Rubi Handojo Paparkan Penguatan Ketahanan Risiko Jasa Raharja
Jum'at, 05 Desember 2025 - 22:07 WIB
loading...
Direktur SDM dan Umum Jasa Raharja Rubi Handojo, hadir sebagai pembicara dalam ERMA International Conference on Enterprise Risk Management (ERM) di Bali. Foto/Dok. SindoNews
A
A
A
DENPASAR - Jasa Raharja turut berpartisipasi dalam ERMA International Conference on Enterprise Risk Management (ERM) yang digelar pada 4-5 Desember 2025 di Bali. Konferensi internasional yang mengangkat tema ‘Risk Odyssey: Engineering Momentum, Building a Resilient Risk DNA’ ini menjadi ajang bagi para pemimpin industri, regulator, akademisi, dan profesional risiko untuk membahas strategi penguatan ketahanan organisasi di tengah perubahan lingkungan global yang semakin cepat.
Dalam forum tersebut, Direktur SDM dan Umum Jasa Raharja Rubi Handojo, hadir sebagai pembicara pada Panel Diskusi Sesi 6, membawakan materi bertema ‘Resilience Capital: Risk, Governance, and Innovation in a Changing World’. Pada sesi ini, Rubi memaparkan bagaimana Jasa Raharja membangun resilient capital melalui penguatan pengendalian risiko, tata kelola yang bijaksana, serta pengembangan sumber daya manusia sebagai pondasi utama perusahaan. Baca juga: 63 Fresh Graduate Resmi Magang di Jasa Raharja melalui Program Magang Nasional 2025
Rubi menjelaskan mandat negara yang diemban Jasa Raharja menuntut perusahaan untuk selalu siap menghadapi dinamika risiko, mulai dari perubahan regulasi, percepatan teknologi, hingga tingginya tantangan keselamatan transportasi. Kondisi ini menuntut perusahaan untuk terus mengembangkan ketahanan operasional yang tidak hanya mengandalkan sistem, tetapi juga budaya organisasi dan kualitas talenta.
“Sebagai perusahaan yang mengemban amanah negara, Jasa Raharja dituntut memiliki ketahanan risiko yang lebih kuat dan terukur. Risk management harus menjadi DNA organisasi agar kami dapat merespons perubahan dengan cepat dan menjaga keberlanjutan layanan bagi masyarakat,” katanya.
Ia memaparkan penguatan DNA ketahanan risiko dilakukan melalui enam pilar kontrol risiko yang kini dijalankan perusahaan. Pilar tersebut meliputi manajemen risiko yang berorientasi pada pelanggan, penguatan infrastruktur dan keamanan, peningkatan kontrol proses keuangan, penerapan strategi investasi yang bijaksana, penguatan kepatuhan terhadap aturan, serta pengembangan operasional yang berkelanjutan.
Pada tahap ini, Jasa Raharja berfokus untuk memastikan setiap aspek operasional, termasuk proses layanan dan manajemen risiko finansial, berjalan dengan prinsip kehati-hatian dan ketepatan. Lebih lanjut, Rubi menegaskan bahwa manusia merupakan modal utama dalam membangun ketahanan organisasi.
Jasa Raharja menjalankan serangkaian program pengembangan SDM yang berorientasi pada risiko. Mulai dari pembentukan insan Jasa Raharja yang tangguh dalam menghadapi risiko, penanaman pemikiran risiko sejak proses orientasi, peningkatan keterampilan melalui program reskilling dan upskilling, hingga penguatan kapabilitas analitik untuk mengantisipasi pola risiko baru.
“Ketahanan risiko dibentuk oleh orang-orang yang menjalankannya. Budaya kerja yang kuat, pemikiran risiko yang matang, dan kompetensi yang relevan adalah kunci agar organisasi mampu bertahan dan tumbuh di tengah ketidakpastian. Jasa Raharja berkinerja melampaui tugas menjadi mandatnya dengan tetap selaras dengan penerapan prinsip-prinsip GRC.” tambahnya. Baca juga: Hari Sadar Risiko Nasional 2025, Bappenas Sebut Pentingnya Penerapan MRPN
Sebagai penutup, Rubi menyampaikan sejumlah pencapaian yang menjadi bukti penguatan tata kelola risiko Jasa Raharja. Di antaranya adalah pencapaian Risk Maturity Index pada level 4,2 (Fase Praktik yang Lebih Baik) serta rating idAAA, yang mencerminkan kualitas tata kelola dan ketahanan operasional perusahaan. Jasa Raharja juga meraih beberapa penghargaan terkait manajemen risiko, di antaranya adalah Public Initiatives Award di ajang ASEAN Risk Award (ARA) 2025 sebagai pengakuan regional atas komitmen perusahaan dalam penguatan manajemen risiko.
