Menyejahterakan Hewan Ternak Lebih Baik, Model Bisnis Telur Bebas Sangkar
Selasa, 16 Desember 2025 - 22:05 WIB
loading...
Para pemangku kepentingan berkumpul di Jakarta membahas strategi meningkatkan standar kesejahteraan hewan dan mendorong percepatan transisi menuju sistem produksi telur bebas sangkar, Minggu (14/12/2025). Foto/Dok. SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Para pemangku kepentingan berkumpul di Jakarta membahas strategi meningkatkan standar kesejahteraan hewan dan mendorong percepatan transisi menuju sistem produksi telur bebas sangkar di Indonesia, Malaysia, dan Thailand, Minggu (14/12/2025). Acara tersebut menandai peluncuran laporan “Telur Bebas Sangkar: Transisi Global Menuju Model Bisnis yang Lebih Etis dan Resilien,” yang dikembangkan oleh Program Kesejahteraan Hewan dan Penelitian Sinergia Animal International.
Laporan ini mengkaji model bisnis berkelanjutan untuk pelaku usaha sektor pangan dan industri telur terkait kebutuhan untuk beralih menggunakan telur bebas sangkar. Kemudian menyoroti manfaat bagi bisnis dan kesejahteraan ayam. Baca juga: BGN Buka Suara Soal Rencana Danantara Gelontorkan Rp20 Triliun untuk Peternakan Ayam
Kepala Tim Pelaksana Kesejahteraan Hewan di Kementerian Pertanian Drh Septa Walyani menekankan perlunya pendekatan terpadu terhadap kesejahteraan hewan. Ia menggarisbawahi pentingnya konsep “One Health”. ”Menunjukkan bahwa kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan saling terkait dan harus ditingkatkan bersama untuk membangun sistem pangan yang etis, aman, dan berkelanjutan,” katanya.
Sebagian besar ayam petelur di seluruh dunia, termasuk di negara-negara Selatan Global, dipelihara dalam kandang sangkar. Sistem produksi telur yang intensif ini membuat ayam hidup dalam sangkar sempit.
”Riset ilmiah menunjukkan bahwa transisi ke sistem bebas sangkar dapat mencegah lebih dari 7.000 jam penderitaan untuk setiap ayam yang dipelihara dengan sistem bebas sangkar dibandingkan dengan kandang sempit konvensional,” ujar Fernanda Vieira, salah satu penulis laporan dan Direktur Program Kesejahteraan dan Penelitian Hewan.
Acara ini dihadiri 63 partisipan dari Indonesia, Thailand, dan Malaysia. Termasuk akademisi, perwakilan pemerintah, serta sejumlah yayasan nirlaba.
Global Program Director Humane Farm Animal Care, badan sertifikasi internasional, Luiz Mazzon menjelaskan peran penting sertifikasi dalam transisi menuju peternakan bebas sangkar, dengan menyatakan bahwa Menurutnya, sertifikasi itu penting, tetapi tidak cukup. Produsen harus berkomitmen pada perbaikan manajemen peternakan yang berkelanjutan dan mendedikasikan waktu untuk mengedukasi konsumen serta pemangku kepentingan lain dalam ekosistem.
HFAC memiliki metode untuk menilai dan memantau kesesuaian kesejahteraan hewan dan ketertelusuran, selain dari logo “Certified Humane®” yang merupakan alat komunikasi yang kuat. ”Humane Farm Animal Care hadir untuk mengelola proses transisi secara terukur, memastikan bahwa bisnis dapat berhasil mengadopsi model yang etis dan berkelanjutan,” ujarnya.
Diskusi kemudian membahas tentang peran penting produsen dan konsultan dalam mendorong perubahan kesejahteraan hewan ini. CEO PT Inti Prima Satwa Sejahtera Roby Gandawijaya serta COO dan Co-Founder Global Food Partners Jayasimha Nuggehalli berbagi banyak informasi. Mencakup konteks sejarah peternakan unggas di Indonesia hingga mengidentifikasi hambatan ekonomi dan menyajikan solusi nyata yang efektif untuk perusahaan yang ingin beralih ke sistem bebas sangkar.
Selain diskusi teknis, acara ini menampilkan kisah sukses dari perusahaan pengguna telur bebas sangkar dalam jumlah besar, Novotel Cikini. Perusahaan yang menargetkan 100% bebas sangkar pada tahun 2026 ini memberikan testimoni rinci mengenai implementasi dan dampak positifnya, membuktikan bahwa kesejahteraan hewan adalah investasi yang krusial untuk komitmen keberlanjutan.
Pertemuan diakhiri dengan diskusi terkait tantangan yang dihadapi peternakan bebas sangkar. Seperti kebutuhan, alasan ilmiah, dan cara-cara agar semua pihak dapat berkolaborasi untuk mempromosikan pertumbuhan tren bebas sangkar di Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Baca juga: Kementan Kirim 207 Truk Bantuan Logistik ke Lokasi Bencana Banjir Sumatera
Direktur Program Advokasi Kesejahteraan Hewan yang Diternakkan dari Animal Friends Jogja Elly Mangunsong mengatakan, acara tersebut menunjukkan bahwa masa depan bebas sangkar akan mungkin terwujud dengan kolaborasi kuat di antara semua pemangku kepentingan.
