Sawit Masih Jadi Andalan Ekonomi RI, Target Produksi 92 Juta Ton di 2045

Selasa, 04 November 2025 - 21:14 WIB
loading...
Sawit Masih Jadi Andalan...
Pemerintah menargetkan produktivitas kebun rakyat dapat meningkat dua hingga tiga kali lipat dalam empat tahun ke depan. FOTO/dok.SindoNews
A A A
JAKARTA - Industri kelapa sawit terus menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Tak hanya menopang devisa ekspor, sektor ini juga menjadi sumber penghidupan bagi sekitar 16 juta orang di seluruh Indonesia. Pemerintah pun menargetkan produksi sawit nasional mencapai 92 juta ton pada 2045 mendatang.

Staf Ahli Bidang Konektivitas dan Pengembangan Jasa Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Dida Gardera, mengatakan Indonesia memiliki sekitar 16,38 juta hektare lahan sawit. Dari total itu, 53% dikelola swasta, 6% oleh BUMN, dan sisanya 41% oleh petani swadaya.

“Produktivitas sawit kita masih bisa ditingkatkan. Saat ini rata-rata produksi masih di bawah empat ton per hektare, sementara perusahaan besar bisa mencapai 10 hingga 12 ton per hektare,” ujar dia dalam diskusi publik bertema ‘Peran Industri Sawit dalam Perekonomian Berkelanjutan Menuju Indonesia Emas 2045’ di Jakarta, Selasa (4/11/2025).

Baca Juga: Perlu Peninjauan Kembali Data Satgas PKH agar Kebijakan Tak Rugikan Petani Sawit

Melalui program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), pemerintah menargetkan produktivitas kebun rakyat dapat meningkat dua hingga tiga kali lipat dalam empat tahun ke depan. “Sawit memiliki keunggulan besar dibanding minyak nabati lain seperti bunga matahari dan rapeseed karena produktivitasnya bisa empat kali lipat lebih tinggi,” tambah Dida.



Menurut dia, keunggulan ini menjadikan sawit sebagai komoditas minyak nabati paling efisien dan berkelanjutan di dunia. Untuk memastikan keberlanjutan, pemerintah memperkuat implementasi sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) yang kini mencakup seluruh rantai industri, dari hulu hingga hilir, sesuai Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2025.

“ISPO bersifat wajib. Untuk pekebun kecil, sertifikasi diberi masa transisi empat tahun, dengan seluruh biaya ditanggung pemerintah,” ujarnya.

Pemerintah juga tengah mengembangkan sistem informasi ISPO agar data lahan sawit lebih transparan dan mudah dilacak. Setiap lahan tersertifikasi nantinya dapat diverifikasi bebas dari kawasan hutan dan tidak tumpang tindih dengan izin lain. “Ini akan menjadi game changer dalam tata kelola sawit kita,” kata Dida.

Ia menambahkan, pengembangan energi hijau berbasis sawit seperti biofuel, biogas, dan bioavtur juga membuka peluang ekonomi baru. Saat ini terdapat sekitar 200 produk turunan sawit yang telah dikomersialisasikan, mulai dari kosmetik hingga energi terbarukan. Bahkan 40% kandungan biodiesel nasional berasal dari sawit.

Sementara itu, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Surjadi, menekankan pentingnya memperkuat dimensi sosial dalam pembangunan industri sawit. “Kesejahteraan petani swadaya harus menjadi fokus. Banyak dari mereka memiliki lahan kecil, 2–3 hektare, dan kesulitan mengakses pupuk maupun pendanaan,” ujarnya.

Ia mendorong pembentukan kelompok tani yang mendapat pendampingan dari perusahaan besar atau pemerintah agar memiliki posisi tawar lebih baik. “Selain petani, buruh perkebunan juga bagian penting dari ekosistem sawit. Mereka berhak atas pekerjaan layak dan status formal,” katanya.

