Rupiah KO Lawan Dolar AS, Modal Asing Kabur Rp27 Triliun sejak Awal Tahun

Rabu, 21 Januari 2026 - 17:58 WIB
loading...
Rupiah KO Lawan Dolar...
Tekanan jual investor asing menjadi salah satu faktor utama pelemahan nilai tukar rupiah. FOTO/dok.SindoNews
A A A
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mencatat aliran modal asing keluar (capital outflow) dari investasi portofolio mencapai USD1,6 miliar atau setara Rp27 triliun hingga 19 Januari 2026. Tekanan jual investor asing tersebut menjadi salah satu faktor utama pelemahan nilai tukar rupiah yang kini bergerak mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar AS.

Tekanan terhadap rupiah terjadi seiring meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global serta naiknya permintaan valuta asing oleh perbankan dan korporasi domestik. Kondisi tersebut mendorong meningkatnya kebutuhan likuiditas valas di dalam negeri dan menambah tekanan terhadap pergerakan rupiah.

"Juga ada faktor-faktor domestik, tentu saja tadi kami sampaikan aliran modal asing keluar juga karena juga ada kebutuhan valas yang besar dari sejumlah korporasi termasuk oleh Pertamina, PLN maupun juga Danantara dan juga persepsi pasar. Ini persepsi pasar terhadap kondisi fiskal dan juga proses pencalonan deputi gubernur," ujar Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu (21/1/2026).

Baca Juga: Bos BI Blak-blakan Rupiah Jeblok Imbas Gaduh Pencalonan Deputi Gubernur

Dari sisi global, Perry menyebut meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan dunia turut menekan mata uang negara berkembang. Faktor tersebut antara lain dipicu kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat serta eskalasi ketegangan geopolitik yang berdampak pada tertahannya aliran modal ke emerging markets dan menguatnya indeks dolar AS (DXY).

"Seperti tadi kami sampaikan faktor-faktor global itu terkait tentu saja kondisi global, baik karena geopolitik, kemudian juga kebijakan tarif Amerika, tapi juga tingginya US Treasury yield baik 2 tahun sama 3 tahun, juga lebih rendahnya bahkan kemungkinan Fed Fund Rate turun yang lebih kecil," tambahnya.



Untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, BI meningkatkan intensitas langkah stabilisasi melalui intervensi di pasar non-deliverable forward (NDF) baik di luar negeri maupun domestik (DNDF), serta di pasar spot. Kebijakan tersebut ditempuh agar volatilitas nilai tukar tetap terkendali dan sejalan dengan sasaran inflasi 2,5±1 persen pada 2026.

Baca Juga: Trump Kibarkan Bendera AS di Greenland, Ejek Para Pemimpin Dunia yang Menentangnya

Ke depan, BI berkomitmen melanjutkan langkah stabilisasi secara terukur di pasar NDF, DNDF, dan spot, sekaligus memperkuat strategi operasi moneter yang pro-pasar guna menjaga kepercayaan pelaku pasar terhadap perekonomian nasional.

"Kami akan jaga stabilitas nilai tukar rupiah dan akan membawanya untuk menguat. Didukung oleh komisi fundamental ekonomi kita yang baik termasuk imbal hasil yang menarik, inflasi yang rendah, demikian juga prospek ekonomi yang membaik," pungkas Perry.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Strategi Moneter Dikritik...
Strategi Moneter Dikritik Banggar DPR, Begini Penjelasan BI Soal Menjaga Rupiah
Rupiah Hari Ini Kurang...
Rupiah Hari Ini Kurang Bertenaga di Posisi Rp17.762 per Dolar AS, Berikut Sebabnya
Rupiah Tampil Perkasa...
Rupiah Tampil Perkasa di Awal Pekan, Hari Ini Sentuh Rp17.708 per Dolar AS
Utang Luar Negeri Indonesia...
Utang Luar Negeri Indonesia Bengkak Tembus Rp7.795 Triliun
Perkuat Rupiah, BI dan...
Perkuat Rupiah, BI dan Bank Sentral China Perdalam Penguatan Transaksi Tanpa Dolar AS
Rupiah Menguat dalam...
Rupiah Menguat dalam Sepekan, Simak Prediksi Pekan Depan
Mengapa ‘Ekonomi Solid’,...
Mengapa ‘Ekonomi Solid’, Namun Sosial-Politik Mulai Gelisah?
Sikapi Gejolak Ekonomi,...
Sikapi Gejolak Ekonomi, Partai Perindo Sodorkan Risalah Kebijakan untuk BI dan Pemerintah
Rupiah dan IHSG Menguat,...
Rupiah dan IHSG Menguat, SBY: Ada Good News untuk Kita Semua
Rekomendasi
Slopaganda: Propaganda...
Slopaganda: Propaganda Massal di Era AI
Drama di Akhir Laga,...
Drama di Akhir Laga, Ghana Tekuk Panama 1-0
Saat Messi Bersinar,...
Saat Messi Bersinar, Ronaldo Justru Tenggelam
Berita Terkini
Penunjukan Luke Thomas...
Penunjukan Luke Thomas Dinilai Mencerminkan Meritokrasi di DSI
Bukan Rp16.250, Harga...
Bukan Rp16.250, Harga Asli Pertamax Seharusnya Rp20.200 per Liter
Terbitkan Panda Bond,...
Terbitkan Panda Bond, Menkeu Purbaya Kantongi Dukungan China
Indonesia Raih Komitmen...
Indonesia Raih Komitmen Pendanaan AIIB USD17 Miliar, Bukti Kepercayaan pada Fiskal RI
Maskapai China Spring...
Maskapai China Spring Airlines Resmi Mengudara di Indonesia, Buka Rute Seminggu 3 Kali
Indo Livestock 2026...
Indo Livestock 2026 Satukan Pelaku Industri dari 30 Negara, Perkuat Daya Saing Industri Peternakan RI
Infografis
Warren Buffett Sebut...
Warren Buffett Sebut Dolar AS Sedang Menuju ke Neraka
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved