimen positif.
Pengamat Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan penguatan ini akan berlanjut. Untuk perdagangan awal pekan, harga emas diperkirakan bergerak dalam kisaran support USD4.006 dan resistance USD4.193.
"Di bulan Oktober untuk US$4.500 kemungkinan besar, ya bukan lagi kemungkinan, tidak akan terkena di USD4.500. Tetapi memasuki bulan November minggu pertama, kemungkinan akan menyentuh di level USD4.376," jelas Ibrahim dalam risetnya, Minggu (26/10/2025).
Baca Juga: Sempat Anjlok, Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp33.000 per Gram
Di pasar domestik, imbas kenaikan ini turut terasa. Ibrahim memperkirakan harga emas dalam negeri berpotensi bergerak di kisaran Rp2.390.000 hingga Rp2.400.000 per gram, dengan peluang penguatan lanjutan pada November mendatang.
Salah satu pendorong utama optimisme ini adalah meningkatnya ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga oleh The Federal Reserve. Sinyal-sinyal dovish dari sejumlah gubernur The Fed menguatkan peluang tersebut. "Mereka mengindikasikan bahwa kemungkinan Bank Sentral Amerika akan kembali menurunkan suku bunga. Itu dilihat dari data inflasi yang tidak sesuai dengan ekspektasi. Ekspetasinya adalah 3,1 persen tetapi kenyataannya 3 persen," ujarnya.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memproyeksikan The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) pada pertemuan pekan depan. "Sebenarnya pelaku pasar sudah tahu bahwa Bank Sentral akan menurunkan suku bunga 25 basis point, tetapi yang diinginkan oleh pasar itu adalah pernyataan dari Bank Sentral tentang ke depan, di bulan November-Desember, apakah akan kembali menurunkan suku bunga atau mempertahankan suku bunga," tambahnya.
Selain faktor moneter, gejolak politik domestik Amerika Serikat turut menambah daya tarik emas sebagai safe-haven. Pemerintahan federal AS hingga akhir pekan masih mengalami shutdown yang telah berlangsung lebih dari 24 hari. "Artinya, kemungkinan libur pemerintahan federal akan cukup lama, dan Trump ogah untuk melakukan mediasi dengan Partai Demokrat," ujar Ibrahim.
Ketegangan geopolitik juga kembali memanas. Eskalasi konflik Rusia-Ukraina yang ditandai serangan sporadis di wilayah Donetsk dan Dombas menciptakan kekhawatiran baru. Situasi ini mendorong bank-bank sentral global kembali melirik emas sebagai aset lindung nilai.
"Karena kita lihat bahwa campur tangan NATO, Inggris, dan Amerika ini akan membuat terjadinya Perang Dunia Ketiga. Nah ini yang membuat harga emas kemungkinan melonjak tinggi, kemudian harga minyak juga terus mengalami kenaikan," paparnya.
Baca Juga: Kilau Emas Antam Memudar, Hari Ini Turun Rp16.000 per Gram
Dengan kombinasi faktor fundamental dan geopolitik yang solid, Ibrahim memperkirakan harga emas global sulit menembus level Rp3 juta per gram hingga akhir Oktober. Namun, peluang penguatan signifikan sangat terbuka lebar pada November, seiring dengan permintaan yang tinggi dari bank sentral dan ketegangan global yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Pengamat Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan penguatan ini akan berlanjut. Untuk perdagangan awal pekan, harga emas diperkirakan bergerak dalam kisaran support USD4.006 dan resistance USD4.193.
"Di bulan Oktober untuk US$4.500 kemungkinan besar, ya bukan lagi kemungkinan, tidak akan terkena di USD4.500. Tetapi memasuki bulan November minggu pertama, kemungkinan akan menyentuh di level USD4.376," jelas Ibrahim dalam risetnya, Minggu (26/10/2025).
Baca Juga: Sempat Anjlok, Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp33.000 per Gram
Di pasar domestik, imbas kenaikan ini turut terasa. Ibrahim memperkirakan harga emas dalam negeri berpotensi bergerak di kisaran Rp2.390.000 hingga Rp2.400.000 per gram, dengan peluang penguatan lanjutan pada November mendatang.
Salah satu pendorong utama optimisme ini adalah meningkatnya ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga oleh The Federal Reserve. Sinyal-sinyal dovish dari sejumlah gubernur The Fed menguatkan peluang tersebut. "Mereka mengindikasikan bahwa kemungkinan Bank Sentral Amerika akan kembali menurunkan suku bunga. Itu dilihat dari data inflasi yang tidak sesuai dengan ekspektasi. Ekspetasinya adalah 3,1 persen tetapi kenyataannya 3 persen," ujarnya.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memproyeksikan The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) pada pertemuan pekan depan. "Sebenarnya pelaku pasar sudah tahu bahwa Bank Sentral akan menurunkan suku bunga 25 basis point, tetapi yang diinginkan oleh pasar itu adalah pernyataan dari Bank Sentral tentang ke depan, di bulan November-Desember, apakah akan kembali menurunkan suku bunga atau mempertahankan suku bunga," tambahnya.
Selain faktor moneter, gejolak politik domestik Amerika Serikat turut menambah daya tarik emas sebagai safe-haven. Pemerintahan federal AS hingga akhir pekan masih mengalami shutdown yang telah berlangsung lebih dari 24 hari. "Artinya, kemungkinan libur pemerintahan federal akan cukup lama, dan Trump ogah untuk melakukan mediasi dengan Partai Demokrat," ujar Ibrahim.
Ketegangan geopolitik juga kembali memanas. Eskalasi konflik Rusia-Ukraina yang ditandai serangan sporadis di wilayah Donetsk dan Dombas menciptakan kekhawatiran baru. Situasi ini mendorong bank-bank sentral global kembali melirik emas sebagai aset lindung nilai.
"Karena kita lihat bahwa campur tangan NATO, Inggris, dan Amerika ini akan membuat terjadinya Perang Dunia Ketiga. Nah ini yang membuat harga emas kemungkinan melonjak tinggi, kemudian harga minyak juga terus mengalami kenaikan," paparnya.
Baca Juga: Kilau Emas Antam Memudar, Hari Ini Turun Rp16.000 per Gram
Dengan kombinasi faktor fundamental dan geopolitik yang solid, Ibrahim memperkirakan harga emas global sulit menembus level Rp3 juta per gram hingga akhir Oktober. Namun, peluang penguatan signifikan sangat terbuka lebar pada November, seiring dengan permintaan yang tinggi dari bank sentral dan ketegangan global yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
(nng)
Lihat Juga :