Dorong Dedolarisasi, Indonesia Setor ke Bank BRICS Rp16,62 Triliun
Rabu, 03 Desember 2025 - 08:17 WIB
loading...
Pemerintah Indonesia mengalokasikan dana sebesar USD1 miliar kepada New Development Bank (NDB). FOTO/China Daily
A
A
A
JAKARTA - Pemerintah Indonesia mengalokasikan dana sebesar USD1 miliar atau sekitar Rp16,62 triliun kepada New Development Bank (NDB) sebagai bagian dari keikutsertaannya dalam blok BRICS. Langkah ini dipandang strategis untuk memperluas akses pembiayaan pembangunan sekaligus memperkuat posisi Indonesia di tengah dinamika ekonomi global. Keanggotaan Indonesia di BRICS mulai berlaku sejak Januari 2025, di tengah kekhawatiran meningkatnya hambatan dagang akibat kebijakan tarif tinggi Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump.
Pengalokasian dana tersebut diumumkan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Kadin di Jakarta, awal Desember ini. Pemerintah menilai kontribusi kepada NDB dapat mendukung pendanaan pembangunan berkelanjutan bagi negara berkembang serta memperkuat kolaborasi ekonomi Global South di tengah menguatnya dorongan dedolarisasi.
"Keikutsertaan Indonesia juga diikuti bergabungnya Indonesia dengan New Development Bank, dan pemerintah telah menyetujui pemberian USD1 miliar untuk investasi di New Development Bank," ujar Airlangga dikutip dari Watcher Guru, Rabu (3/12/2025).
Baca Juga: India Mundur dari Dedolarisasi, BRICS Redam Ambisi Gulingkan Dolar AS
Dengan bergabungnya Indonesia ke NDB, pemerintah berharap dapat terlibat lebih aktif dalam penyusunan kebijakan dan arah pendanaan lembaga tersebut. Pengamat menilai langkah ini sebagai bagian dari strategi Indonesia menyeimbangkan hubungan ekonomi dengan kekuatan besar dunia, sekaligus memanfaatkan kerja sama multilateral non-Barat untuk memperkuat posisi tawar di pasar global yang kian bergejolak.
Komitmen Indonesia terhadap BRICS dan NDB selaras dengan visi Presiden Prabowo Subianto yang ingin meningkatkan peran Indonesia di panggung internasional tanpa meninggalkan prinsip politik luar negeri bebas-aktif. Prabowo sebelumnya telah menyampaikan niat bergabung dengan NDB saat bertemu Presiden NDB Dilma Rousseff pada Maret 2025.
NDB memiliki modal disetor hingga USD100 miliar, dengan negara pendiri, seperti Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan menguasai sekitar 94% saham. Hingga saat ini, bank tersebut telah menyalurkan USD39 miliar kepada 120 proyek, terutama untuk sektor transportasi, energi bersih, dan keberlanjutan. Anggota lain seperti Bangladesh, UEA, Mesir, dan Aljazair memiliki porsi modal antara 1,04–2,24%.
"Indonesia adalah negara penting di kawasan dan di dunia," ujar Rousseff. Ia juga memuji capaian Indonesia dalam pengembangan biofuel. "Indonesia merupakan negara terdepan dalam biodiesel dengan capaian 40%. Saya sangat terkesan," katanya dalam kesempatan terpisah.
Dorongan dedolarisasi semakin meningkat di antara negara anggota BRICS, meskipun implementasinya belum seragam. Blok tersebut mendorong penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan dan pembangunan sistem pembayaran alternatif. China dan Rusia menjadi contoh paling menonjol dengan sebagian besar transaksi bilateral dilakukan tanpa dolar AS.
Baca Juga: Ini Respons Moskow setelah NATO Pertimbangkan Serang Rusia Lebih Dulu
Meski demikian, dominasi dolar masih kuat di pasar global. Pada 2024, mata uang AS menguasai sekitar 90% transaksi valuta asing dan 48% pembayaran SWIFT. Sejumlah bank sentral memang mulai mendiversifikasi cadangan devisa, tetapi dolar tetap menjadi jangkar utama. Bahkan Bank Sentral India menegaskan bahwa dedolarisasi bukan tujuan utama India dalam BRICS.
Ketegangan geopolitik turut memberi tekanan. Presiden Trump sempat mengancam akan mengenakan tarif hingga 100% kepada negara BRICS bila wacana mata uang bersama terus dimajukan. Ancaman itu membuat Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva mencoret isu mata uang bersama dari agenda Presidensi BRICS 2025.