"Cepat atau lambat, penggunaan sangkar pasti akan berakhir. Dengan komitmen dan kolaborasi antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat, kita dapat memastikan masa depan yang lebih adil bagi hewan lebih aman bagi semua," jelasnya.
Laporan ini mengkaji model bisnis berkelanjutan untuk pelaku usaha sektor pangan dan industri telur terkait kebutuhan untuk beralih menggunakan telur bebas sangkar. Kemudian menyoroti manfaat bagi bisnis dan kesejahteraan ayam. Baca juga: BGN Buka Suara Soal Rencana Danantara Gelontorkan Rp20 Triliun untuk Peternakan Ayam
Kepala Tim Pelaksana Kesejahteraan Hewan di Kementerian Pertanian Drh Septa Walyani menekankan perlunya pendekatan terpadu terhadap kesejahteraan hewan. Ia menggarisbawahi pentingnya konsep “One Health”. ”Menunjukkan bahwa kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan saling terkait dan harus ditingkatkan bersama untuk membangun sistem pangan yang etis, aman, dan berkelanjutan,” katanya.
Sebagian besar ayam petelur di seluruh dunia, termasuk di negara-negara Selatan Global, dipelihara dalam kandang sangkar. Sistem produksi telur yang intensif ini membuat ayam hidup dalam sangkar sempit.
”Riset ilmiah menunjukkan bahwa transisi ke sistem bebas sangkar dapat mencegah lebih dari 7.000 jam penderitaan untuk setiap ayam yang dipelihara dengan sistem bebas sangkar dibandingkan dengan kandang sempit konvensional,” ujar Fernanda Vieira, salah satu penulis laporan dan Direktur Program Kesejahteraan dan Penelitian Hewan.
Acara ini dihadiri 63 partisipan dari Indonesia, Thailand, dan Malaysia. Termasuk akademisi, perwakilan pemerintah, serta sejumlah yayasan nirlaba.
Global Program Director Humane Farm Animal Care, badan sertifikasi internasional, Luiz Mazzon menjelaskan peran penting sertifikasi dalam transisi menuju peternakan bebas sangkar, dengan menyatakan bahwa Menurutnya, sertifikasi itu penting, tetapi tidak cukup. Produsen harus berkomitmen pada perbaikan manajemen peternakan yang berkelanjutan dan mendedikasikan waktu untuk mengedukasi konsumen serta pemangku kepentingan lain dalam ekosistem.
HFAC memiliki metode untuk menilai dan memantau kesesuaian kesejahteraan hewan dan ketertelusuran, selain dari logo “Certified Humane®” yang merupakan alat komunikasi yang kuat. ”Humane Farm Animal Care hadir untuk mengelola proses transisi secara terukur, memastikan bahwa bisnis dapat berhasil mengadopsi model yang etis dan berkelanjutan,” ujarnya.
Diskusi kemudian membahas tentang peran penting produsen dan konsultan dalam mendorong perubahan kesejahteraan hewan ini. CEO PT Inti Prima Satwa Sejahtera Roby Gandawijaya serta COO dan Co-Founder Global Food Partners Jayasimha Nuggehalli berbagi banyak informasi. Mencakup konteks sejarah peternakan unggas di Indonesia hingga mengidentifikasi hambatan ekonomi dan menyajikan solusi nyata yang efektif untuk perusahaan yang ingin beralih ke sistem bebas sangkar.
Selain diskusi teknis, acara ini menampilkan kisah sukses dari perusahaan pengguna telur bebas sangkar dalam jumlah besar, Novotel Cikini. Perusahaan yang menargetkan 100% bebas sangkar pada tahun 2026 ini memberikan testimoni rinci mengenai implementasi dan dampak positifnya, membuktikan bahwa kesejahteraan hewan adalah investasi yang krusial untuk komitmen keberlanjutan.
Pertemuan diakhiri dengan diskusi terkait tantangan yang dihadapi peternakan bebas sangkar. Seperti kebutuhan, alasan ilmiah, dan cara-cara agar semua pihak dapat berkolaborasi untuk mempromosikan pertumbuhan tren bebas sangkar di Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Baca juga: Kementan Kirim 207 Truk Bantuan Logistik ke Lokasi Bencana Banjir Sumatera
Direktur Program Advokasi Kesejahteraan Hewan yang Diternakkan dari Animal Friends Jogja Elly Mangunsong mengatakan, acara tersebut menunjukkan bahwa masa depan bebas sangkar akan mungkin terwujud dengan kolaborasi kuat di antara semua pemangku kepentingan.
"Cepat atau lambat, penggunaan sangkar pasti akan berakhir. Dengan komitmen dan kolaborasi antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat, kita dapat memastikan masa depan yang lebih adil bagi hewan lebih aman bagi semua," jelasnya.
(poe)
Lihat Juga :