Harga Emas Naik Tajam, Inflasi Jakarta Lampaui Nasional
Selasa, 04 November 2025 - 12:09 WIB
loading...
Melambungnya harga emas, membuat Jakarta mencatatkan inflasi lebih tinggi dibandingkan nasional di bulan Oktober. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Melambungnya harga emas, membuat Jakarta mencatatkan inflasi lebih tinggi dibandingkan nasional di bulan Oktober. Meski demikian, inflasi ini dapat dikendalikan.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jakarta, Iwan Setiawan mengungkapkan berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi bulanan Provinsi DKI Jakarta pada Oktober 2025 sebesar 0,31 persen (mtm), tercatat lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang sebesar 0,28 persen (mtm).
"Angka tersebut juga meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0,13 persen (mtm). Dengan perkembangan tersebut, inflasi Jakarta secara tahunan sebesar 2,69 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan nasional yang mencapai 2,86 persen (yoy), serta tetap terjaga dalam rentang sasaran inflasi 2,5±1 persen (yoy)," ujar dia dalam pernyataannya, Selasa (4/11/2025).
Baca Juga: Inflasi Tahunan Jakarta Lebih Tinggi Dibandingkan Nasional, Ini Penyebabnya
Iwan mengatakan meningkatnya inflasi di Jakarta dikarena komoditas emas perhiasan kembali menjadi penyumbang utama inflasi, sejalan dengan tren kenaikan harga emas global yang mencapai level tertinggi.
Kondisi tersebut mendorong kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya mencatat inflasi sebesar 2,51 persen (mtm), meningkat dari bulan sebelumnya yang sebesar 0,69 persen (mtm), dan menjadi penyumbang utama inflasi bulan ini.
“Sedangkan kelompok makanan lebih tinggi karena naiknya harga cabai merah seiring menurunnya produksi pada periode laporan yang tercatat sebagai level terendah sepanjang tahun,” tambah Iwan.
Selain itu, tekanan harga juga disebabkan meningkatnya permintaan telur ayam ras. Hal serupa juga terjadi pada kelompok transportasi juga mengalami inflasi dengan angka sebesar 0,27 persen (mtm), tercatat lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang hanya 0,07 persen (mtm).
“Tentunya ini terjadi kenaikan tarif angkutan udara seiring meningkatnya biaya operasional sejumlah maskapai, dan penyesuaian tarif kendaraan roda dua online seiring tingginya frekuensi hujan di wilayah Jakarta,” tambahnya.
Baca Juga: BPS: Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,12% di Kuartal II 2025
Beruntung kenaikan inflasi di kelompok ini teredam karena pemberlakuan diskon tarif tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu) membantu meredam tekanan inflasi lebih lanjut.
Iwan melihat sekalipun inflasi meningkat, namun hal itu bisa dikendalikan karena sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi DKI Jakarta.
Sepanjang Oktober 2025, TPID bersama BUMD pangan di Jakarta terus memperluas berbagai program strategis, antara lain Program Pangan Bersubsidi, Pasar Murah, Program Pangan Murah, dan Bazaar Keliling untuk menjaga keterjangkauan harga bagi masyarakat.
“Sebagai bentuk komitmen nyata dalam menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pasokan beras, TPID Provinsi DKI Jakarta juga telah membentuk Satgas Pemantauan Harga Beras yang secara aktif melakukan peninjauan langsung ke pasar-pasar tradisional,” tegasnya.
Kedepan, inflasi Jakarta diperkirakan akan tetap terkendali. Menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 ini masyarakat diimbau agar bijak dalam berbelanja sesuai kebutuhan.
TPID Provinsi DKI Jakarta akan terus bersinergi, memperkuat strategi 4K (Ketersediaan Pasokan, Keterjangkauan Harga, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif) untuk memastikan kestabilan harga.
Upaya ini juga diperkuat dengan pelaksanaan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) sebagai langkah nyata pengendalian harga pangan. Dengan sinergi tersebut, inflasi Jakarta pada 2025 diharapkan tetap terjaga dalam sasaran 2,5±1 persen (yoy).
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jakarta, Iwan Setiawan mengungkapkan berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi bulanan Provinsi DKI Jakarta pada Oktober 2025 sebesar 0,31 persen (mtm), tercatat lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang sebesar 0,28 persen (mtm).
"Angka tersebut juga meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0,13 persen (mtm). Dengan perkembangan tersebut, inflasi Jakarta secara tahunan sebesar 2,69 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan nasional yang mencapai 2,86 persen (yoy), serta tetap terjaga dalam rentang sasaran inflasi 2,5±1 persen (yoy)," ujar dia dalam pernyataannya, Selasa (4/11/2025).
Baca Juga: Inflasi Tahunan Jakarta Lebih Tinggi Dibandingkan Nasional, Ini Penyebabnya
Iwan mengatakan meningkatnya inflasi di Jakarta dikarena komoditas emas perhiasan kembali menjadi penyumbang utama inflasi, sejalan dengan tren kenaikan harga emas global yang mencapai level tertinggi.
Kondisi tersebut mendorong kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya mencatat inflasi sebesar 2,51 persen (mtm), meningkat dari bulan sebelumnya yang sebesar 0,69 persen (mtm), dan menjadi penyumbang utama inflasi bulan ini.
“Sedangkan kelompok makanan lebih tinggi karena naiknya harga cabai merah seiring menurunnya produksi pada periode laporan yang tercatat sebagai level terendah sepanjang tahun,” tambah Iwan.
Selain itu, tekanan harga juga disebabkan meningkatnya permintaan telur ayam ras. Hal serupa juga terjadi pada kelompok transportasi juga mengalami inflasi dengan angka sebesar 0,27 persen (mtm), tercatat lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang hanya 0,07 persen (mtm).
“Tentunya ini terjadi kenaikan tarif angkutan udara seiring meningkatnya biaya operasional sejumlah maskapai, dan penyesuaian tarif kendaraan roda dua online seiring tingginya frekuensi hujan di wilayah Jakarta,” tambahnya.
Baca Juga: BPS: Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,12% di Kuartal II 2025
Beruntung kenaikan inflasi di kelompok ini teredam karena pemberlakuan diskon tarif tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu) membantu meredam tekanan inflasi lebih lanjut.
Iwan melihat sekalipun inflasi meningkat, namun hal itu bisa dikendalikan karena sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi DKI Jakarta.
Sepanjang Oktober 2025, TPID bersama BUMD pangan di Jakarta terus memperluas berbagai program strategis, antara lain Program Pangan Bersubsidi, Pasar Murah, Program Pangan Murah, dan Bazaar Keliling untuk menjaga keterjangkauan harga bagi masyarakat.
“Sebagai bentuk komitmen nyata dalam menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pasokan beras, TPID Provinsi DKI Jakarta juga telah membentuk Satgas Pemantauan Harga Beras yang secara aktif melakukan peninjauan langsung ke pasar-pasar tradisional,” tegasnya.
Kedepan, inflasi Jakarta diperkirakan akan tetap terkendali. Menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 ini masyarakat diimbau agar bijak dalam berbelanja sesuai kebutuhan.
TPID Provinsi DKI Jakarta akan terus bersinergi, memperkuat strategi 4K (Ketersediaan Pasokan, Keterjangkauan Harga, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif) untuk memastikan kestabilan harga.
Upaya ini juga diperkuat dengan pelaksanaan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) sebagai langkah nyata pengendalian harga pangan. Dengan sinergi tersebut, inflasi Jakarta pada 2025 diharapkan tetap terjaga dalam sasaran 2,5±1 persen (yoy).
(nng)
Lihat Juga :