Eropa dan AS Saling Gebuk demi Greenland, Paket Tarif Balasan Rp1.825 Triliun Disiapkan

Rabu, 21 Januari 2026 - 11:05 WIB
loading...
Eropa dan AS Saling...
Uni Eropa (UE) sedang mempersiapkan senjata dagang terkuatnya sebagai tanggapan terhadap ancaman tarif dari Presiden AS Donald Trump terkait Greenland. Foto/Ilustrasi
A A A
JAKARTA - Uni Eropa (UE) sedang mempersiapkan senjata dagang terkuatnya sebagai tanggapan terhadap ancaman tarif dari Presiden AS Donald Trump terkait Greenland . Meski begitu UE sejauh ini masih menahan untuk menghidupkan kembali paket pembalasan senilai 93 miliar euro, sambil mengejar solusi diplomatik terakhir.

Setelah pertemuan darurat para duta besar pada akhir pekan lalu, negara-negara anggota Uni Eropa menunjukkan kesatuan yang kuat dengan Denmark dan Greenland. Akan tetapi blok tersebut memilih untuk tidak segera mengaktifkan Instrumen Anti-Pemaksaan (ACI) atau yang dijuluki sebagai 'bazoka dagang.'

Baca Juga: Mengulik Deretan Miliarder di Balik Ketertarikan Trump Caplok Greenland

Namun Uni Eropa disebutkan sudah siap untuk menghidupkan kembali paket tarif balasan senilai 93 miliar euro (USD108 miliar) atau setara Rp1.825 triliun. terhadap barang-barang AS yang sebelumnya ditangguhkan. Jika Trump memberlakukan bea baru, maka UE sial membalas kata seorang sumber yang familiar dengan pembicaraan itu kepada Euronews.



Konfrontasi memanas ketika Trump mengumumkan tarif 10%, yang bakal mulai berlaku pada 1 Februari, mendatang untuk impor dari delapan negara NATO Eropa -Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, Inggris, dan Finlandia- karena menentang usahanya untuk mengakuisisi Greenland. Bahkan Trump memperingatkan bahwa tarif tersebut akan naik menjadi 25% pada 1 Juni jika tidak ada kesepakatan.

Potensi langkah balasan Uni Eropa ke AS diyakini mempunyai dua cara yang bisa dipilih. Paling mendesak adalah paket balasan senilai 93 miliar euro, yang dipersiapkan tahun lalu sebagai respons terhadap tarif pertama Trump, namun ditunda setelah kesepakatan sementara perdagangan AS-UE tercapai musim panas lalu.

Seorang diplomat UE kepada Reuters mengatakan, paket itu bisa “secara otomatis diberlakukan kembali pada 6 Februari” jika tidak ada kesepakatan tercapai. Selain itu yang lebih penting, para pemimpin secara aktif membahas penggunaan ACI yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Baca Juga: Harta Karun Greenland Tak Mudah Digali, Ambisi Trump Terganjal Realita Alam Arktik

Diadopsi pada tahun 2023, instrumen ini memungkinkan blok tersebut untuk memberikan sanksi terhadap pemaksaan ekonomi dengan langkah-langkah seperti membatasi akses pasar, investasi, dan hak kekayaan intelektual. Instrumen ini dirancang dengan mempertimbangkan kekuatan ekonomi sebagai perlawanan.

Presiden Prancis, Emmanuel Macron dilaporkan secara tegas menyerukan pengaktifan instrumen tersebut setelah menilai ancaman Trump tidak dapat diterima. “Dia akan meminta, atas nama Prancis, pengaktifan Instrumen Anti-Paksaan,” ujarnya menurut Politico.

Presiden Dewan Eropa, Antonio Costa telah menggelar pertemuan luar biasa dengan para pemimpin UE untuk mengoordinasikan sikap bersatu. Blok tersebut "siap untuk membela diri terhadap segala bentuk paksaan," ujar Costa.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
AS-Iran Kembali Saling...
AS-Iran Kembali Saling Balas Serangan, Harga Minyak Langsung Mendidih
Genderang Perang Dagang,...
Genderang Perang Dagang, Trump Ancam Tarif 100% yang Berani Pajaki Google, Meta, dan Apple!
10 Negara dengan Biaya...
10 Negara dengan Biaya Hidup Termahal di Dunia pada 2026, Ada Tetangga Indonesia
Trump Peringatkan Iran,...
Trump Peringatkan Iran, Tarif Selat Hormuz Tak Dapat Diterima
Usai Perang dengan Iran,...
Usai Perang dengan Iran, Trump Janji Ekonomi AS Segera Bangkit
Pasokan Teluk Pulih,...
Pasokan Teluk Pulih, Harga Minyak Mentah Brent Turun ke Level Terendah dalam Empat Bulan
Penembakan di Fan Zone...
Penembakan di Fan Zone Piala Dunia 2026, Satu Orang Tewas dan Satu Kritis
Setelah Saling Serang,...
Setelah Saling Serang, AS dan Iran Sepakat Menahan Diri, Ternyata Ini Pemicunya!
Toyota dan Nissan Sebut...
Toyota dan Nissan Sebut Mobil yang Diproduksi di AS Berkualitas Lebih Rendah dari Jepang
Rekomendasi
Jerman vs Paraguay:...
Jerman vs Paraguay: Kenangan Pahit 2002 Hantui La Albirroja
Mahasiswa ITS Kembangkan...
Mahasiswa ITS Kembangkan Nanopestisida yang Tahan Hujan dan Paparan Sinar UV
Milo dan Kemenpora Perkuat...
Milo dan Kemenpora Perkuat Kolaborasi, Dorong Budaya Hidup Sehat Lewat Kemajuan Olahraga Indonesia
Berita Terkini
Lindungi Bursa Saham...
Lindungi Bursa Saham dari Ancaman Siber, ADIGSI Gandeng APEI
Tak Sekadar Nyaman,...
Tak Sekadar Nyaman, Hunian Masa Depan Kini Mengandalkan Energi Hijau
Pajak JHT Diminta Hapus,...
Pajak JHT Diminta Hapus, Begini Janji Menkeu Purbaya
Program CID Pertamina...
Program CID Pertamina Patra Niaga Ubah Tantangan Lokal Jadi Peluang Usaha
SIG Berdayakan UMKM...
SIG Berdayakan UMKM Berbasis Potensi Lokal di Tuban
Keamanan Aset Kripto...
Keamanan Aset Kripto Bukan Hanya soal Teknologi, tetapi Kesadaran Pengguna
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved