Ekspor Terus Turun, Ekonom Khawatir Akan Ada PHK Massal
Selasa, 15 September 2020 - 14:00 WIB
loading...
A
A
A
Dia melanjutkan, penurunan surplus perdagangan ini menurutnya juga akan membuat investor asing menunda investasinya. "Dampak dari penurunan surplus diperkirakan membuat investor akan menunda untuk masuk ke sektor perkebunan dan industri manufaktur sampai situasi demand global membaik," imbuhnya.
Bhima menegaskan, turunnya surplus disebabkan oleh rendahnya harga komoditas unggulan ekspor. Harga minyak dunia misalnya, rata-rata alami penurunan 29,5% sejak awal tahun 2020 akibat kontraksi pada permintaan global di saat pandemi.
"Sementara harga batubara acuan Australia mengalami penurunan 27,7% sejak awal tahun (year-to-date). Harga kelapa sawit anjlok 6,1% dalam rentang waktu yang sama," paparnya.
(Baca Juga: Mantap! Neraca Dagang Agustus 2020 Surplus USD2,33 Miliar) Dia pun menambahkan beberapa negara yang mengalami lonjakan kasus mulai melakukan lockdown atau pengetatan mobilitas penduduk. Ini mempengaruhi ekspor non-migas seperti alas kaki yang turun 17% dibanding Juli dan logam mulia dan perhiasan yang anjlok 16,6%.
"Terganggunya rantai pasok selama masa pandemi masih berdampak luas terhadap aktivitas perdagangan. Delay atau pengiriman barang yang terlambat akhirnya membuat pelaku usaha domestik menurunkan kapasitas produksinya," imbuhnya.
Bhima menegaskan, turunnya surplus disebabkan oleh rendahnya harga komoditas unggulan ekspor. Harga minyak dunia misalnya, rata-rata alami penurunan 29,5% sejak awal tahun 2020 akibat kontraksi pada permintaan global di saat pandemi.
"Sementara harga batubara acuan Australia mengalami penurunan 27,7% sejak awal tahun (year-to-date). Harga kelapa sawit anjlok 6,1% dalam rentang waktu yang sama," paparnya.
(Baca Juga: Mantap! Neraca Dagang Agustus 2020 Surplus USD2,33 Miliar) Dia pun menambahkan beberapa negara yang mengalami lonjakan kasus mulai melakukan lockdown atau pengetatan mobilitas penduduk. Ini mempengaruhi ekspor non-migas seperti alas kaki yang turun 17% dibanding Juli dan logam mulia dan perhiasan yang anjlok 16,6%.
"Terganggunya rantai pasok selama masa pandemi masih berdampak luas terhadap aktivitas perdagangan. Delay atau pengiriman barang yang terlambat akhirnya membuat pelaku usaha domestik menurunkan kapasitas produksinya," imbuhnya.
(fai)
Lihat Juga :