Konsumsi Masyarakat Menggeliat, Mesin Pertumbuhan Ekonomi Kuartal IV Makin Kuat
Minggu, 23 November 2025 - 20:30 WIB
loading...
Meningkatnya konsumsi masyarakat optimistis mampu mendorong permintaan domestik menjelang akhir tahun. FOTO/Isra Triansyah
A
A
A
JAKARTA - Perekonomian Indonesia memasuki kuartal IV-2025 diproyeksikan menguat di hampir seluruh indikator utama. Meningkatnya konsumsi masyarakat, sektor jasa yang kembali bergairah, dan percepatan belanja fiskal optimistis mampu mendorong permintaan domestik menjelang akhir tahun. Sementara, ekspor nonmigas tetap menjadi penopang utama di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Landasan pertumbuhan memasuki kuartal IV tercermin dari capaian kuartal III menunjukkan ekonomi tumbuh 5,04% secara tahunan. Laju tersebut menempatkan Indonesia dalam posisi kompetitif dibandingkan China yang tumbuh 4,8% dan Singapura 2,9% pada periode yang sama.
Kepala BPS Moh. Edy Mahmud menuturkan, performa tersebut menjadi titik pijak penting untuk menjaga momentum menjelang penutupan 2025. Secara tahunan, perekonomian Indonesia pada kuartal III tumbuh 5,04%.
"Jika dibandingkan dengan kuartal II secara quarter-to-quarter, tumbuh 1,43%. Adapun secara cumulative-to-cumulative sepanjang Januari sampai September, pertumbuhan mencapai 5,01%," jelas Edy dalam pemaparan resmi pada 5 November 2025.
Ia menjelaskan industri pengolahan menjadi motor terbesar pertumbuhan dengan kontribusi 1,13%, disusul perdagangan 0,72%, informasi dan komunikasi 0,63%, serta pertanian 0,61%. Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga memberikan dorongan terbesar sebesar 2,54%, diikuti net ekspor 2,15% dan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) 1,59%.
Peningkatan konsumsi tersebut tercermin dari lonjakan pengeluaran riil per kapita yang naik dari Rp12,3 juta menjadi Rp12,8 juta. Pertumbuhan tersebut didorong geliat transaksi digital, meningkatnya belanja daring, serta pergeseran perilaku pembayaran ke platform elektronik. Aktivitas masyarakat pun menguat, ditandai maraknya konser berskala besar, tingginya perjalanan udara, serta kenaikan tingkat keterisian hotel di sejumlah daerah.
Baca Juga: BPS dan Kemendag Perkuat Sinergi Penyediaan Data Harga Bahan Pokok
Sejumlah kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Bali, dan Makassar mencatat okupansi hotel pada kisaran 68–75%. Permintaan pada sektor transportasi, baik penerbangan domestik, angkutan jalan, maupun layanan transportasi daring, juga meningkat. Kondisi tersebut mencerminkan keyakinan publik yang tetap terjaga terhadap prospek ekonomi.
Indeks Keyakinan Konsumen yang konsisten berada pada level 115 dan PMI manufaktur yang bertahan di atas 51 memperkuat sinyal bahwa masyarakat dan pelaku usaha memandang situasi ekonomi secara positif. Sektor jasa hiburan, kuliner, perjalanan, dan perhotelan menjadi penerima manfaat langsung dari peningkatan konsumsi tersebut.
Di sisi kebijakan, pemerintah mempercepat realisasi belanja APBN pada kuartal IV untuk menjaga momentum pemulihan. Berbagai program Kementerian/Lembaga, bantuan sosial, serta stimulus fiskal digelontorkan sejak awal Oktober sebagai dorongan tambahan bagi konsumsi dan investasi. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa seluruh instrumen fiskal disiapkan untuk memaksimalkan dampak akhir tahun. "Saya kira di triwulan keempat kita bisa tumbuh di atas 5,5%, mungkin 5,6–5,7%," ujarnya dalam kegiatan Car Free Day di Jakarta pada 16 November 2025.
Ia menambahkan, belanja pemerintah yang dipercepat tidak sekadar memperbesar nominal serapan, melainkan didesain untuk memberi efek langsung ke daya beli. "Pemerintah sudah menyalurkan sejumlah stimulus pada periode Oktober hingga Desember, termasuk bantuan langsung tunai. Saya pastikan itu akan berdampak," kata Purbaya.
