Neraca Dagang RI Defisit USD1,61 Miliar, Pertama Kali sejak 2020
Rabu, 01 Juli 2026 - 13:24 WIB
loading...
Neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit pada Mei 2026 pertama kalinya sejak 2020 lalu. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar USD1,61 miliar pada Mei 2026. Capaian tersebut menjadi defisit pertama setelah Indonesia membukukan surplus neraca perdagangan selama 72 bulan berturut-turut sejak 2020.
"Defisit neraca perdagangan terutama disebabkan oleh komoditas migas yang mencatat defisit sebesar USD3,76 miliar. Defisit tersebut berasal dari perdagangan hasil minyak dan minyak mentah," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers, Rabu (1/7/2026).
Baca Juga: BPS: Neraca Dagang RI Januari-April 2026 Surplus USD5,64 Miliar
BPS mencatat posisi neraca perdagangan pada Mei 2026 berbalik dibandingkan April 2026 yang masih mencatat surplus tipis sebesar USD89,1 juta. Menurut Ateng, pelebaran defisit sektor minyak dan gas menjadi faktor utama yang menekan kinerja perdagangan Indonesia.
Di tengah defisit sektor migas, neraca perdagangan nonmigas masih mencatat surplus sebesar USD2,15 miliar. Surplus tersebut ditopang ekspor komoditas bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan maupun nabati, serta produk besi dan baja.
Namun demikian, surplus nonmigas belum mampu menutup defisit migas yang mencapai USD3,76 miliar. Lonjakan impor migas yang jauh lebih tinggi dibandingkan nilai ekspor menjadi penyebab utama defisit neraca perdagangan secara keseluruhan.
"Defisit neraca perdagangan terutama disebabkan oleh komoditas migas yang mencatat defisit sebesar USD3,76 miliar. Defisit tersebut berasal dari perdagangan hasil minyak dan minyak mentah," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers, Rabu (1/7/2026).
Baca Juga: BPS: Neraca Dagang RI Januari-April 2026 Surplus USD5,64 Miliar
BPS mencatat posisi neraca perdagangan pada Mei 2026 berbalik dibandingkan April 2026 yang masih mencatat surplus tipis sebesar USD89,1 juta. Menurut Ateng, pelebaran defisit sektor minyak dan gas menjadi faktor utama yang menekan kinerja perdagangan Indonesia.
Di tengah defisit sektor migas, neraca perdagangan nonmigas masih mencatat surplus sebesar USD2,15 miliar. Surplus tersebut ditopang ekspor komoditas bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan maupun nabati, serta produk besi dan baja.
Namun demikian, surplus nonmigas belum mampu menutup defisit migas yang mencapai USD3,76 miliar. Lonjakan impor migas yang jauh lebih tinggi dibandingkan nilai ekspor menjadi penyebab utama defisit neraca perdagangan secara keseluruhan.
Lihat Juga :