Konsumsi Masyarakat Bakal Ngebut di Peak Season Nataru Bikin Sektor Ritel Pede Menatap 2026
Kamis, 27 November 2025 - 12:30 WIB
loading...
A
A
A
Tren peningkatan sudah terlihat sejak kuartal III menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), dimana konsumsi rumah tangga tumbuh 4,89% secara tahunan (yoy) pada kuartal III 2025. Meski sedikit melambat dibanding triwulan sebelumnya, konsumsi masyarakat tetap menjadi penyumbang terbesar Produk Domestik Bruto (PDB) dengan kontribusi sekitar 53%.
Pertumbuhan terutama didorong oleh pengeluaran transportasi, komunikasi, restoran, dan hotel yang meningkat seiring naiknya mobilitas masyarakat. BPS menyebut perlambatan pertumbuhan konsumsi pada triwulan III merupakan siklus musiman, bukan karena penurunan tajam daya beli.
Meskipun kondisi global tidak kondusif, Alphonzus menilai pertumbuhan ritel didukung oleh faktor fundamental Indonesia sebagai pasar yang besar dan stabil. Selain itu gaya hidup masyarakat, terutama di kota besar, menjadi pendorong kuat terhadap permintaan barang.
"Faktor lain yang sangat mempengaruhi juga adalah gaya hidup (lifestyle) masyarakat terutama di kota-kota besar seperti Jakarta. Gaya hidup (lifestyle) telah menjadi salah satu pendorong yang kuat dalam peningkatan antusiasme terhadap permintaan barang dengan merek-merek baru di Indonesia," jelasnya.
Hal menarik lain adalah minat masyarakat pada investasi emas. Sejalan dengan data tingginya minat investasi emas, pusat perbelanjaan tidak hanya mengalami peningkatan trafik kunjungan ke toko perhiasan, tetapi juga terjadi peningkatan permintaan ruang sewa untuk membuka toko perhiasan baru.
"Ya benar demikian, bukan hanya terjadi peningkatan kunjungan ke toko-toko perhiasan tetapi juga terjadi peningkatan permintaan ruang sewa untuk membuka toko-toko perhiasan di pusat perbelanjaan," ungkap Alphonzus.
Pertumbuhan terutama didorong oleh pengeluaran transportasi, komunikasi, restoran, dan hotel yang meningkat seiring naiknya mobilitas masyarakat. BPS menyebut perlambatan pertumbuhan konsumsi pada triwulan III merupakan siklus musiman, bukan karena penurunan tajam daya beli.
Meskipun kondisi global tidak kondusif, Alphonzus menilai pertumbuhan ritel didukung oleh faktor fundamental Indonesia sebagai pasar yang besar dan stabil. Selain itu gaya hidup masyarakat, terutama di kota besar, menjadi pendorong kuat terhadap permintaan barang.
"Faktor lain yang sangat mempengaruhi juga adalah gaya hidup (lifestyle) masyarakat terutama di kota-kota besar seperti Jakarta. Gaya hidup (lifestyle) telah menjadi salah satu pendorong yang kuat dalam peningkatan antusiasme terhadap permintaan barang dengan merek-merek baru di Indonesia," jelasnya.
Hal menarik lain adalah minat masyarakat pada investasi emas. Sejalan dengan data tingginya minat investasi emas, pusat perbelanjaan tidak hanya mengalami peningkatan trafik kunjungan ke toko perhiasan, tetapi juga terjadi peningkatan permintaan ruang sewa untuk membuka toko perhiasan baru.
"Ya benar demikian, bukan hanya terjadi peningkatan kunjungan ke toko-toko perhiasan tetapi juga terjadi peningkatan permintaan ruang sewa untuk membuka toko-toko perhiasan di pusat perbelanjaan," ungkap Alphonzus.
Lihat Juga :