Selain konsumsi rumah tangga, ekspor nonmigas menjadi pilar kuat perekonomian. Nilainya diperkirakan mendekati USD195–USD200 miliar pada akhir 2025, jauh melampaui kinerja ekspor migas yang sekitar USD10 miliar. Produk industri pengolahan, pertanian, serta komoditas bernilai tambah seperti besi-baja, mesin, elektronik, kimia, dan makanan olahan menjadi kontributor utama ekspor nasional.
Baca Juga: Aktivitas Ekonomi Meningkat, Didorong Sektor Pariwisata dan Stabilitas Inflasi
BPS mencatat ekspor nonmigas Agustus 2025 mencapai USD23,89 miliar, naik 6,68% dibandingkan Agustus 2024. Secara kumulatif Januari–Agustus, pertumbuhan ekspor nonmigas mencapai 9,5%. Kinerja ini menjadi penopang utama PDB pada saat permintaan global di berbagai negara masih melemah.
Dari sisi investasi, PMTB tumbuh 6,99% dan tetap berada pada zona ekspansif. Pertumbuhan ini ditopang aktivitas industri manufaktur, stabilnya pembangunan infrastruktur, serta permintaan domestik yang terus meningkat. Dunia usaha memandang prospek ekonomi positif di tengah stabilitas harga.
Kendali inflasi menjadi faktor penting dalam menopang daya beli. Harga kebutuhan pokok relatif stabil sepanjang tahun, tanpa gejolak berarti. Kenaikan minat masyarakat terhadap emas sebagai instrumen investasi juga mencerminkan bahwa kepercayaan terhadap stabilitas kondisi ekonomi tetap kuat.
Meski demikian, sejumlah risiko masih harus diwaspadai, terutama perlambatan ekonomi global dan fluktuasi harga komoditas. Namun, struktur perekonomian domestik yang semakin bertumpu pada konsumsi, belanja fiskal, dan ekspor nonmigas memberi ruang lebih besar bagi Indonesia untuk menavigasi ketidakpastian tersebut.
Menjelang akhir tahun, pemerintah menilai penting untuk terus menjaga narasi optimisme agar pelaku ekonomi tetap percaya diri dalam meningkatkan belanja dan investasi. Sentimen positif ini diharapkan dapat menjadi katalis bagi penguatan ekonomi tidak hanya pada kuartal IV, tetapi juga pada tahun-tahun mendatang.
Landasan pertumbuhan memasuki kuartal IV tercermin dari capaian kuartal III menunjukkan ekonomi tumbuh 5,04% secara tahunan. Laju tersebut menempatkan Indonesia dalam posisi kompetitif dibandingkan China yang tumbuh 4,8% dan Singapura 2,9% pada periode yang sama.
Kepala BPS Moh. Edy Mahmud menuturkan, performa tersebut menjadi titik pijak penting untuk menjaga momentum menjelang penutupan 2025. Secara tahunan, perekonomian Indonesia pada kuartal III tumbuh 5,04%.
"Jika dibandingkan dengan kuartal II secara quarter-to-quarter, tumbuh 1,43%. Adapun secara cumulative-to-cumulative sepanjang Januari sampai September, pertumbuhan mencapai 5,01%," jelas Edy dalam pemaparan resmi pada 5 November 2025.
Ia menjelaskan industri pengolahan menjadi motor terbesar pertumbuhan dengan kontribusi 1,13%, disusul perdagangan 0,72%, informasi dan komunikasi 0,63%, serta pertanian 0,61%. Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga memberikan dorongan terbesar sebesar 2,54%, diikuti net ekspor 2,15% dan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) 1,59%.
Peningkatan konsumsi tersebut tercermin dari lonjakan pengeluaran riil per kapita yang naik dari Rp12,3 juta menjadi Rp12,8 juta. Pertumbuhan tersebut didorong geliat transaksi digital, meningkatnya belanja daring, serta pergeseran perilaku pembayaran ke platform elektronik. Aktivitas masyarakat pun menguat, ditandai maraknya konser berskala besar, tingginya perjalanan udara, serta kenaikan tingkat keterisian hotel di sejumlah daerah.
Baca Juga: BPS dan Kemendag Perkuat Sinergi Penyediaan Data Harga Bahan Pokok
Sejumlah kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Bali, dan Makassar mencatat okupansi hotel pada kisaran 68–75%. Permintaan pada sektor transportasi, baik penerbangan domestik, angkutan jalan, maupun layanan transportasi daring, juga meningkat. Kondisi tersebut mencerminkan keyakinan publik yang tetap terjaga terhadap prospek ekonomi.
