Pecah Rekor, Investasi China ke Vietnam Tembus Rp111 Triliun di Tengah Tekanan AS
Selasa, 16 Desember 2025 - 08:52 WIB
loading...
Presiden Vietnam To Lam saat bertemu dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing. Keduanya menyaksikan upacara penghormatan, sebelum mengadakan pembicaraan bilateral. FOTO/AP
A
A
A
HANOI - Investasi perusahaan China ke Vietnam melonjak tajam sepanjang Januari–November 2025 dan mencapai rekor USD6,7 miliar atau setara Rp111 triliun. Nilai tersebut menempatkan China sebagai investor terbesar di Vietnam, di tengah tekanan tarif 20 persen yang diberlakukan Amerika Serikat terhadap ekspor Vietnam sejak Agustus 2025.
Lonjakan investasi itu berjalan seiring dengan meningkatnya arus perdagangan kedua negara. Dikuttip dari Reuters, impor Vietnam dari China hingga November 2025 menembus USD168 miliar, naik sekitar 30 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan melampaui total impor sepanjang 2024. Produk elektronik mendominasi hampir sepertiga impor tersebut, sebagian besar untuk kemudian diekspor kembali ke Amerika Serikat, sementara barang konsumsi seperti kendaraan dan produk pangan juga mencatatkan kenaikan signifikan.
Baca Juga: Perkuat Posisi Global, BRICS Tolak Tudingan soal Serangan terhadap Dolar AS
Di sektor teknologi, pemerintah Vietnam mulai mengambil langkah yang sebelumnya tergolong sensitif. Sejumlah proyek yang sempat tertahan karena alasan keamanan nasional kini disetujui. Huawei, misalnya, memperoleh kontrak penyediaan peralatan 5G senilai USD23 juta pada April 2025. Tak lama berselang, ZTE juga mengantongi dua kontrak antena 5G dengan nilai total lebih dari USD20 juta, hanya beberapa pekan setelah pengumuman tarif AS.
Pelonggaran kebijakan juga terlihat di sektor transportasi. Otoritas Penerbangan Sipil Vietnam pada April 2025 menyetujui pengoperasian pesawat buatan Commercial Aircraft Corporation of China (COMAC), dengan pengakuan bahwa sertifikasi desainnya setara dengan standar Amerika Serikat.
Selain itu, Majelis Nasional Vietnam merestui proyek kereta cepat senilai USD8,3 miliar yang menghubungkan perbatasan China dengan Hanoi hingga pelabuhan Hai Phong, yang sebagian pembiayaannya berasal dari pinjaman China dan ditargetkan rampung pada 2030.
Kerja sama kedua negara kini memasuki fase baru melalui transfer teknologi. Ketua Vietnam China Business Council, Steve Bui, mencatat sedikitnya 12 perusahaan China telah melakukan atau merencanakan alih teknologi ke mitra lokal Vietnam sepanjang 2025, meningkat dari nol kasus pada 2024. Salah satu contohnya adalah CNTE yang didukung CATL, bekerja sama dengan Delta E&C membangun pabrik penyimpanan baterai di Vietnam utara untuk kebutuhan ekspor mulai 2026.
Perubahan lanskap industri juga tampak di kawasan industri DEEP C di Vietnam utara. Porsi penyewa asal China meningkat menjadi sekitar 25 persen, dari hanya 10 persen pada 2019. Konsultan Dezan Shira, Dan Martin, menilai kehadiran investor China awalnya dimaksudkan sebagai lindung nilai terhadap tarif, namun kini berkembang menjadi strategi jangka panjang untuk asuransi bisnis dan ekspansi pertumbuhan.
Di pasar domestik, merek-merek China semakin agresif meraih konsumen Vietnam. Produsen kendaraan listrik Yadea, misalnya, membukukan penjualan sekitar 36 ribu unit skuter listrik dalam 10 bulan pertama 2025 dan menempati peringkat keempat nasional, bersaing langsung dengan merek lokal VinFast.
Baca Juga: Jeddah Tower Sudah Capai 80 Lantai, Burj Khalifa Segera Terkalahkan?
Di sisi lain, surplus perdagangan Vietnam dengan Amerika Serikat mencapai USD121,6 miliar atau naik 27,5 persen, sementara defisit dagang dengan China melebar 38,1 persen menjadi USD104,3 miliar. Pengamat dari ISEAS–Yusof Ishak Institute Singapura, Phan Xuan Dung, menilai kebijakan tarif AS telah memicu kekecewaan di Hanoi dan mendorong Vietnam untuk lebih mendekat ke Beijing.
