70% Modal Asing, Proyek Hilirisasi Sepanjang 2025 Tarik Investasi Rp581 Triliun

Kamis, 15 Januari 2026 - 15:52 WIB
loading...
70% Modal Asing, Proyek...
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani melaporkan realisasi investasi di bidang hilirisasi sepanjang Januari hingga Desember 2025 mencapai Rp584,1 triliun, tumbuh 43,3%. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Roeslani melaporkan realisasi investasi di bidang hilirisasi sepanjang Januari hingga Desember 2025 mencapai Rp584,1 triliun, tumbuh 43,3% secara tahunan (year on year/YoY).

Rosan memaparkan, nilai tersebut setara dengan 30,2% dari total realisasi investasi nasional tahun 2025 yaitu Rp1.931,2 triliun. Hal ini menegaskan peran strategis hilirisasi sebagai motor utama pertumbuhan industri dan peningkatan nilai tambah di dalam negeri.

"Hilirisasi sudah mulai berjalan berjalan dengan baik, ini tidak hanya mineral, sekarang kita lebih ke perkebunan. Sekarang nilainya di sektor kehutanan, gas bumi, ini akan meningkat," ujar Rosan dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (15/1/2026).

Baca Juga: 6 Proyek Hilirisasi Rp101 Triliun Bakal Diresmikan, Rosan Ungkap Rinciannya

Meskipun saat ini, hilirisasi mineral masih menjadi kontributor terbesar dengan total investasi Rp373,1 triliun. Di dalamnya, nikel mendominasi sebesar Rp185,2 triliun, diikuti tembaga Rp65,9 triliun, bauksit Rp53,1 triliun, besi baja Rp39,2 triliun, timah Rp11,3 triliun, serta komoditas mineral lainnya seperti pasir silika, emas, perak, kobalt, mangan, batubara, dan aspal Buton sebesar Rp18,4 triliun.



Selain mineral, sektor perkebunan dan kehutanan juga mencatatkan kontribusi besar dengan total investasi Rp144,5 triliun. Investasi terbesar berasal dari kelapa sawit Rp62,8 triliun dan kayu log Rp62,2 triliun, disusul karet Rp12,9 triliun serta komoditas lain seperti pala, pinus, kelapa, kakao, dan biofuel sebesar Rp6,6 triliun.

Hilirisasi sektor ini diarahkan untuk memperkuat industri turunan seperti oleokimia, biomaterial, dan energi terbarukan. "Tahun ini saya perkirakan sektor perikanan dan perkebunan akan tumbuh lebih tinggi dapat investasi untuk hilirisasi," tambah Rosan.

Sektor minyak dan gas bumi mencatatkan realisasi investasi hilirisasi sebesar Rp60,0 triliun, yang terdiri dari minyak bumi Rp41,7 triliun dan gas bumi Rp18,3 triliun. Terutama untuk pengembangan kilang, petrokimia, dan fasilitas pengolahan lanjutan.

Sementara itu sektor perikanan dan kelautan membukukan investasi Rp6,4 triliun, mencakup pengolahan komoditas seperti ikan tuna, cakalang, tongkol, udang, rumput laut, rajungan, tilapia, hingga garam. Baca Juga: Prabowo Bertemu Rosan di Hambalang, Bahas Hilirisasi Senilai Rp100 Triliun

Dari sisi sumber pendanaan, investasi hilirisasi masih didominasi oleh Penanaman Modal Asing (PMA) dengan porsi 73,5% atau Rp429,6 triliun, sedangkan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) berkontribusi 26,5% atau Rp154,5 triliun. Hal ini menunjukkan besarnya minat investor global terhadap proyek-proyek hilirisasi, khususnya di sektor mineral dan energi.

Untuk negara asal PMA, Singapura menjadi investor terbesar dengan nilai USD7,9 miliar, diikuti Hong Kong (RRT) USD6,2 miliar, China USD4,8 miliar, Malaysia USD3,0 miliar, dan Amerika Serikat USD1,6 miliar. Masuknya investor dari Asia Timur dan Asia Tenggara menegaskan kuatnya integrasi rantai pasok industri pengolahan Indonesia dengan pasar regional dan global.

