Transformasi Investasi, IFG Pastikan Keamanan Pemegang Polis
Senin, 01 Desember 2025 - 10:51 WIB
loading...
Indonesia Financial Group (IFG) terus memperkuat transformasi tata kelola investasi. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Indonesia Financial Group (IFG) terus memperkuat transformasi tata kelola investasi di seluruh ekosistemnya di tengah meningkatnya tuntutan transparansi dan kehati-hatian di industri keuangan non-bank. Sebagai holding BUMN yang membawahi bidang asuransi, penjaminan, dan investasi, IFG menegaskan komitmennya untuk memastikan keberlanjutan bisnis sekaligus kemampuan memenuhi kewajiban jangka panjang kepada nasabah dan pemegang polis.
Transformasi itu menjadi penting karena sebelum IFG dibentuk, pencatatan investasi di masing-masing perusahaan asuransi dalam grup belum seragam. Banyaknya kustodian, broker, dan manajer investasi yang digunakan membuat biaya investasi membengkak. Kini, seluruh sistem dikelola lebih efisien dan terstandar.
Direktur Keuangan IFG, Heru Handayanto, mengatakan perubahan struktural dan sistemik ini menjadi fondasi penting dalam memperkuat ketahanan perusahaan menghadapi kewajiban jangka panjang.
"Sebelum IFG dibentuk sebagai holding, pencatatan investasi belum dilakukan secara seragam. Kini biaya dapat ditekan dan dioptimalkan melalui transformasi sistem," ujarnya dalam pernyataannya, Senin (1/12/2025).
Baca Juga: IFG Life dan Mandiri Inhealth Bayarkan Klaim Rp10,6 Triliun di 2024
Heru menjelaskan IFG telah mentransformasi seluruh sistem pengelolaan dan pemantauan aset investasi dengan prinsip efisiensi, tata kelola kuat, dan akuntabilitas. Standarisasi pencatatan juga dilakukan agar sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku, sehingga proses pemantauan berjalan transparan.
Transformasi ini semakin krusial karena sekitar 70% aset IFG merupakan aset investasi yang harus dikelola secara prudent. Heru menegaskan bahwa strategi investasi tidak hanya mengejar imbal hasil tinggi, tetapi menjunjung prinsip Liability Driven Investment (LDI) demi menjaga kemampuan perusahaan memenuhi klaim pemegang polis.
Strategi investasi tersebut dijalankan melalui empat pilar utama: manajemen risiko yang ketat, proses bisnis terintegrasi menggunakan Straight Through Processing (STP), standar akuntansi internasional berbasis pemantauan berlapis, dan profesionalisasi pengelolaan aset melalui Bahana TCW Investment Management yang akan mengelola sekitar 95% aset investasi anggota holding.
Transformasi investasi juga diperluas ke ranah digital melalui penerapan sistem monitoring investasi terpadu. Sistem ini menghubungkan seluruh rantai proses bisnis, mulai dari pencatatan polis, manajemen risiko, hingga pembukuan dan pelaporan. Berbagai proses manual yang sebelumnya rawan kesalahan kini telah dihilangkan.
Baca Juga: IFG Berikan Layanan Asuransi Perlindungan Bagi Jemaah Haji dan Umrah
Perubahan menyeluruh tersebut mulai menunjukkan hasil signifikan. Kinerja aset investasi IFG tercatat selalu melampaui target, dengan hasil investasi tahun 2024 mencapai Rp5,4 triliun atau meningkat 8,32% dibandingkan tahun sebelumnya. Yield investasi juga stabil di kisaran 6,2%, menunjukkan kualitas portofolio yang tetap terjaga.
Heru menegaskan bahwa pencapaian ini merupakan hasil dari tata kelola yang baik, efisiensi sistem, dan profesionalisme dalam pengelolaan aset. IFG, kata dia, menempatkan akuntabilitas dan keberlanjutan sebagai pilar utama dalam menjalankan bisnis, bukan sekadar memenuhi regulasi industri keuangan.
