Jadi Tulang Punggung Ekonomi Nasional, UMKM Masih Kerap Hadapi Keterbatasan
Kamis, 22 Januari 2026 - 22:04 WIB
loading...
Tantangan UMKM tidak bisa diselesaikan hanya melalui akses permodalan. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) masih menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Namun di balik perannya yang strategis, pelaku UMKM kerap menghadapi berbagai keterbatasan, terutama dalam mengembangkan usaha dan menjaga keberlanjutan bisnis.
Brand Manager AdaKami, Jonathan Kriss mengatakan bahwa tantangan UMKM tidak bisa diselesaikan hanya melalui akses permodalan semata. Menurutnya, diperlukan juga pendampingan yang relevan dan sesuai dengan kebutuhan masing-masing pelaku usaha.
Jonathan mengungkap bahwa Adakami memberikan dukungan kepada UMKM dari berbagai sektor dan latar belakang di sejumlah daerah sepanjang 2025. Ia menyebut program dukungan telah menjangkau delapan pelaku usaha dari kelompok rentan hingga UMKM berbasis lingkungan dan budaya.
“Melalui program #UsahaBarengAdaKami, kami ingin mendampingi UMKM sesuai kebutuhan masing-masing, bukan sekadar memberikan akses permodalan, tetapi juga mendorong keberlanjutan usaha dan dampak sosial di komunitas mereka," kata Jonathan, Kamis (22/1/2026).
Pendampingan dalam program dilakukan melalui dukungan yang disesuaikan dengan karakter dan kebutuhan tiap usaha, dengan fokus pada penguatan kapasitas, kelancaran operasional, serta keberlanjutan bisnis agar UMKM dapat tumbuh.
Pendekatan ini tercermin pada sejumlah UMKM di sektor kuliner dan kopi yang membawa misi inklusi dan pelestarian budaya. Di Jakarta Selatan, Kopi Tuli dan Akurasa menjadi contoh usaha kopi yang membuka ruang kerja inklusif bagi penyandang tuna rungu.
Melalui program tersebut, kedua usaha berhasil mendapatkan dukungan untuk memperkuat operasional harian serta pengembangan layanan agar mampu menjangkau lebih banyak pelanggan.
Baca Juga: IKPI Gandeng Kementerian UMKM, Ajak Pelaku Usaha Perkuat Literasi Pajak
Sementara itu, di Yogyakarta, Kopi Moka Menoreh dan Kopi Selarong berfokus pada promosi kopi sekaligus budaya lokal. Dukungan program dimanfaatkan untuk memperkuat proses produksi dan penyajian, seiring upaya meningkatkan daya saing kopi lokal di pasar yang lebih luas.
Pendekatan inklusif juga diwujudkan melalui dukungan kepada Difabel Zone, komunitas perajin batik difabel. Bantuan yang diberikan dimanfaatkan untuk meningkatkan kapasitas produksi dan melengkapi sarana pendukung pameran, di tengah tingginya minat kolaborasi dan kemitraan.
Di Sumatra Barat, House of Kawa di Tanah Datar merupakan usaha pelestarian minuman tradisional Minangkabau yang telah dijalankan lintas generasi. Dukungan program dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi pengolahan, sehingga proses produksi dapat berjalan lebih konsisten.
Baca Juga: UMKM Indonesia Gulung Tikar
Sementara di Bali, Urban Compost mengelola sampah organik menjadi kompos dalam skala komunitas. Dukungan program membantu meningkatkan efisiensi proses pengolahan yang selama ini membutuhkan tenaga dan waktu besar. Selain itu, Pisangne K-Tamane didukung untuk memperkuat kapasitas usaha agrowisata yang memberdayakan petani perempuan melalui peningkatan kualitas produksi.