Indeks Keyakinan Konsumen yang konsisten berada pada level 115 dan PMI manufaktur yang bertahan di atas 51 memperkuat sinyal bahwa masyarakat dan pelaku usaha memandang situasi ekonomi secara positif. Sektor jasa hiburan, kuliner, perjalanan, dan perhotelan menjadi penerima manfaat langsung dari peningkatan konsumsi tersebut.
Di sisi kebijakan, pemerintah mempercepat realisasi belanja APBN pada kuartal IV untuk menjaga momentum pemulihan. Berbagai program Kementerian/Lembaga, bantuan sosial, serta stimulus fiskal digelontorkan sejak awal Oktober sebagai dorongan tambahan bagi konsumsi dan investasi. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa seluruh instrumen fiskal disiapkan untuk memaksimalkan dampak akhir tahun. "Saya kira di triwulan keempat kita bisa tumbuh di atas 5,5%, mungkin 5,6–5,7%," ujarnya dalam kegiatan Car Free Day di Jakarta pada 16 November 2025.
Ia menambahkan, belanja pemerintah yang dipercepat tidak sekadar memperbesar nominal serapan, melainkan didesain untuk memberi efek langsung ke daya beli. "Pemerintah sudah menyalurkan sejumlah stimulus pada periode Oktober hingga Desember, termasuk bantuan langsung tunai. Saya pastikan itu akan berdampak," kata Purbaya.
Selain konsumsi rumah tangga, ekspor nonmigas menjadi pilar kuat perekonomian. Nilainya diperkirakan mendekati USD195–USD200 miliar pada akhir 2025, jauh melampaui kinerja ekspor migas yang sekitar USD10 miliar. Produk industri pengolahan, pertanian, serta komoditas bernilai tambah seperti besi-baja, mesin, elektronik, kimia, dan makanan olahan menjadi kontributor utama ekspor nasional.
Baca Juga: Aktivitas Ekonomi Meningkat, Didorong Sektor Pariwisata dan Stabilitas Inflasi
BPS mencatat ekspor nonmigas Agustus 2025 mencapai USD23,89 miliar, naik 6,68% dibandingkan Agustus 2024. Secara kumulatif Januari–Agustus, pertumbuhan ekspor nonmigas mencapai 9,5%. Kinerja ini menjadi penopang utama PDB pada saat permintaan global di berbagai negara masih melemah.
Dari sisi investasi, PMTB tumbuh 6,99% dan tetap berada pada zona ekspansif. Pertumbuhan ini ditopang aktivitas industri manufaktur, stabilnya pembangunan infrastruktur, serta permintaan domestik yang terus meningkat. Dunia usaha memandang prospek ekonomi positif di tengah stabilitas harga.
Kendali inflasi menjadi faktor penting dalam menopang daya beli. Harga kebutuhan pokok relatif stabil sepanjang tahun, tanpa gejolak berarti. Kenaikan minat masyarakat terhadap emas sebagai instrumen investasi juga mencerminkan bahwa kepercayaan terhadap stabilitas kondisi ekonomi tetap kuat.
Fondasi Kuat Memasuki 2026
Dengan kombinasi konsumsi yang menguat, belanja pemerintah yang agresif, ekspor nonmigas yang solid, dan stabilitas harga yang terjaga, kuartal IV-2025 diperkirakan menjadi periode pertumbuhan tertinggi sepanjang 2025. Pemerintah memandang momentum ini sebagai fondasi kuat memasuki 2026, tahun yang menurut proyeksi menteri keuangan berpotensi mencapai pertumbuhan sekitar 6%.Meski demikian, sejumlah risiko masih harus diwaspadai, terutama perlambatan ekonomi global dan fluktuasi harga komoditas. Namun, struktur perekonomian domestik yang semakin bertumpu pada konsumsi, belanja fiskal, dan ekspor nonmigas memberi ruang lebih besar bagi Indonesia untuk menavigasi ketidakpastian tersebut.
Menjelang akhir tahun, pemerintah menilai penting untuk terus menjaga narasi optimisme agar pelaku ekonomi tetap percaya diri dalam meningkatkan belanja dan investasi. Sentimen positif ini diharapkan dapat menjadi katalis bagi penguatan ekonomi tidak hanya pada kuartal IV, tetapi juga pada tahun-tahun mendatang.
(nng)
Lihat Juga :