Partisipasi Jasa Raharja dalam konferensi ini menjadi kesempatan untuk berbagi praktik, pengalaman, dan perspektif kepada audiens dalam konferensi tersebut. Melalui sesi ini, Jasa Raharja turut memperkaya wawasan bersama mengenai penerapan manajemen risiko di sektor publik, sekaligus memperoleh pandangan baru dari berbagai pihak yang berkontribusi dalam pengembangan tata kelola risiko di tingkat regional.
Dalam forum tersebut, Direktur SDM dan Umum Jasa Raharja Rubi Handojo, hadir sebagai pembicara pada Panel Diskusi Sesi 6, membawakan materi bertema ‘Resilience Capital: Risk, Governance, and Innovation in a Changing World’. Pada sesi ini, Rubi memaparkan bagaimana Jasa Raharja membangun resilient capital melalui penguatan pengendalian risiko, tata kelola yang bijaksana, serta pengembangan sumber daya manusia sebagai pondasi utama perusahaan. Baca juga: 63 Fresh Graduate Resmi Magang di Jasa Raharja melalui Program Magang Nasional 2025
Rubi menjelaskan mandat negara yang diemban Jasa Raharja menuntut perusahaan untuk selalu siap menghadapi dinamika risiko, mulai dari perubahan regulasi, percepatan teknologi, hingga tingginya tantangan keselamatan transportasi. Kondisi ini menuntut perusahaan untuk terus mengembangkan ketahanan operasional yang tidak hanya mengandalkan sistem, tetapi juga budaya organisasi dan kualitas talenta.
“Sebagai perusahaan yang mengemban amanah negara, Jasa Raharja dituntut memiliki ketahanan risiko yang lebih kuat dan terukur. Risk management harus menjadi DNA organisasi agar kami dapat merespons perubahan dengan cepat dan menjaga keberlanjutan layanan bagi masyarakat,” katanya.
Ia memaparkan penguatan DNA ketahanan risiko dilakukan melalui enam pilar kontrol risiko yang kini dijalankan perusahaan. Pilar tersebut meliputi manajemen risiko yang berorientasi pada pelanggan, penguatan infrastruktur dan keamanan, peningkatan kontrol proses keuangan, penerapan strategi investasi yang bijaksana, penguatan kepatuhan terhadap aturan, serta pengembangan operasional yang berkelanjutan.
Pada tahap ini, Jasa Raharja berfokus untuk memastikan setiap aspek operasional, termasuk proses layanan dan manajemen risiko finansial, berjalan dengan prinsip kehati-hatian dan ketepatan. Lebih lanjut, Rubi menegaskan bahwa manusia merupakan modal utama dalam membangun ketahanan organisasi.
Jasa Raharja menjalankan serangkaian program pengembangan SDM yang berorientasi pada risiko. Mulai dari pembentukan insan Jasa Raharja yang tangguh dalam menghadapi risiko, penanaman pemikiran risiko sejak proses orientasi, peningkatan keterampilan melalui program reskilling dan upskilling, hingga penguatan kapabilitas analitik untuk mengantisipasi pola risiko baru.
“Ketahanan risiko dibentuk oleh orang-orang yang menjalankannya. Budaya kerja yang kuat, pemikiran risiko yang matang, dan kompetensi yang relevan adalah kunci agar organisasi mampu bertahan dan tumbuh di tengah ketidakpastian. Jasa Raharja berkinerja melampaui tugas menjadi mandatnya dengan tetap selaras dengan penerapan prinsip-prinsip GRC.” tambahnya. Baca juga: Hari Sadar Risiko Nasional 2025, Bappenas Sebut Pentingnya Penerapan MRPN
Sebagai penutup, Rubi menyampaikan sejumlah pencapaian yang menjadi bukti penguatan tata kelola risiko Jasa Raharja. Di antaranya adalah pencapaian Risk Maturity Index pada level 4,2 (Fase Praktik yang Lebih Baik) serta rating idAAA, yang mencerminkan kualitas tata kelola dan ketahanan operasional perusahaan. Jasa Raharja juga meraih beberapa penghargaan terkait manajemen risiko, di antaranya adalah Public Initiatives Award di ajang ASEAN Risk Award (ARA) 2025 sebagai pengakuan regional atas komitmen perusahaan dalam penguatan manajemen risiko.
Partisipasi Jasa Raharja dalam konferensi ini menjadi kesempatan untuk berbagi praktik, pengalaman, dan perspektif kepada audiens dalam konferensi tersebut. Melalui sesi ini, Jasa Raharja turut memperkaya wawasan bersama mengenai penerapan manajemen risiko di sektor publik, sekaligus memperoleh pandangan baru dari berbagai pihak yang berkontribusi dalam pengembangan tata kelola risiko di tingkat regional.
(poe)
Lihat Juga :