Tak Ada Uang Menganggur, DEN Ungkap Arah Kebijakan Ekonomi 2026

Jum'at, 14 November 2025 - 07:37 WIB
loading...
Tak Ada Uang Menganggur,...
Tenaga Ahli Utama Dewan Ekonomi Nasional (DEN) menegaskan, bahwa prinsip utama arah kebijakan ekonomi tahun depan adalah tidak ada uang menganggur. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Pemerintah berencana memaksimalkan kebijakan fiskal dan moneter secara simultan pada 2026 guna memastikan likuiditas yang ada di sistem keuangan dapat tersalurkan secara optimal ke sektor riil. Tenaga Ahli Utama Dewan Ekonomi Nasional (DEN) , Luthfi Ridho menegaskan, bahwa prinsip utama arah kebijakan ekonomi tahun depan adalah tidak ada uang menganggur .

“Ya secara umum ini 2026 itu kita akan memaksimalkan dua sisi benar tadi fiskal dan moneter. Terutama di fiskal itu, nanti kita akan intinya itu tidak ada uang menganggur pada dasarnya,” ujar Luthfi dalam diskusi di Jakarta, Kamis (13/11).

Baca Juga: Kebijakan Likuiditas Purbaya Disebut Bawa Efek Ekonomi Rp1.133 Triliun

Luthfi menjelaskan, saat ini masih terdapat likuiditas yang cukup besar di sistem keuangan, namun penyalurannya ke sektor riil belum optimal. Kondisi ini menurutnya, menjadi perhatian utama pemerintah untuk ditangani pada tahun mendatang.



“Jadi sekarang itu kondisinya kalau yang kita lihat likuiditas ada tapi entah kenapa itu tersendat nggak masuk ke sektor riil. Dalam berbagai macam bentuk ya, dalam berbagai macam channel, mau kredit kah, mau bansos kah atau apa. Nah ini yang mau kita adres supaya likuiditas yang masih menurut kita berlimpah ini bisa tersalurkan ke sektor riil. Sehingga diharapkan kreditnya akan bertumbuh, ekonomi realnya akan bergerak,” jelasnya.

Menurut Luthfi, fokus utama kebijakan ekonomi 2026 adalah penciptaan lapangan kerja dan peningkatan daya beli masyarakat, khususnya di kelompok menengah. Namun, langkah tersebut tetap akan ditempuh dengan memperhatikan stabilitas harga dan pengendalian inflasi.

“Nanti di 2026 itu yang mau kita adres basically itu bagaimana menciptakan pekerjaan dan bagaimana meningkatkan daya beli. Sebetulnya kita menyadari ya meningkatkan daya beli itu something yang luas sekali ya. Cuman basically itu intinya kita ingin meningkatkan daya beli terutama yang golongan menengah,” ungkapnya.

Luthfi menegaskan bahwa inflasi yang terukur justru menunjukkan ekonomi yang tumbuh sehat. Karena itu, pemerintah menargetkan pergerakan sektor riil yang dinamis tanpa memicu lonjakan harga berlebihan.

“Kita dalam melakukan itu sedapat mungkin menjaga supaya inflasinya nggak naik. Tapi di dalam ekonomi itu inflasi is not a sin. Jadi inflasi itu kalau terlalu rendah tandanya ekonomi lagi jelek, kalau terlalu tinggi overheating. Jadi yang kita mau sebuah ekonomi sektor riil yang bergerak tanpa menimbulkan inflasi,” tambah Luthfi.

Baca Juga: Purbaya Bakal Guyur Rp200 T ke Bank, Ekonom Pede Hidupkan Ekonomi dan Buka Lapangan Kerja

Lebih lanjut, pemerintah akan memperkuat peran sektor perbankan dalam menyalurkan pembiayaan produktif. Langkah ini diharapkan menciptakan efek berganda (multiplier effect) terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

“Salah satunya itu kita mau menchannel likuiditas dari sektor perbankan ke sektor riil. Sehingga bisa terjadi multiple effect terutama dari jalur kredit. Kurang lebih itu sih among other things yang sedang kita pikirkan juga ya termasuk berbagai macam stimulus nanti tahun depan,” katanya.

Dengan demikian, Luthfi menyampaikan optimisme terhadap prospek ekonomi nasional pada tahun depan.“Kita menghadapi 2026 dengan penuh optimisme dan penuh semangat. Mudah-mudahan kita bisa membawa perekonomian ini menjadi lebih baik lagi,” pungkasnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Menakar Efek di Balik...
Menakar Efek di Balik Isu Pergantian Menkeu, Awas! Ganggu Kepercayaan Publik dan Investor
Purbaya Targetkan Ekonomi...
Purbaya Targetkan Ekonomi Indonesia Tumbuh 6,5% di 2027
Prabowo Panggil Chatib...
Prabowo Panggil Chatib Basri ke Istana, Ada Apa?
Istana Buka Suara soal...
Istana Buka Suara soal Variabel Kejatuhan Rupiah ke Rp18.000: Singgung Kemandirian Ekonomi
Mengenal Lipstick Effect,...
Mengenal Lipstick Effect, Alasan Mal dan Coffee Shop Tetap Ramai di Tengah Krisis Ekonomi
4 Temuan Penting di...
4 Temuan Penting di Tengah Kejatuhan IHSG Hampir 30% dan Rupiah Mendekati Rp18.000/USD
Luhut: Bansos ke Depan...
Luhut: Bansos ke Depan Tak Lagi Barang, Diberi Cash Transfer Rp5,4 Juta per Orang
Chatib Basri di Ajang...
Chatib Basri di Ajang Perang Ideologi Ekonomi
Asta Cita dan Reposisi...
Asta Cita dan Reposisi Peran Negara versus Pasar
Rekomendasi
Amnesty International...
Amnesty International Desak TNI Tak Dilibatkan Jaga Demo Mahasiswa Hari Ini
Kejagung Tetapkan Penyedia...
Kejagung Tetapkan Penyedia Motor Listrik MBG Andri Mulyono Jadi Tersangka
Babak Baru Kasus Erin...
Babak Baru Kasus Erin Wartia, Pelapor Serahkan Dokumen LPSK ke Penyidik
Berita Terkini
TikTok Dorong Pertumbuhan...
TikTok Dorong Pertumbuhan Industri Kecantikan Malalui ForYouBeauty 2026
Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan...
Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan 8,2 Juta Batang Rokok Ilegal di Jalur Merak-Bakauheni
Operasional Multi Lokasi...
Operasional Multi Lokasi Kini Bisa Dipantau dari Satu Dashboard
Distributor di Kaltim...
Distributor di Kaltim Ikuti Factory Visit SIG untuk Perkuat Kemitraan
Sambut Libur Sekolah,...
Sambut Libur Sekolah, Jasa Marga Optimalkan One Call Center 133
Pertamina NRE Pasang...
Pertamina NRE Pasang PLTS Pertama di Kapal Angkut Minyak
Infografis
Skuad Timnas Inggris...
Skuad Timnas Inggris di Piala Dunia 2026, Tak Ada Pemain Liverpool
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved