Danantara Bongkar Ada Aktor di Belakang Layar Bikin BUMN Rugi
Sabtu, 15 November 2025 - 19:11 WIB
loading...
Danantara menyebut ada aktor di balik layar yang membuat BUMN rugi. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Managing Director Non-Financial Holding Operasional Danantara, Febriany Eddy mengungkapkan ada aktor di belakang layar atau back actor dibalik kerugian BUMN akibat banyaknya anak usaha dan cucu BUMN yang tidak ada manfaatnya. Kondisi ini membuat perusahaan pelat merah kerap merugi karena menanggung beban operasional anak atau cucu usaha tersebut.
"Dulu dibuat perusahaan itu dengan konteks yang sudah sangat berbeda dari hari ini. Kedua mohon maaf, ada back actor juga, ada back decision juga, jadi dulu kan kalau anak bisa kita langsung tunjuk (komisaris/direksi), ini itu lah," ujarnya dalam media briefing di Jakarta, Jumat (14/11/2025).
Baca Juga: Danantara: Banyak Pesawat Garuda Tak Bisa Terbang Jadi Beban Perusahaan
Menurut dia banyak sektor usaha yang dijalankan dari anak atau cucu usaha tidak penting dan tidak menguntungkan bagi induk usaha. Febriany mengatakan, saat ini total ada sekitar 1.000 perusahaan BUMN, baik dari induk usaha, anak usaha, hingga cucu perusahaan. Bahkan setengah dari total perusahaan negara itu sampai saat ini terus merugi.
"Anak-anak perusahaan itu, contoh perusahaan telekomunikasi, pekerjaan yang gampang sekalipun bisa diambil oleh 4-5 perusahaan. Jadi margin itu hilang," jelasnya.
Ia menambahkan, saat ini yang menjadi salah satu fokus Danantara adalah memangkas jumlah perusahaan BUMN, dari yang sebelumnya berjumlah sekitar 1.000 perusahaan targetnya hanya ada sekitar 200 perusahaan saja. "Jadi anak-anak yang tidak ada manfaatnya, atau dulu dibuat dengan decision yang berbeda dari hari ini, mesti kita eliminate," tegasnya.
Baca Juga: Besok, Raja Yordania Bertemu Petinggi Danantara di Sela Kunjungan Kenegaraan
Febriany menambahkan, tujuan utama perampingan jumlah BUMN ini juga beralasan karena banyak sesama perusahaan negara yang justru berkompetisi. Ia mencontohkan BUMN Karya, satu proyek yang ditender justru diperebutkan oleh banyak perusahaan negara, meski yang kerap dikorbankan dari persaingan tender itu adalah profit margin.
"Banyak bisnis BUMN yang saling kanibal, contoh BUMN Karya. Itu misal ada tujuh perusahaan karya, kalau ada tender, tujuh-tujuhnya berkompetisi. Turunin harga, sampai tidak ada margin lagi juga tetap diturunin, yang penting dapat kerjaan," pungkasnya.
"Dulu dibuat perusahaan itu dengan konteks yang sudah sangat berbeda dari hari ini. Kedua mohon maaf, ada back actor juga, ada back decision juga, jadi dulu kan kalau anak bisa kita langsung tunjuk (komisaris/direksi), ini itu lah," ujarnya dalam media briefing di Jakarta, Jumat (14/11/2025).
Baca Juga: Danantara: Banyak Pesawat Garuda Tak Bisa Terbang Jadi Beban Perusahaan
Menurut dia banyak sektor usaha yang dijalankan dari anak atau cucu usaha tidak penting dan tidak menguntungkan bagi induk usaha. Febriany mengatakan, saat ini total ada sekitar 1.000 perusahaan BUMN, baik dari induk usaha, anak usaha, hingga cucu perusahaan. Bahkan setengah dari total perusahaan negara itu sampai saat ini terus merugi.
"Anak-anak perusahaan itu, contoh perusahaan telekomunikasi, pekerjaan yang gampang sekalipun bisa diambil oleh 4-5 perusahaan. Jadi margin itu hilang," jelasnya.
Ia menambahkan, saat ini yang menjadi salah satu fokus Danantara adalah memangkas jumlah perusahaan BUMN, dari yang sebelumnya berjumlah sekitar 1.000 perusahaan targetnya hanya ada sekitar 200 perusahaan saja. "Jadi anak-anak yang tidak ada manfaatnya, atau dulu dibuat dengan decision yang berbeda dari hari ini, mesti kita eliminate," tegasnya.
Baca Juga: Besok, Raja Yordania Bertemu Petinggi Danantara di Sela Kunjungan Kenegaraan
Febriany menambahkan, tujuan utama perampingan jumlah BUMN ini juga beralasan karena banyak sesama perusahaan negara yang justru berkompetisi. Ia mencontohkan BUMN Karya, satu proyek yang ditender justru diperebutkan oleh banyak perusahaan negara, meski yang kerap dikorbankan dari persaingan tender itu adalah profit margin.
"Banyak bisnis BUMN yang saling kanibal, contoh BUMN Karya. Itu misal ada tujuh perusahaan karya, kalau ada tender, tujuh-tujuhnya berkompetisi. Turunin harga, sampai tidak ada margin lagi juga tetap diturunin, yang penting dapat kerjaan," pungkasnya.
(nng)
Lihat Juga :