Sementara itu, Alexander Vuving dari Asia Pacific Center for Security Studies mengingatkan tren tersebut berpotensi menggeser posisi Vietnam dari "negara ayunan" menjadi "negara terpecah", yang dapat memengaruhi relasinya dengan negara-negara Barat. Perkembangan ini turut menjadi perhatian kawasan, termasuk Indonesia, mengingat dinamika serupa berpotensi terjadi di negara-negara ASEAN di tengah rivalitas dagang global yang kian tajam.
Lonjakan investasi itu berjalan seiring dengan meningkatnya arus perdagangan kedua negara. Dikuttip dari Reuters, impor Vietnam dari China hingga November 2025 menembus USD168 miliar, naik sekitar 30 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan melampaui total impor sepanjang 2024. Produk elektronik mendominasi hampir sepertiga impor tersebut, sebagian besar untuk kemudian diekspor kembali ke Amerika Serikat, sementara barang konsumsi seperti kendaraan dan produk pangan juga mencatatkan kenaikan signifikan.
Baca Juga: Perkuat Posisi Global, BRICS Tolak Tudingan soal Serangan terhadap Dolar AS
Di sektor teknologi, pemerintah Vietnam mulai mengambil langkah yang sebelumnya tergolong sensitif. Sejumlah proyek yang sempat tertahan karena alasan keamanan nasional kini disetujui. Huawei, misalnya, memperoleh kontrak penyediaan peralatan 5G senilai USD23 juta pada April 2025. Tak lama berselang, ZTE juga mengantongi dua kontrak antena 5G dengan nilai total lebih dari USD20 juta, hanya beberapa pekan setelah pengumuman tarif AS.
Pelonggaran kebijakan juga terlihat di sektor transportasi. Otoritas Penerbangan Sipil Vietnam pada April 2025 menyetujui pengoperasian pesawat buatan Commercial Aircraft Corporation of China (COMAC), dengan pengakuan bahwa sertifikasi desainnya setara dengan standar Amerika Serikat.
Selain itu, Majelis Nasional Vietnam merestui proyek kereta cepat senilai USD8,3 miliar yang menghubungkan perbatasan China dengan Hanoi hingga pelabuhan Hai Phong, yang sebagian pembiayaannya berasal dari pinjaman China dan ditargetkan rampung pada 2030.
Kerja sama kedua negara kini memasuki fase baru melalui transfer teknologi. Ketua Vietnam China Business Council, Steve Bui, mencatat sedikitnya 12 perusahaan China telah melakukan atau merencanakan alih teknologi ke mitra lokal Vietnam sepanjang 2025, meningkat dari nol kasus pada 2024. Salah satu contohnya adalah CNTE yang didukung CATL, bekerja sama dengan Delta E&C membangun pabrik penyimpanan baterai di Vietnam utara untuk kebutuhan ekspor mulai 2026.
Perubahan lanskap industri juga tampak di kawasan industri DEEP C di Vietnam utara. Porsi penyewa asal China meningkat menjadi sekitar 25 persen, dari hanya 10 persen pada 2019. Konsultan Dezan Shira, Dan Martin, menilai kehadiran investor China awalnya dimaksudkan sebagai lindung nilai terhadap tarif, namun kini berkembang menjadi strategi jangka panjang untuk asuransi bisnis dan ekspansi pertumbuhan.
Di pasar domestik, merek-merek China semakin agresif meraih konsumen Vietnam. Produsen kendaraan listrik Yadea, misalnya, membukukan penjualan sekitar 36 ribu unit skuter listrik dalam 10 bulan pertama 2025 dan menempati peringkat keempat nasional, bersaing langsung dengan merek lokal VinFast.
Baca Juga: Jeddah Tower Sudah Capai 80 Lantai, Burj Khalifa Segera Terkalahkan?
Di sisi lain, surplus perdagangan Vietnam dengan Amerika Serikat mencapai USD121,6 miliar atau naik 27,5 persen, sementara defisit dagang dengan China melebar 38,1 persen menjadi USD104,3 miliar. Pengamat dari ISEAS–Yusof Ishak Institute Singapura, Phan Xuan Dung, menilai kebijakan tarif AS telah memicu kekecewaan di Hanoi dan mendorong Vietnam untuk lebih mendekat ke Beijing.
Sementara itu, Alexander Vuving dari Asia Pacific Center for Security Studies mengingatkan tren tersebut berpotensi menggeser posisi Vietnam dari "negara ayunan" menjadi "negara terpecah", yang dapat memengaruhi relasinya dengan negara-negara Barat. Perkembangan ini turut menjadi perhatian kawasan, termasuk Indonesia, mengingat dinamika serupa berpotensi terjadi di negara-negara ASEAN di tengah rivalitas dagang global yang kian tajam.
(nng)
Lihat Juga :