Baca Juga: Tanpa Perhitungan Matang, Kebijakan B50 Berpotensi Mematikan Sawit Nasional

Mengutip hasil riset IPB University yang dipublikasikan di Forest Policy & Economics tahun 2020, Surjadi menegaskan bahwa konflik antara ekonomi dan lingkungan bisa diminimalkan. “Dengan pengelolaan yang tepat, perkebunan sawit di lahan gambut pun dapat menekan emisi tanpa mengorbankan produktivitas,” ujarnya.

Adapun Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Eddy Martono, mengatakan target produksi sawit nasional pada 2045 mencapai 92 juta ton, hampir dua kali lipat dari capaian saat ini sekitar 53 juta ton.

Menurut Eddy, pembenahan sektor hulu harus menjadi prioritas. “Hilirisasi tidak akan berhasil jika hulunya bermasalah. Produksi sawit stagnan lima tahun terakhir. Karena itu, peningkatan produktivitas petani dan efisiensi kebun menjadi kunci,” katanya.

Ia menilai program biodiesel berperan besar menjaga stabilitas harga sawit dan memperkuat ekonomi daerah. “Sebelum program biodiesel, harga sawit sempat di bawah biaya produksi. Sekarang harga bisa bertahan dan petani kembali bergairah,” ujarnya.

Eddy menambahkan, Gapki terus menjalankan program tanggung jawab sosial (CSR) di bidang pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan pemberdayaan masyarakat. “Kami ingin industri sawit tidak hanya kuat secara ekonomi, tapi juga membawa manfaat sosial dan ramah lingkungan,” pungkasnya.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Ini Jenis Produk Sawit...
Ini Jenis Produk Sawit dan Batu Bara yang Ekspornya Diatur Lewat PT DSI
Petani Sawit Apresiasi...
Petani Sawit Apresiasi PKS Taat HPP di Tengah Anjloknya Harga TBS
10 Perusahaan Diduga...
10 Perusahaan Diduga Manipulasi Nilai Ekspor Sawit, Gapki Buka Suara
DSI Diminta Tak Kuasai...
DSI Diminta Tak Kuasai Perdagangan Sawit, Fokus ke Pengawasan Digital
Ekonom Ingatkan Risiko...
Ekonom Ingatkan Risiko Ekspor Satu Pintu Jadi Monopoli Birokrasi Baru
Purbaya Bocorkan Perusahaan...
Purbaya Bocorkan Perusahaan Diduga Lakukan Underinvoicing CPO, Siapa Saja?
119 Pekebun Morowali...
119 Pekebun Morowali Ikuti Pelatihan Sawit di Palu, Fokus ISPO hingga Pemetaan Kebun
BPDP Buka Pendaftaran...
BPDP Buka Pendaftaran Beasiswa SDM Sawit 2026
Mengelola Sawit untuk...
Mengelola Sawit untuk Indonesia yang Kuat
Rekomendasi
Klasemen Peringkat Tiga...
Klasemen Peringkat Tiga Terbaik Piala Dunia 2026: Ekuador Lolos 32 Besar
Jokowi Wajib Hadir di...
Jokowi Wajib Hadir di Persidangan Perkara Ijazah, Pengacara Roy Suryo: Kan Dia Pelapor
Selat Hormuz Bergejolak...
Selat Hormuz Bergejolak Lagi, Iran Serang Kapal Berbendera Singapura
Berita Terkini
China Desak BRICS Berani...
China Desak BRICS Berani Melawan Barat: Akses Mineral Strategis Bakal Dikunci
Waspadai Phishing dan...
Waspadai Phishing dan CS Palsu di Platform Kripto, Begini Modusnya
EV Services: Membangun...
EV Services: Membangun Ekosistem Kendaraan Listrik yang Semakin Terintegrasi
Nasabah Mekaar Naik...
Nasabah Mekaar Naik Kelas Capai 2,5 Juta Sepanjang 2025
Jembatan Pasar Aset...
Jembatan Pasar Aset Tradisional dan Digital, ICE dan OKX Bentuk Joint Venture
Kredit Pintar dan AFPI...
Kredit Pintar dan AFPI Edukasi Mahasiswa Kelola Keuangan Digital
Infografis
Gaji Guru Honorer Masih...
Gaji Guru Honorer Masih Rendah, 74% Dibayar di Bawah Rp2 Juta
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved