Trump Kerahkan Kapal Perang AS Menuju Iran, Harga Minyak Mendidih
Jum'at, 23 Januari 2026 - 22:20 WIB
loading...
Sejumlah Kapal perang Amerika Serikat saat melintasi Teluk Oman pada 2007. FOTO/AP/US Navy
A
A
A
JAKARTA - Harga minyak dunia kembali menguat pada Jumat (23/1), setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengerahkan kapal perang AS ke Iran. Pernyataan tersebut memicu kembali kekhawatiran pasar atas potensi eskalasi militer di kawasan Timur Tengah, khususnya terhadap Iran yang merupakan salah satu produsen minyak terbesar di Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC).
Mengutip Oilprice.com, harga minyak mentah Brent naik lebih dari 1% ke kisaran USD64,82 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat ke atas level USD60 per barel, menurut Reuters. Penguatan itu membalikkan pelemahan sekitar 2% yang terjadi sehari sebelumnya, sebelum komentar Trump disampaikan di dalam pesawat Air Force One.
"Kami memiliki armada. Kami memiliki armada besar yang bergerak ke arah sana, dan mungkin kami tidak perlu menggunakannya," kata Trump kepada wartawan saat kembali dari World Economic Forum di Davos, Swiss.
Baca Juga: Trump Batalkan Ancaman Tarif Greenland, Harga Minyak Stabil
Ia menegaskan AS mengawasi Iran dengan sangat ketat di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik. Pejaba AS mengonfirmasi bahwa kapal induk USS Abraham Lincoln bersama sejumlah kapal perusak berpeluru kendali dijadwalkan tiba di kawasan Timur Tengah dalam beberapa hari ke depan. Pengerahan tersebut langsung direspons pasar sebagai sinyal meningkatnya risiko gangguan pasokan minyak global.
Ketegangan tersebut muncul di tengah situasi domestik Iran yang masih bergejolak. Iran, produsen minyak terbesar keempat di OPEC dengan produksi harian di atas 3 juta barel, tengah menghadapi gelombang protes terparah dalam beberapa tahun terakhir. Organisasi hak asasi manusia melaporkan ribuan korban jiwa sejak demonstrasi pecah di Teheran pada akhir Desember lalu.
Meski premi geopolitik kembali menguat, sejumlah analis menilai fundamental pasar minyak global masih longgar. Data Badan Informasi Energi AS (EIA) menunjukkan persediaan minyak mentah AS meningkat 3,6 juta barel pada pekan yang berakhir 16 Januari, jauh di atas perkiraan analis yang memproyeksikan kenaikan 1,1 juta barel.
Secara mingguan, harga Brent dan WTI masih mencatat kenaikan sekitar 0,6% hingga 1,1%, meski pergerakannya sangat fluktuatif seiring perubahan retorika dan sinyal kebijakan dari Washington terkait Iran.
Baca Juga: Ini Besaran Gaji Tentara AS dan Perbandingannya dengan Rusia, China, Inggris
CEO Saudi Aramco Amin Nasser mengatakan kepada CNBC bahwa sektor energi tetap sangat tangguh dalam mengelola volatilitas apa pun yang mungkin muncul. Ia menambahkan pasar saat ini masih memiliki pasokan yang memadai dengan sumber yang terdiversifikasi.
Potensi gangguan ekspor Iran diperkirakan paling berdampak pada China, yang menyerap lebih dari 80% minyak mentah Iran. Data Kpler menunjukkan minyak Iran menyumbang sekitar 13% dari total impor minyak laut China, dengan kilang independen di Provinsi Shandong sebagai pembeli utama.
Di sisi lain, kekhawatiran pasokan juga datang dari Kazakhstan. Produksi di ladang minyak raksasa Tengiz yang dioperasikan Chevron masih terhenti pascakebakaran pada 18 Januari. JP Morgan memperkirakan gangguan dapat berlanjut hingga akhir Januari, meski analis Fitch Ratings menilai dampaknya terhadap harga global akan tetap terbatas karena pasar masih berada dalam kondisi kelebihan pasokan.
Mengutip Oilprice.com, harga minyak mentah Brent naik lebih dari 1% ke kisaran USD64,82 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat ke atas level USD60 per barel, menurut Reuters. Penguatan itu membalikkan pelemahan sekitar 2% yang terjadi sehari sebelumnya, sebelum komentar Trump disampaikan di dalam pesawat Air Force One.
"Kami memiliki armada. Kami memiliki armada besar yang bergerak ke arah sana, dan mungkin kami tidak perlu menggunakannya," kata Trump kepada wartawan saat kembali dari World Economic Forum di Davos, Swiss.
Baca Juga: Trump Batalkan Ancaman Tarif Greenland, Harga Minyak Stabil
Ia menegaskan AS mengawasi Iran dengan sangat ketat di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik. Pejaba AS mengonfirmasi bahwa kapal induk USS Abraham Lincoln bersama sejumlah kapal perusak berpeluru kendali dijadwalkan tiba di kawasan Timur Tengah dalam beberapa hari ke depan. Pengerahan tersebut langsung direspons pasar sebagai sinyal meningkatnya risiko gangguan pasokan minyak global.
Ketegangan tersebut muncul di tengah situasi domestik Iran yang masih bergejolak. Iran, produsen minyak terbesar keempat di OPEC dengan produksi harian di atas 3 juta barel, tengah menghadapi gelombang protes terparah dalam beberapa tahun terakhir. Organisasi hak asasi manusia melaporkan ribuan korban jiwa sejak demonstrasi pecah di Teheran pada akhir Desember lalu.
Meski premi geopolitik kembali menguat, sejumlah analis menilai fundamental pasar minyak global masih longgar. Data Badan Informasi Energi AS (EIA) menunjukkan persediaan minyak mentah AS meningkat 3,6 juta barel pada pekan yang berakhir 16 Januari, jauh di atas perkiraan analis yang memproyeksikan kenaikan 1,1 juta barel.
Secara mingguan, harga Brent dan WTI masih mencatat kenaikan sekitar 0,6% hingga 1,1%, meski pergerakannya sangat fluktuatif seiring perubahan retorika dan sinyal kebijakan dari Washington terkait Iran.
Baca Juga: Ini Besaran Gaji Tentara AS dan Perbandingannya dengan Rusia, China, Inggris
CEO Saudi Aramco Amin Nasser mengatakan kepada CNBC bahwa sektor energi tetap sangat tangguh dalam mengelola volatilitas apa pun yang mungkin muncul. Ia menambahkan pasar saat ini masih memiliki pasokan yang memadai dengan sumber yang terdiversifikasi.
Potensi gangguan ekspor Iran diperkirakan paling berdampak pada China, yang menyerap lebih dari 80% minyak mentah Iran. Data Kpler menunjukkan minyak Iran menyumbang sekitar 13% dari total impor minyak laut China, dengan kilang independen di Provinsi Shandong sebagai pembeli utama.
Di sisi lain, kekhawatiran pasokan juga datang dari Kazakhstan. Produksi di ladang minyak raksasa Tengiz yang dioperasikan Chevron masih terhenti pascakebakaran pada 18 Januari. JP Morgan memperkirakan gangguan dapat berlanjut hingga akhir Januari, meski analis Fitch Ratings menilai dampaknya terhadap harga global akan tetap terbatas karena pasar masih berada dalam kondisi kelebihan pasokan.
(nng)
Lihat Juga :