Zulhas Sebut Harga Beras Dunia Ikut Turun saat Indonesia Surplus 4,7 Juta Ton
Selasa, 16 Desember 2025 - 21:46 WIB
loading...
Menko Bidang Pangan, Zulkifli Hasan atau Zulhas menyatakan Indonesia telah mencapai swasembada beras dan siap mengumumkannya secara resmi pada akhir Desember 2025. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan, Zulkifli Hasan atau Zulhas menyatakan Indonesia telah mencapai swasembada beras dan siap mengumumkannya secara resmi pada akhir Desember 2025. Kondisi ini menurutnya turut berdampak signifikan terhadap penurunan harga beras di pasar global.
Zulhas mengungkapkan bahwa dalam kurun satu tahun terakhir Indonesia berhasil beralih dari negara pengimpor besar menjadi negara dengan surplus produksi beras. Baca Juga: Indonesia Catat Surplus Beras Tertinggi, AS Dihantam Krisis Pangan
"Kita tahun lalu impor beras 4,5 juta (ton), tahun ini kita surplus 4,7 juta. Di gudang Bulog sekarang 3,7 ton," sebut Zulhas dalam konferensi pers di kantornya, Selasa (16/12/2025).
Ia menjelaskan, Indonesia sebelumnya merupakan salah satu pembeli beras terbesar di dunia. Ketika Indonesia menghentikan impor, dampaknya langsung terasa terhadap harga beras global.
"Dulu waktu saya Menteri Perdagangan, itu harga beras USD650 per tonnya. Sekarang karena kita tidak belanja, beras itu dibawah USD400. Jadi pengaruh harga dunia luar biasa," ungkapnya.
Zulhas menambahkan, keberhasilan Indonesia dalam menjaga pasokan beras nasional bahkan mendapat perhatian internasional. Ia menyebutkan, Menteri Pertanian memperoleh penghargaan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atas kontribusi Indonesia dalam menurunkan harga beras dunia.
Baca Juga: Produksi Beras RI Melesat, Mentan Ungkap Banyak Negara Lain Kepo
Lebih lanjut, Zulhas menilai peningkatan produktivitas beras nasional tidak terlepas dari kebijakan deregulasi, khususnya dalam sektor pupuk. Pemerintah, katanya telah berhasil memangkas jumlah aturan yang dinilai terlalu rumit sehingga mempercepat distribusi pupuk kepada petani.
"Dikeluarkan Kepres oleh Pak Presiden, dari 140 aturan itu sekarang tinggal tiga. Jadi pupuk sampai sebelum tanam. Sebelum tanam pupuk sudah terima. Itu pengaruhnya luar biasa. Pengaruh terhadap produktivitas itu luar biasa," ucapnya.
Zulhas mengungkapkan bahwa dalam kurun satu tahun terakhir Indonesia berhasil beralih dari negara pengimpor besar menjadi negara dengan surplus produksi beras. Baca Juga: Indonesia Catat Surplus Beras Tertinggi, AS Dihantam Krisis Pangan
"Kita tahun lalu impor beras 4,5 juta (ton), tahun ini kita surplus 4,7 juta. Di gudang Bulog sekarang 3,7 ton," sebut Zulhas dalam konferensi pers di kantornya, Selasa (16/12/2025).
Ia menjelaskan, Indonesia sebelumnya merupakan salah satu pembeli beras terbesar di dunia. Ketika Indonesia menghentikan impor, dampaknya langsung terasa terhadap harga beras global.
"Dulu waktu saya Menteri Perdagangan, itu harga beras USD650 per tonnya. Sekarang karena kita tidak belanja, beras itu dibawah USD400. Jadi pengaruh harga dunia luar biasa," ungkapnya.
Zulhas menambahkan, keberhasilan Indonesia dalam menjaga pasokan beras nasional bahkan mendapat perhatian internasional. Ia menyebutkan, Menteri Pertanian memperoleh penghargaan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atas kontribusi Indonesia dalam menurunkan harga beras dunia.
Baca Juga: Produksi Beras RI Melesat, Mentan Ungkap Banyak Negara Lain Kepo
Lebih lanjut, Zulhas menilai peningkatan produktivitas beras nasional tidak terlepas dari kebijakan deregulasi, khususnya dalam sektor pupuk. Pemerintah, katanya telah berhasil memangkas jumlah aturan yang dinilai terlalu rumit sehingga mempercepat distribusi pupuk kepada petani.
"Dikeluarkan Kepres oleh Pak Presiden, dari 140 aturan itu sekarang tinggal tiga. Jadi pupuk sampai sebelum tanam. Sebelum tanam pupuk sudah terima. Itu pengaruhnya luar biasa. Pengaruh terhadap produktivitas itu luar biasa," ucapnya.
(akr)
Lihat Juga :