Perang Dagang Melunak, AS Bekukan Aturan 50% ke China

Sabtu, 01 November 2025 - 21:00 WIB
loading...
Perang Dagang Melunak,...
Presiden Donald Trump menyambut Presiden China Xi Jinping di Korea Selatan pada hari Kamis. FOTO/AP
A A A
WASHINGTON - Amerika Serikat (AS) secara resmi akan menunda penerapan perluasan besar-besaran pengendalian ekspor yang dikenal sebagai aturan 50% selama satu tahun sebagai bagian dari kerangka kesepakatan untuk meredakan tensi perang dagang dengan China.

Keputusan penangguhan tersebut diungkapkan oleh Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, pada Kamis (31/10). Langkah ini merupakan hasil dari pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Korea Selatan, yang menjadi pertemuan perdana mereka sejak masa jabatan pertama Trump.

Bessent menjelaskan penundaan tersebut merupakan langkah timbal balik yang penting. AS menangguhkan aturan ekspor baru tersebut sebagai imbalan atas komitmen Beijing untuk menangguhkan rezim perizinan ekspor mineral tanah jarang (rare earth) yang diumumkan China pada 9 Oktober lalu.

"Kami akan menangguhkan penerapan aturan itu selama satu tahun sebagai imbalan atas penangguhan rezim perizinan ekspor mineral tanah jarang (rare earth) dari China," kata Bessent dalam wawancara dengan Fox Business.

Baca Juga: Perang Dagang Mereda, AS dan China Sepakati Penurunan Tarif Fentanyl 10%

Aturan 50% yang semula diumumkan oleh Bureau of Industry and Security (BIS) pada akhir September, dirancang untuk memperluas kewajiban perizinan ekspor AS terhadap perusahaan yang mayoritas sahamnya 50% atau lebih dimiliki oleh entitas yang masuk dalam Entity List, Military End-User List, atau daftar khusus lainnya.

Penerapan aturan ini dipandang sebagai eskalasi signifikan karena berpotensi memukul ribuan anak perusahaan yang tersebar tidak hanya di China dan Rusia, tetapi juga di pusat-pusat keuangan utama di Barat dan Asia, menurut analisis lembaga riset Kharon pada Juni lalu.

Meskipun demikian, Gedung Putih dan Departemen Perdagangan AS belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai rincian kesepakatan tersebut, termasuk apakah penangguhan aturan 50% berlaku untuk seluruh entitas yang tercakup atau hanya yang berkaitan spesifik dengan China.

Di sisi lain, Kementerian Perdagangan China (MoC) telah mengonfirmasi penangguhan ini dalam pernyataan resminya. MoC menyatakan bahwa AS akan menangguhkan penerapan aturan tersebut selama setahun, dan China akan menangguhkan tindakan pengendalian ekspor terkait yang mereka umumkan pada 9 Oktober.

Baca Juga: Perang Dagang Mereda, AS dan China Sepakati Penurunan Tarif Fentanyl 10%

Penangguhan rezim ekspor mineral tanah jarang dari China merupakan konsesi yang sangat strategis bagi Washington. China menguasai sekitar 70% produksi tambang tanah jarang global, menjadikannya pemain dominan dalam pasokan mineral vital untuk industri teknologi, mulai dari ponsel pintar hingga baterai kendaraan listrik.

Selain penangguhan sanksi, Presiden Trump juga mengumumkan bahwa sebagai bagian dari kerangka kesepakatan yang lebih luas, Beijing sepakat untuk memulai proses pembelian energi dari AS, termasuk minyak dan gas alam dari Alaska, serta melanjutkan impor kedelai asal Amerika.

Baca Juga: Terancam Perang Lawan AS, Venezuela Cari Bantuan Militer dari Rusia, China, dan Iran

Menteri Keuangan Bessent menambahkan bahwa China juga berkomitmen pada "kerja sama substansial untuk mengurangi aliran prekursor [bahan baku] fentanil ke Amerika Utara" sebagai imbalan atas pengurangan tarif dari pihak AS.

Kementerian Perdagangan China menyebutkan bahwa AS juga akan menangguhkan penyelidikan Pasal 301 terhadap industri maritim, logistik, dan galangan kapal China. Meskipun demikian, penangguhan ini tidak mencakup pembatasan lain atas ekspor tanah jarang yang diberlakukan China sejak April sebagai respons terhadap tarif impor dari AS.

(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Perkuat Rupiah, BI dan...
Perkuat Rupiah, BI dan Bank Sentral China Perdalam Penguatan Transaksi Tanpa Dolar AS
20 Negara Pengimpor...
20 Negara Pengimpor Terbesar Produk China, Indonesia Peringkat Berapa?
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan...
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan China, Ekspor Minyak Iran Merosot 80%
Krisis Energi Global,...
Krisis Energi Global, China dan Saudi Aramco Gelar Pertemuan Darurat
Tarif Trump 18% Mengancam...
Tarif Trump 18% Mengancam Komoditas Unggulan Nasional, RI Rayu AS Minta Pengecualian
10 Presiden Terkaya...
10 Presiden Terkaya Sepanjang Sejarah AS, Trump Jauh Lebih Unggul dari Pendahulunya
Beijing: Asing Mata-matai...
Beijing: Asing Mata-matai China, Gunakan Kura-kura dan Ikan yang Dipasang Sensor
Pemimpin Oposisi Zionis:...
Pemimpin Oposisi Zionis: Kesepakatan Damai AS-Iran Berarti Tak Satu Pun Tujuan Perang Israel Tercapai
Uni Emirat Arab Bayar...
Uni Emirat Arab Bayar Iran Rp355,5 Triliun agar Berhenti Menyerang
Rekomendasi
Pemimpin Oposisi Zionis:...
Pemimpin Oposisi Zionis: Kesepakatan Damai AS-Iran Berarti Tak Satu Pun Tujuan Perang Israel Tercapai
BMW Bedah M Concept...
BMW Bedah M Concept Neue Klasse, Sedan Listrik Tulen Berdesain Agresif
Miss Indonesia 2026...
Miss Indonesia 2026 Sambangi Yogyakarta, Cari Perempuan Berbakat dengan Kepedulian Sosial Tinggi
Berita Terkini
Pendaftaran Program...
Pendaftaran Program Magang ke Jepang Dibuka Kemnaker, Begini Caranya
Perkuat Rupiah, BI dan...
Perkuat Rupiah, BI dan Bank Sentral China Perdalam Penguatan Transaksi Tanpa Dolar AS
Anomali Tiket Pesawat:...
Anomali Tiket Pesawat: Penerbangan Domestik Dipungut PPN, ke Luar Negeri Bebas Pajak
Menakar Efek Domino...
Menakar Efek Domino Pertamax Rp16.250: Waspada Ancaman Inflasi
Asprindo Dorong Skema...
Asprindo Dorong Skema Hybrid Pengelolaan Blok Andaman
20 Negara Pengimpor...
20 Negara Pengimpor Terbesar Produk China, Indonesia Peringkat Berapa?
Infografis
Perang AS-Israel vs...
Perang AS-Israel vs Iran Telah Mengungkap Kelemahan Militer Inggris
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved