IHSG Berbalik Arah usai Cetak Rekor Tertinggi, Rupiah Menguat
Selasa, 25 November 2025 - 17:14 WIB
loading...
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami aksi ambil untung pada perdagangan Selasa (25/11/2025). FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami aksi ambil untung pada perdagangan Selasa (25/11/2025), berbalik melemah setelah sebelumnya mencatatkan rekor tertinggi. Sementara itu, nilai tukar Rupiah justru menguat, didorong oleh sentimen eksternal dari ekspektasi penurunan suku bunga The Fed.
IHSG ditutup melemah 0,56 persen atau 48,36 poin ke level 8.521. Sepanjang sesi perdagangan, volume transaksi mencapai 57,54 miliar saham dengan nilai Rp31,23 triliun. Dari papan pencatatan, 364 saham terkoreksi, 277 saham menguat, dan 170 saham lainnya stagnan.
Pergerakan indeks hari ini diwarnai oleh kinerja sektoral yang beragam. Sektor industri dan kesehatan menjadi andalan dengan kenaikan masing-masing sebesar 3,10 persen dan 1,50 persen. Di sisi lain, sektor properti dan non-siklikal menjadi penekan utama dengan penurunan di atas 0,4 persen.
Baca Juga: IHSG Cetak Rekor Tertinggi: Euforia, Risiko, dan Peluang
Pada perdagangan ini, saham PT Semacom Integrated Tbk (SEMA) dan PT WEHA Transportasi Indonesia Tbk (WEHA) memimpin penguatan dengan gain di atas 34 persen. Sebaliknya, PT Cahayasakti Investindo Sukses Tbk (CSIS) dan PT Megapower Makmur Tbk (MPOW) tercatat sebagai saham dengan koreksi terdalam.
Berbeda dengan IHSG, Rupiah ditutup menguat 42 poin (0,25 persen) ke level Rp16.656 per dolar AS. Penguatan ini tidak lepas dari sentimen eksternal yang mendorong apresiasi mata uang di kawasan emerging markets.
Pengamat Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa penguatan Rupiah terutama didorong oleh ekspektasi pelaku pasar terhadap penurunan suku bunga The Fed pada pertemuan Desember mendatang. "Komentar dovish dari para pejabat The Fed, termasuk Gubernur Christopher Waller, telah meningkatkan probabilitas pemotongan suku bunga sebesar 25 bps," jelas Ibrahim dalam risetnya.
Perangkat CME FedWatch menunjukkan, pasar kini memperkirakan hampir 80 persen kemungkinan The Fed akan memangkas suku bunga bulan depan, meningkat signifikan dari level 30 persen sebelumnya. Pelaku pasar kini menanti rilis data ekonomi AS terbaru, termasuk Indeks Harga Produsen dan Penjualan Ritel, untuk mengonfirmasi arah kebijakan moneter The Fed.
Baca Juga: IHSG Hari Ini Diramal Tembus Level 8.600, Cek Rekomendasi Sahamnya
Meski menguat hari ini, Ibrahim memproyeksikan pergerakan Rupiah ke depan masih akan fluktuatif. "Kami memprediksi Rupiah berpotensi bergerak dalam rentang Rp16.650 hingga Rp16.700 per dolar AS pada perdagangan selanjutnya, dengan tetap memperhatikan perkembangan data ekonomi global," tutupnya.
Dari dalam negeri, perhatian pasar juga tertuju pada perkembangan fiskal. Pemerintah, melalui Kementerian Keuangan, telah merevisi target defisit APBN 2026 dari semula 2,48 persen menjadi 2,68 persen dari PDB. Revisi ini disetujui DPR untuk mendanai program prioritas, meski berpotensi meningkatkan penerbitan surat utang negara.
Meski menguat hari ini, Ibrahim memproyeksikan pergerakan Rupiah ke depan masih akan fluktuatif. "Kami memprediksi Rupiah berpotensi bergerak dalam rentang Rp16.650 hingga Rp16.700 per dolar AS pada perdagangan selanjutnya, dengan tetap memperhatikan perkembangan data ekonomi global," tutupnya.
IHSG ditutup melemah 0,56 persen atau 48,36 poin ke level 8.521. Sepanjang sesi perdagangan, volume transaksi mencapai 57,54 miliar saham dengan nilai Rp31,23 triliun. Dari papan pencatatan, 364 saham terkoreksi, 277 saham menguat, dan 170 saham lainnya stagnan.
Pergerakan indeks hari ini diwarnai oleh kinerja sektoral yang beragam. Sektor industri dan kesehatan menjadi andalan dengan kenaikan masing-masing sebesar 3,10 persen dan 1,50 persen. Di sisi lain, sektor properti dan non-siklikal menjadi penekan utama dengan penurunan di atas 0,4 persen.
Baca Juga: IHSG Cetak Rekor Tertinggi: Euforia, Risiko, dan Peluang
Pada perdagangan ini, saham PT Semacom Integrated Tbk (SEMA) dan PT WEHA Transportasi Indonesia Tbk (WEHA) memimpin penguatan dengan gain di atas 34 persen. Sebaliknya, PT Cahayasakti Investindo Sukses Tbk (CSIS) dan PT Megapower Makmur Tbk (MPOW) tercatat sebagai saham dengan koreksi terdalam.
Berbeda dengan IHSG, Rupiah ditutup menguat 42 poin (0,25 persen) ke level Rp16.656 per dolar AS. Penguatan ini tidak lepas dari sentimen eksternal yang mendorong apresiasi mata uang di kawasan emerging markets.
Pengamat Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa penguatan Rupiah terutama didorong oleh ekspektasi pelaku pasar terhadap penurunan suku bunga The Fed pada pertemuan Desember mendatang. "Komentar dovish dari para pejabat The Fed, termasuk Gubernur Christopher Waller, telah meningkatkan probabilitas pemotongan suku bunga sebesar 25 bps," jelas Ibrahim dalam risetnya.
Perangkat CME FedWatch menunjukkan, pasar kini memperkirakan hampir 80 persen kemungkinan The Fed akan memangkas suku bunga bulan depan, meningkat signifikan dari level 30 persen sebelumnya. Pelaku pasar kini menanti rilis data ekonomi AS terbaru, termasuk Indeks Harga Produsen dan Penjualan Ritel, untuk mengonfirmasi arah kebijakan moneter The Fed.
Baca Juga: IHSG Hari Ini Diramal Tembus Level 8.600, Cek Rekomendasi Sahamnya
Meski menguat hari ini, Ibrahim memproyeksikan pergerakan Rupiah ke depan masih akan fluktuatif. "Kami memprediksi Rupiah berpotensi bergerak dalam rentang Rp16.650 hingga Rp16.700 per dolar AS pada perdagangan selanjutnya, dengan tetap memperhatikan perkembangan data ekonomi global," tutupnya.
Dari dalam negeri, perhatian pasar juga tertuju pada perkembangan fiskal. Pemerintah, melalui Kementerian Keuangan, telah merevisi target defisit APBN 2026 dari semula 2,48 persen menjadi 2,68 persen dari PDB. Revisi ini disetujui DPR untuk mendanai program prioritas, meski berpotensi meningkatkan penerbitan surat utang negara.
Meski menguat hari ini, Ibrahim memproyeksikan pergerakan Rupiah ke depan masih akan fluktuatif. "Kami memprediksi Rupiah berpotensi bergerak dalam rentang Rp16.650 hingga Rp16.700 per dolar AS pada perdagangan selanjutnya, dengan tetap memperhatikan perkembangan data ekonomi global," tutupnya.
(nng)
Lihat Juga :