Adapun seluruh transformasi ini diarahkan untuk memastikan keamanan dana masyarakat yang mempercayakan masa depannya kepada industri asuransi nasional. "Tujuan akhirnya, bagaimana memastikan setiap rupiah yang kita kelola mampu memenuhi kewajiban jangka panjang dan memberi ketenangan bagi para nasabah," tutup Heru.
Transformasi itu menjadi penting karena sebelum IFG dibentuk, pencatatan investasi di masing-masing perusahaan asuransi dalam grup belum seragam. Banyaknya kustodian, broker, dan manajer investasi yang digunakan membuat biaya investasi membengkak. Kini, seluruh sistem dikelola lebih efisien dan terstandar.
Direktur Keuangan IFG, Heru Handayanto, mengatakan perubahan struktural dan sistemik ini menjadi fondasi penting dalam memperkuat ketahanan perusahaan menghadapi kewajiban jangka panjang.
"Sebelum IFG dibentuk sebagai holding, pencatatan investasi belum dilakukan secara seragam. Kini biaya dapat ditekan dan dioptimalkan melalui transformasi sistem," ujarnya dalam pernyataannya, Senin (1/12/2025).
Baca Juga: IFG Life dan Mandiri Inhealth Bayarkan Klaim Rp10,6 Triliun di 2024
Heru menjelaskan IFG telah mentransformasi seluruh sistem pengelolaan dan pemantauan aset investasi dengan prinsip efisiensi, tata kelola kuat, dan akuntabilitas. Standarisasi pencatatan juga dilakukan agar sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku, sehingga proses pemantauan berjalan transparan.
Transformasi ini semakin krusial karena sekitar 70% aset IFG merupakan aset investasi yang harus dikelola secara prudent. Heru menegaskan bahwa strategi investasi tidak hanya mengejar imbal hasil tinggi, tetapi menjunjung prinsip Liability Driven Investment (LDI) demi menjaga kemampuan perusahaan memenuhi klaim pemegang polis.
Strategi investasi tersebut dijalankan melalui empat pilar utama: manajemen risiko yang ketat, proses bisnis terintegrasi menggunakan Straight Through Processing (STP), standar akuntansi internasional berbasis pemantauan berlapis, dan profesionalisasi pengelolaan aset melalui Bahana TCW Investment Management yang akan mengelola sekitar 95% aset investasi anggota holding.
Transformasi investasi juga diperluas ke ranah digital melalui penerapan sistem monitoring investasi terpadu. Sistem ini menghubungkan seluruh rantai proses bisnis, mulai dari pencatatan polis, manajemen risiko, hingga pembukuan dan pelaporan. Berbagai proses manual yang sebelumnya rawan kesalahan kini telah dihilangkan.
Baca Juga: IFG Berikan Layanan Asuransi Perlindungan Bagi Jemaah Haji dan Umrah
Perubahan menyeluruh tersebut mulai menunjukkan hasil signifikan. Kinerja aset investasi IFG tercatat selalu melampaui target, dengan hasil investasi tahun 2024 mencapai Rp5,4 triliun atau meningkat 8,32% dibandingkan tahun sebelumnya. Yield investasi juga stabil di kisaran 6,2%, menunjukkan kualitas portofolio yang tetap terjaga.
Heru menegaskan bahwa pencapaian ini merupakan hasil dari tata kelola yang baik, efisiensi sistem, dan profesionalisme dalam pengelolaan aset. IFG, kata dia, menempatkan akuntabilitas dan keberlanjutan sebagai pilar utama dalam menjalankan bisnis, bukan sekadar memenuhi regulasi industri keuangan.
Adapun seluruh transformasi ini diarahkan untuk memastikan keamanan dana masyarakat yang mempercayakan masa depannya kepada industri asuransi nasional. "Tujuan akhirnya, bagaimana memastikan setiap rupiah yang kita kelola mampu memenuhi kewajiban jangka panjang dan memberi ketenangan bagi para nasabah," tutup Heru.
(nng)
Lihat Juga :