Rosan memaparkan, dari sisi wilayah, investasi hilirisasi masih terkonsentrasi di luar Pulau Jawa. Realisasi di luar Jawa mencapai Rp415,4 triliun atau 71,1%, sedangkan Pulau Jawa menyumbang Rp168,7 triliun atau 28,9%. Tingginya porsi luar Jawa mencerminkan kuatnya arus investasi di kawasan berbasis sumber daya alam, terutama di wilayah Sulawesi, Maluku, dan Kalimantan.

Sementara untuk lokasi lima besar daerah tujuan investasi hilirisasi sepanjang 2025 didominasi kawasan industri berbasis mineral. Sulawesi Tengah menempati peringkat pertama dengan Rp110,0 triliun, disusul Maluku Utara Rp74,8 triliun, Jawa Barat Rp71,4 triliun, Banten Rp41,3 triliun, dan Jawa Timur Rp36,7 triliun. Dominasi Sulawesi Tengah dan Maluku Utara tidak terlepas dari masifnya pembangunan smelter dan industri pengolahan nikel.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rosan Lapor Prabowo...
Rosan Lapor Prabowo soal Perampingan 258 BUMN, 300 Pelat Merah Lain Menyusul
Kembangkan Agroforestri,...
Kembangkan Agroforestri, MANU Perkuat Hilirisasi Hasil Hutan di Jatim
Prabowo Perintahkan...
Prabowo Perintahkan Rosan Jelaskan Kondisi Investasi RI di Istana Merdeka Besok
Tsingshan Dorong Kolaborasi...
Tsingshan Dorong Kolaborasi Hilirisasi Nikel Ramah Lingkungan di Indonesia
Mendorong Standar Baru...
Mendorong Standar Baru Hilirisasi Nikel Berkelanjutan Tengah Tuntutan Global
Debat Ketiga Calon Ketua...
Debat Ketiga Calon Ketua Hipmi Menyoroti Investasi, Hilirisasi hingga Pasar Modal
Prabowo Panggil Rosan...
Prabowo Panggil Rosan Roeslani ke Kertanegara Minggu Malam, Ada Apa?
Evita: Ekspor Satu Pintu...
Evita: Ekspor Satu Pintu Harus Jadi Instrumen Hilirisasi, Bukan Ubah Jalur Penjualan
Prabowo Panggil Purbaya...
Prabowo Panggil Purbaya hingga Bahlil ke Kertanegara, Ini yang Dibahas
Rekomendasi
Awas, AI dalam Beberapa...
Awas, AI dalam Beberapa Bulan Lagi Bisa Lumpuhkan Pemerintahan di Berbagai Negara
Disambut Antusias! 86...
Disambut Antusias! 86 SD Ikuti Audisi Liga Bintang Juara GTV di Depok
2 Peserta Latsarmil...
2 Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Kemhan: Bakal Dievaluasi Menyeluruh
Berita Terkini
Damessa Perluas Layanan...
Damessa Perluas Layanan lewat Cabang Baru di Cileungsi
SIG Sulap 60 Ton Sampah...
SIG Sulap 60 Ton Sampah Kelapa Jadi Pakan Ternak, Peternak di Aceh Hemat 60%
Kemenko PM Gelar Global...
Kemenko PM Gelar Global Talent Day, Buka Akses Kerja ke Jepang-Jerman
Selamatkan Petani, Peran...
Selamatkan Petani, Peran DSI dalam Tata Niaga Sawit Disebut Perlu Evaluasi Ulang
Purbaya Santai Tanggapi...
Purbaya Santai Tanggapi Risiko Pencucian Uang di Patriot Bond: Bisa Dipakai Bangun Ekonomi
Purbaya Buka Suara Soal...
Purbaya Buka Suara Soal Penolakan Rencana Tambah Layer Cukai Rokok
Infografis
10 Miliarder India di...
10 Miliarder India di 2025, Paling Tajir Berharta Rp1.497 Triliun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved