Ketimpangan Dunia Makin Lebar, 75 Persen Kekayaan Global Dikuasai Hanya 10% Miliarder
Kamis, 11 Desember 2025 - 15:27 WIB
loading...
Ketidaksetaraan global berada pada kondisi ekstrem, dimana ada kurang dari 60.000 multi-miliarder, dengan 0,001% di posisi teratas kini mengendalikan kekayaan tiga kali lebih banyak daripada 50% penduduk termiskin di dunia. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Ketidaksetaraan global diyakini berada pada kondisi ekstrem, dimana ada kurang dari 60.000 multi-miliarder , dengan 0,001% di posisi teratas kini mengendalikan kekayaan tiga kali lebih banyak daripada 50% penduduk termiskin di dunia . Hal ini berdasarkan laporan terbaru tentang Ketidaksetaraan Dunia 2026.
Disusun oleh lebih dari 200 peneliti dan diterbitkan pada hari Rabu (10/12) waktu setempat, studi tersebut mengatakan bahwa ketimpangan ini tercermin di semua kategori, karena 10% orang terkaya di dunia kini memiliki hampir tiga perempat dari seluruh kekayaan dunia. Sementara separuh termiskin hanya memegang sekitar 2%.
Segelintir elit mengendalikan kekuatan ekonomi yang sangat besar, sementara miliaran orang berjuang untuk bertahan hidup, menurut laporan. Baca Juga: 10 Orang di Indonesia Lebih Kaya dari 114 Juta Penduduk, Hashim: Termasuk Keluarga Saya
Pendapatan dibagi dengan cara yang serupa. 10% teratas menghasilkan lebih banyak daripada 90% sisanya jika digabungkan, sedangkan separuh populasi termiskin hanya mendapatkan kurang dari sepersepuluh pendapatan global.
“Hasilnya adalah dunia di mana minoritas kecil menguasai kekuatan finansial yang belum pernah terjadi sebelumnya, sementara miliaran orang tetap terpinggirkan dari kestabilan ekonomi dasar sekalipun,” tulis para penulis.
Menurut penelitian tersebut, kesenjangan upah berdasarkan gender “tetap ada di semua wilayah,” dimana perempuan hanya mendapatkan sedikit lebih dari seperempat pendapatan tenaga kerja global. Proporsi yang didapatkan perempuan saat ini nyaris tidak berubah sejak 1990.
Kesenjangan global terlihat jauh sebelum orang memasuki pasar kerja, kata laporan tersebut. Rata-rata pengeluaran pendidikan publik per siswa usia sekolah sekitar USD230 per tahun di Sub-Sahara Afrika, dibandingkan dengan USD8.600 di Eropa dan USD10.500 di Amerika Utara dan Oseania, mencerminkan rasio lebih dari 40 banding 1.
Baca Juga: Ketimpangan Makin Lebar, Cak Imin: 1% Orang Kuasai Hampir Separuh Kekayaan Nasional
Para penulis berpendapat bahwa mengumpulkan uang (pajak) dari kalangan atas dapat mengecilkan kesenjangan tersebut. Pajak global sebesar 3% terhadap kurang dari 100.000 orang dengan kekayaan puluhan juta hingga miliarder dapat menghasilkan sekitar USD750 miliar per tahun. Angka ini kira-kira sama dengan total anggaran pendidikan secara gabungan negara-negara berpendapatan rendah dan menengah.
Negara-negara miskin tertekan oleh sistem keuangan global yang condong ke negara kaya, menurut studi tersebut. Ekonomi maju dapat meminjam dengan biaya rendah dan mendapatkan keuntungan lebih tinggi di luar negeri, hingga memungkinkan mereka beroperasi sebagai “penerima sewa finansial.”
Sekitar 1% dari PDB dunia mengalir dari negara miskin ke negara kaya setiap tahun melalui pembayaran utang, repatriasi keuntungan, dan aliran keuangan lainnya. Dimana menurut laporan tersebut, hampir tiga kali lipat dari jumlah bantuan pembangunan global.
Disusun oleh lebih dari 200 peneliti dan diterbitkan pada hari Rabu (10/12) waktu setempat, studi tersebut mengatakan bahwa ketimpangan ini tercermin di semua kategori, karena 10% orang terkaya di dunia kini memiliki hampir tiga perempat dari seluruh kekayaan dunia. Sementara separuh termiskin hanya memegang sekitar 2%.
Segelintir elit mengendalikan kekuatan ekonomi yang sangat besar, sementara miliaran orang berjuang untuk bertahan hidup, menurut laporan. Baca Juga: 10 Orang di Indonesia Lebih Kaya dari 114 Juta Penduduk, Hashim: Termasuk Keluarga Saya
Pendapatan dibagi dengan cara yang serupa. 10% teratas menghasilkan lebih banyak daripada 90% sisanya jika digabungkan, sedangkan separuh populasi termiskin hanya mendapatkan kurang dari sepersepuluh pendapatan global.
“Hasilnya adalah dunia di mana minoritas kecil menguasai kekuatan finansial yang belum pernah terjadi sebelumnya, sementara miliaran orang tetap terpinggirkan dari kestabilan ekonomi dasar sekalipun,” tulis para penulis.
Menurut penelitian tersebut, kesenjangan upah berdasarkan gender “tetap ada di semua wilayah,” dimana perempuan hanya mendapatkan sedikit lebih dari seperempat pendapatan tenaga kerja global. Proporsi yang didapatkan perempuan saat ini nyaris tidak berubah sejak 1990.
Kesenjangan global terlihat jauh sebelum orang memasuki pasar kerja, kata laporan tersebut. Rata-rata pengeluaran pendidikan publik per siswa usia sekolah sekitar USD230 per tahun di Sub-Sahara Afrika, dibandingkan dengan USD8.600 di Eropa dan USD10.500 di Amerika Utara dan Oseania, mencerminkan rasio lebih dari 40 banding 1.
Baca Juga: Ketimpangan Makin Lebar, Cak Imin: 1% Orang Kuasai Hampir Separuh Kekayaan Nasional
Para penulis berpendapat bahwa mengumpulkan uang (pajak) dari kalangan atas dapat mengecilkan kesenjangan tersebut. Pajak global sebesar 3% terhadap kurang dari 100.000 orang dengan kekayaan puluhan juta hingga miliarder dapat menghasilkan sekitar USD750 miliar per tahun. Angka ini kira-kira sama dengan total anggaran pendidikan secara gabungan negara-negara berpendapatan rendah dan menengah.
Negara-negara miskin tertekan oleh sistem keuangan global yang condong ke negara kaya, menurut studi tersebut. Ekonomi maju dapat meminjam dengan biaya rendah dan mendapatkan keuntungan lebih tinggi di luar negeri, hingga memungkinkan mereka beroperasi sebagai “penerima sewa finansial.”
Sekitar 1% dari PDB dunia mengalir dari negara miskin ke negara kaya setiap tahun melalui pembayaran utang, repatriasi keuntungan, dan aliran keuangan lainnya. Dimana menurut laporan tersebut, hampir tiga kali lipat dari jumlah bantuan pembangunan global.
(akr)
Lihat Juga :