“Setiap pelaku UMKM memiliki cerita dan tantangan yang berbeda, namun benang merahnya tetap sama, yaitu menghadirkan dampak bagi komunitas dan lingkungan di sekitarnya. Ke depan, kami ingin terus mendampingi mereka dengan cara yang relevan agar usaha-usaha ini dapat tumbuh berkelanjutan,” tutup Jonathan.
Brand Manager AdaKami, Jonathan Kriss mengatakan bahwa tantangan UMKM tidak bisa diselesaikan hanya melalui akses permodalan semata. Menurutnya, diperlukan juga pendampingan yang relevan dan sesuai dengan kebutuhan masing-masing pelaku usaha.
Jonathan mengungkap bahwa Adakami memberikan dukungan kepada UMKM dari berbagai sektor dan latar belakang di sejumlah daerah sepanjang 2025. Ia menyebut program dukungan telah menjangkau delapan pelaku usaha dari kelompok rentan hingga UMKM berbasis lingkungan dan budaya.
“Melalui program #UsahaBarengAdaKami, kami ingin mendampingi UMKM sesuai kebutuhan masing-masing, bukan sekadar memberikan akses permodalan, tetapi juga mendorong keberlanjutan usaha dan dampak sosial di komunitas mereka," kata Jonathan, Kamis (22/1/2026).
Pendampingan dalam program dilakukan melalui dukungan yang disesuaikan dengan karakter dan kebutuhan tiap usaha, dengan fokus pada penguatan kapasitas, kelancaran operasional, serta keberlanjutan bisnis agar UMKM dapat tumbuh.
Pendekatan ini tercermin pada sejumlah UMKM di sektor kuliner dan kopi yang membawa misi inklusi dan pelestarian budaya. Di Jakarta Selatan, Kopi Tuli dan Akurasa menjadi contoh usaha kopi yang membuka ruang kerja inklusif bagi penyandang tuna rungu.
Melalui program tersebut, kedua usaha berhasil mendapatkan dukungan untuk memperkuat operasional harian serta pengembangan layanan agar mampu menjangkau lebih banyak pelanggan.
Baca Juga: IKPI Gandeng Kementerian UMKM, Ajak Pelaku Usaha Perkuat Literasi Pajak
Sementara itu, di Yogyakarta, Kopi Moka Menoreh dan Kopi Selarong berfokus pada promosi kopi sekaligus budaya lokal. Dukungan program dimanfaatkan untuk memperkuat proses produksi dan penyajian, seiring upaya meningkatkan daya saing kopi lokal di pasar yang lebih luas.
Pendekatan inklusif juga diwujudkan melalui dukungan kepada Difabel Zone, komunitas perajin batik difabel. Bantuan yang diberikan dimanfaatkan untuk meningkatkan kapasitas produksi dan melengkapi sarana pendukung pameran, di tengah tingginya minat kolaborasi dan kemitraan.
Di Sumatra Barat, House of Kawa di Tanah Datar merupakan usaha pelestarian minuman tradisional Minangkabau yang telah dijalankan lintas generasi. Dukungan program dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi pengolahan, sehingga proses produksi dapat berjalan lebih konsisten.
Baca Juga: UMKM Indonesia Gulung Tikar
Sementara di Bali, Urban Compost mengelola sampah organik menjadi kompos dalam skala komunitas. Dukungan program membantu meningkatkan efisiensi proses pengolahan yang selama ini membutuhkan tenaga dan waktu besar. Selain itu, Pisangne K-Tamane didukung untuk memperkuat kapasitas usaha agrowisata yang memberdayakan petani perempuan melalui peningkatan kualitas produksi.
“Setiap pelaku UMKM memiliki cerita dan tantangan yang berbeda, namun benang merahnya tetap sama, yaitu menghadirkan dampak bagi komunitas dan lingkungan di sekitarnya. Ke depan, kami ingin terus mendampingi mereka dengan cara yang relevan agar usaha-usaha ini dapat tumbuh berkelanjutan,” tutup Jonathan.
(nng)
Lihat Juga :