Kontribusi Indonesia sebesar USD1 miliar kepada NDB menjadi bagian dari strategi diversifikasi hubungan ekonomi sekaligus membuka peluang pembiayaan bagi 77 proyek strategis nasional. Proyek-proyek tersebut mencakup pembangunan infrastruktur, peningkatan konektivitas digital, hingga transisi energi. Meski tantangan dedolarisasi masih besar, penguatan BRICS dan peran aktif Indonesia mencerminkan meningkatnya upaya negara berkembang membangun arsitektur keuangan global yang lebih seimbang.
Pengalokasian dana tersebut diumumkan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Kadin di Jakarta, awal Desember ini. Pemerintah menilai kontribusi kepada NDB dapat mendukung pendanaan pembangunan berkelanjutan bagi negara berkembang serta memperkuat kolaborasi ekonomi Global South di tengah menguatnya dorongan dedolarisasi.
"Keikutsertaan Indonesia juga diikuti bergabungnya Indonesia dengan New Development Bank, dan pemerintah telah menyetujui pemberian USD1 miliar untuk investasi di New Development Bank," ujar Airlangga dikutip dari Watcher Guru, Rabu (3/12/2025).
Baca Juga: India Mundur dari Dedolarisasi, BRICS Redam Ambisi Gulingkan Dolar AS
Dengan bergabungnya Indonesia ke NDB, pemerintah berharap dapat terlibat lebih aktif dalam penyusunan kebijakan dan arah pendanaan lembaga tersebut. Pengamat menilai langkah ini sebagai bagian dari strategi Indonesia menyeimbangkan hubungan ekonomi dengan kekuatan besar dunia, sekaligus memanfaatkan kerja sama multilateral non-Barat untuk memperkuat posisi tawar di pasar global yang kian bergejolak.
Komitmen Indonesia terhadap BRICS dan NDB selaras dengan visi Presiden Prabowo Subianto yang ingin meningkatkan peran Indonesia di panggung internasional tanpa meninggalkan prinsip politik luar negeri bebas-aktif. Prabowo sebelumnya telah menyampaikan niat bergabung dengan NDB saat bertemu Presiden NDB Dilma Rousseff pada Maret 2025.
NDB memiliki modal disetor hingga USD100 miliar, dengan negara pendiri, seperti Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan menguasai sekitar 94% saham. Hingga saat ini, bank tersebut telah menyalurkan USD39 miliar kepada 120 proyek, terutama untuk sektor transportasi, energi bersih, dan keberlanjutan. Anggota lain seperti Bangladesh, UEA, Mesir, dan Aljazair memiliki porsi modal antara 1,04–2,24%.
"Indonesia adalah negara penting di kawasan dan di dunia," ujar Rousseff. Ia juga memuji capaian Indonesia dalam pengembangan biofuel. "Indonesia merupakan negara terdepan dalam biodiesel dengan capaian 40%. Saya sangat terkesan," katanya dalam kesempatan terpisah.
Dorongan dedolarisasi semakin meningkat di antara negara anggota BRICS, meskipun implementasinya belum seragam. Blok tersebut mendorong penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan dan pembangunan sistem pembayaran alternatif. China dan Rusia menjadi contoh paling menonjol dengan sebagian besar transaksi bilateral dilakukan tanpa dolar AS.
Baca Juga: Ini Respons Moskow setelah NATO Pertimbangkan Serang Rusia Lebih Dulu
Meski demikian, dominasi dolar masih kuat di pasar global. Pada 2024, mata uang AS menguasai sekitar 90% transaksi valuta asing dan 48% pembayaran SWIFT. Sejumlah bank sentral memang mulai mendiversifikasi cadangan devisa, tetapi dolar tetap menjadi jangkar utama. Bahkan Bank Sentral India menegaskan bahwa dedolarisasi bukan tujuan utama India dalam BRICS.
Ketegangan geopolitik turut memberi tekanan. Presiden Trump sempat mengancam akan mengenakan tarif hingga 100% kepada negara BRICS bila wacana mata uang bersama terus dimajukan. Ancaman itu membuat Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva mencoret isu mata uang bersama dari agenda Presidensi BRICS 2025.
Kontribusi Indonesia sebesar USD1 miliar kepada NDB menjadi bagian dari strategi diversifikasi hubungan ekonomi sekaligus membuka peluang pembiayaan bagi 77 proyek strategis nasional. Proyek-proyek tersebut mencakup pembangunan infrastruktur, peningkatan konektivitas digital, hingga transisi energi. Meski tantangan dedolarisasi masih besar, penguatan BRICS dan peran aktif Indonesia mencerminkan meningkatnya upaya negara berkembang membangun arsitektur keuangan global yang lebih seimbang.
(nng)
Lihat Juga :